back to top
Sabtu, Maret 7, 2026

Mengapa Kita Perlu Membela Iran Dalam Melawan AS-Israel?

Lihat Lainnya

Robby Karman
Robby Karman
Dewan Redaksi IBTimes.ID

Tahun 2026 baru berjalan 2 bulan, namun perang dunia ketiga semakin dekat, jika tidak ada de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan terbaru terjadi saat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khamanei. Disusul dengan aksi balasan Iran ke negara-negara teluk. Hal ini membuat situasi semakin panas.

Sebagai seorang muslim, tentu kita paham sepak terjang Amerika Serikat selama ini yang selalu seenaknya memperlakukan negara lain. Sebelum serangan kepada Iran, lebih dulu tentara Amerika Serikat menculik Nicholas Maduro. Sekitar dua setengah dekade yang lalu, Amerika Serikat sukses memporak porandakan Irak dan Afghanistan.

Kita juga paham bahwa secara objektif, negara yang konsisten untuk berani berseberangan dengan Amerika Serikat adalah Iran. Hal ini menyebabkan adanya embargo ekonomi bagi negara tersebut. Sebaliknya, negara-negara muslim lainnya lebih memilih realistis pragmatis dengan bekerja sama dan menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat. Hal ini juga patut dimengerti mengingat stabilitas politik mahal harganya.

Dari fakta di atas, tentu sudah seharusnya, sebagai seorang muslim kita mengucapkan duka cita atas wafatnya Ayatullah Khamanei. Namun anehnya, alih-alih berduka cita, sebagian diantara kita justru dengan segera mengalihkan isu dari konflik geopolitik menjadi sectarian. Misalnya saat Khamanei wafat dan Iran diserang, isu yang dinaikan adalah “syiah bukan Islam”. Isu lain yang diangkat adalah posisi Iran dalam perang Suriah yang melahirkan banyak korban.

Bagi saya sikap ini tidaklah tepat. Pertama, kita harus berpikir dalam skala prioritas yang benar. Syaikh Yusuf Qaradhawi pernah menulis buku tentang Fikih Prioritas. Dalam pandangan Qaradhawi, umat Islam perlu menempatkan prioritas yang benar saat menyikapi sesuatu. Misalnya perkara ushul didahulukan dari furu’. Contoh konkretnya memberi pemahaman akidah yang benar kepada Masyarakat lebih prioritas dari perdebatan soal qunut subuh. Contoh lain adalah wajib diprioritaskan dari yang sunnah. Melunasi utang puasa Ramadhan hendaknya didahulukan disbanding yang sunnah.

Nah mari kita lihat soal peristiwa perang Iran vs Amerika Serikat ini dari kaca mata fikih prioritas. Kita asumsikan saja bahwa Amerika Serikat dan Iran sama-sama mempunyai dosa atau kesalahan. Pertanyaannya, mana yang kesalahannya lebih besar? Mana yang mendukung Israel? Dari sini saja kita seharusnya sudah bisa menjawab dengan akal sehat. Bahwa Amerika Serikat lebih layak untuk menjadi prioritas kritik dibanding Iran. Nanti seandainya Amerika Serikat sudah tidak cawe-cawe lagi di Timur Tengah, boleh saja kita kritik Iran, karena yang lebih parah sudah tidak ada.

Baca Juga:  Israel Berada di Balik Penjarahan Bantuan Kemanusiaan di Gaza

Kedua, persoalan isu yang diangkat untuk mendiskreditkan Iran ini sebenarnya debatable bahkan dari ulama zaman dahulu. Ada dua isu yang diangkat untuk mendiskreditkan Iran, isu pertama adalah isu Syiah. Kedua isu geopolitik dalam perang Suriah.

Bagi saya, soal isu sektarian harusnya bisa segera diselesaikan. Coba anda bayangkan, 14 abad umat Islam membahas persoalan sunni-syiah namun tidak selesai-selesai. Padahal energi perdebatan ini bisa dialihkan ke yang lain. Lantas bagaimana penyelesaiannya?

Saya menawarkan begini saja. Sunni dan Syiah itu mempunyai perbedaan fundamental yang memang tidak bisa ada lagi titik temunya. Bagi sunni, integritas sahabat itu harga mati, karena merupakan pondasi nash-nash keagamaan. Jika sahabat dianggap tidak berintegritas, maka akan banyak sekali hadits yang gugur dan tidak bisa dipakai. Jika sahabat memang pada zaman dahulu pernah berkonflik atau menumpahkan darah satu sama lain, maka itu bagian dari ijtihad yang berpahala.

Sebaliknya, bagi Syiah integritas sahabat perlu dilihat secara kritis. Sahabat itu bukan nabi dan keturunannya, tidak semua sahabat berintegritas, ada juga yang tidak, tentu Syiah punya seabreg dalil bagi pendapatnya ini. Keberpihakan Syiah dalam konflik politik pada masa lalu juga jelas, berpihak pada Ali bin Abi Thalib, yang artinya lawan Ali dalam konflik masa lalu menjadi “musuh” syiah juga.

Bagi saya perbedaan ini tidak sekadar perbedaan fikih, namun tidak juga mengeluarkan salah satunya dari Islam. Meskipun dalam perkembangannya, ternyata muncul aliran-aliran nyeleneh dari Syiah, yang memang bisa kita katakan sudah bukan Islam. Misalnya, ada yang menuhankan Ali, ada yang bilang bahwa Allah SWT salah memberi wahyu, harusnya kepada Ali, bukan Nabi Muhammad SAW. Ini jelas kafir, dan sudah punah dan ditolak juga oleh syiah mainstream.

Agar konflik sektarian ini bisa diakhiri, saran saya kelompok Syiah perlu memoderasi diri. Misalnya sikap kritis kepada sahabat tidak lagi dimaknai sebagai cacian dan celaan terhadap mereka. Salah satu tokoh yang saya dengar cukup moderat adalah Ayatullah Sayyid Husain Fadhlullah.

Baca Juga:  Surau Jadi Pusat Penyebaran Islam di Minangkabau Masa Dulu

Saya lihat mainstream syiah di Iran juga berpemahaman seperti ini. Sayangnya memang masih ada penceramah Syiah seperti Yasir Al Habib, yang dalam ceramahnya jelas mencela Aisyah, Abu Bakar, Umar dll. Anehnya, Yasir Al Habib ini tinggalnya di London, bukan Iran. Dai semacam Yasir Al Habib ini yang memang perlu dieliminasi karena merusak persatuan.

Dari sudut pandang Sunni pun tentu kita tidak boleh taklid atau mengekor begitu saja pemikiran Syiah karena terpesona dengan kemajuan teknologi dan keberaniannya. Biar bagaimanapun, selama berabad-abad, sunni juga punya bangunan keilmuan sendiri yang menjadi landasan untuk menolak pemahaman Syiah. Meskipun bukan berarti kita bisa sembarangan mengkafirkan Syiah. Jika syiah bersikap moderat, sunni dan bersikap moderat maka konflik bisa dihindari.

Soal isu kedua, yakni soal geopolitik ini bisa dilihat dari dua kaca mata. Kaca mata pertama adalah sebagai pendukung salah satu kubu, kaca mata kedua adalah sebagai pengamat yang berusaha untuk objektif.

Sebelum ke sana, mari kita flashback sejenak tentang Arab Spring yang terjadi sekitar satu setengah dekade yang lalu. Pada waktu itu, muncul gelombang protes terhadap para pemimpin otoriter di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang menyebabkan pergantian rezim, yang paling terkenal adalah Mesir yang menggulingkan Husni Mubarak. Untungnya negara-negara teluk relatif bisa mengantisipasi gelombang ini sehingga rezim tidak berganti.

Ada satu negara yang ternyata paling rumit Arab Springnya, yakni Suriah. Negara mayoritas penduduk sunni, namun dengan presiden dari golongan Syiah Nushairiyah yang memerintah dengan tangan besi dan otoriter, yakni Bashar Al Assad. Aksi demo merebak menuntut Bashar Al Assad untuk mundur dan presiden diganti. Sebagai pemimpin otoriter, tidak mungkin Assad mau turun. Yang ada dia justru melawan para pendemo dengan tangan militer.

Di sinilah mulai kerusuhannya. Datang milisi-milisi dari negara lain yang ikut berusaha melawan militer untuk menumbangkan Assad. Kabarnya donaturnya negara Arab teluk yang berafiliasi dengan negara barat. Iran pun ikut-ikutan di sini menjadi beking dari Assad. Terjadilah perang proxy di Suriah. Korban dari warga sipil mencapai ratusan ribu orang dari perang ini.

Baca Juga:  Mengapa Manusia Beragama?

Nah Kembali lagi ke soal kaca mata dalam menyikapi konflik ini. Kalau anda menjadi pendukung salah satu kubu, maka sudah jelas. Jika anda anti assad dan Iran, maka anda akan menganggap Assad dan Iran adalah iblis pembantai ratusan ribu manusia, termasuk Khamanei di dalamnya. Maka ketika Khamenei meninggal kemarin, anda tidak hanya tidak bersedih, namun bersyukur atas kematiannya.

Sebaliknya, jika anda pro Assad dan Iran, maka anda akan menganggap Assad dan Iran tanpa cela sama sekali, hanya membela diri saja. Yang salah adalah para mujahidin pemberontak seperti Jabhah Nushrah dan ISIS yang didanai oleh negara-negara barat. Maka siapapun yang tidak pro Iran dan Assad adalah antek-antek barat.

Saya ingin mencoba untuk keluar dari kaca mata pendukung salah satu kubu lalu berusaha objektif. Ingat, saya sengaja menggunakan kata “berusaha” karena mungkin sebagai manusia masih ada unsur subjektifnya juga.

Bagi saya, Assad dan Iran bukanlah seorang yang bersih, jelas sekali memang mereka berlumuran darah. Meskipun Namanya juga pemimpin otoriter, memang begitu karakternya. Lebih mementingkan mempertahankan kekuasaan (walau akhirnya tumbang juga) dibanding darah rakyatnya. Beda dengan Gus Dur, yang legowo untuk mengundurkan diri dibanding terjadi perpecahan bangsa.

Tapi anda yang anti Assad dan Iran juga jangan merasa suci. Tangan negara-negara teluk dan barat juga sama-sama berlumuran darah melalui milisi-milisi yang dikirim ke Suriah. Bahkan salah satu sebab kenapa Suriah sangat kacau adalah milisi-milisi ini. Kesimpulannya tidak ada yang bersih dalam soal perang suriah ini, namanya juga perang. Karena itu bagi saya kita boleh saja mengkritik Iran karena alasan ini, namun tetap kita mesti melihat secara komprehensif, bahwa cacat moral ini tidak hanya ada di Iran, namun juga di negara-negara teluk.

Berdasarkan uraian saya di atas, saya tetap pada pendirian bahwa dalam konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel ini, kita tetap pantas dan perlu berada di posisi Iran dengan segala kekurangannya. Lain halnya jika konflik sudah reda, Amerika Serikat dan Israel sudah mundur dari konflik, anda mau “gelut” sama syiah dan Iran tidak ada masalah.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru