back to top
Rabu, Oktober 28, 2026

Menghidupkan Kembali Rasa Ingin Tahu dalam Pendidikan Indonesia

Lihat Lainnya

Badrut Tamam
Badrut Tamam
Penulis lepas, Blogger dan Content Publisher #tamamtalk #mataairlerengsemeru #menitigelombangrindudipulaumukaseribu

Mengapa anak yang rajin belajar belum tentu menikmati sekolah? Mengapa pendidikan tidak cukup hanya mencetak siswa berprestasi, tapi juga harus mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan?

Pertanyaan seperti ini, dibahas dalam diskusi pendidikan Indonesia bersama Najelaa Shihab, pendiri Sekolah Cikal. Salah satu gagasan pentingnya adalah pendidikan seharusnya tidak hanya membuat anak mengetahui banyak hal, tapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan terhadap belajar, dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Prestasi Bukan Satu-satunya Ukuran

Siswa yang memperoleh nilai tinggi belum tentu menikmati proses belajar atau memiliki kemampuan berpikir kritis. Sebaliknya, anak yang sering bertanya atau kesulitan mengerjakan tugas belum tentu tidak memiliki potensi. Bisa jadi, mereka belum menemukan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Karena itu, nilai tetap penting, tapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Sekolah perlu memperhatikan kemampuan siswa bertanya, menyampaikan pendapat, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan terus belajar tanpa harus menunggu ujian.

Guru juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki motivasi. Siswa yang tidak mengerjakan tugas mungkin takut menghadapi kesulitan, sedangkan siswa yang belajar karena takut dihukum belum tentu memiliki semangat belajar jangka panjang.

Tantangannya adalah menumbuhkan motivasi intrinsik, yaitu dorongan belajar yang muncul dari dalam diri. Guru dapat menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Matematika, misalnya, dapat dipelajari melalui perhitungan keuntungan jual beli, pengelolaan uang saku, atau pengukuran luas tanah. Dengan demikian, siswa memahami alasan mereka belajar.

Menghubungkan Pengetahuan dengan Kehidupan

Pembelajaran kontekstual membantu siswa melihat manfaat pengetahuan melalui persoalan nyata. Dalam pelajaran energi listrik, misalnya, siswa dapat mengamati pemborosan listrik di sekolah, mengumpulkan data, dan menyusun kampanye hemat energi.

Baca Juga:  Ketika "Citizen Journalism" Bertemu "Nahi Munkar": Refleksi No Viral No Justice

Kegiatan tersebut tidak hanya mengembangkan pemahaman sains, tapi juga kemampuan matematika, komunikasi, dan kerja sama. Pembelajaran berbasis proyek juga melatih siswa mencari informasi, menyusun rencana, mengelola waktu, dan mengevaluasi hasil. Tapi, proyek harus memiliki tujuan jelas dan pendampingan yang tepat. Penjelasan guru, latihan, membaca buku, dan menghafal tetap diperlukan. Hal terpenting bukan banyaknya kegiatan, melainkan kebermaknaan proses belajar.

Orang Tua dan Guru Harus Berkolaborasi

Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Rumah, pertemanan, masyarakat, dan dunia digital turut membentuk perkembangan anak. Sekolah yang mendorong siswa berpikir kritis perlu didukung orang tua yang bersedia mendengarkan pertanyaan dan pendapat anak. Demikian pula, kemandirian sulit berkembang apabila orang tua selalu mengambil alih tugas anak karena takut mereka melakukan kesalahan.

Orang tua perlu menjadi mitra pendidikan melalui komunikasi terbuka dengan guru. Mereka perlu memahami bahwa perkembangan setiap anak berbeda. Kesulitan belajar harus diperhatikan dan ditindaklanjuti dengan pendampingan yang sesuai, bukan langsung dijadikan alasan untuk memberi label negatif.

Anak juga membutuhkan kesempatan mencoba, mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, dan memperbaiki kesalahan. Kegagalan dapat menjadi pengalaman belajar selama tetap berada dalam batas aman. Perlindungan terhadap kekerasan, perundungan, dan situasi berbahaya tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa.

Membangun Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan melalui larangan atau hukuman setelah kejadian. Sekolah perlu membangun budaya saling menghormati, peduli, dan berani melaporkan perilaku yang merugikan orang lain.

Baca Juga:  Indonesia Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN CUP 2026, Berikut Jadwal Lengkapnya!

Siswa dapat dilatih menjadi mediator konflik untuk membantu teman berdiskusi dan memahami sudut pandang berbeda. Namun, kasus perundungan serius atau berulang tetap harus ditangani orang dewasa yang bertanggung jawab.

Selain itu, pendidikan tidak seharusnya menyeragamkan semua anak. Setiap siswa memiliki minat, kekuatan, dan kebutuhan berbeda. Ada yang unggul dalam seni, komunikasi, organisasi, maupun kepedulian sosial.

Sekolah perlu menghargai keunikan tersebut sekaligus memastikan semua siswa menguasai kemampuan dasar, seperti membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, dan berpikir kritis. Tujuannya bukan sekadar mengungguli orang lain, melainkan mengembangkan potensi dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan. Teknologi dapat membantu riset dan eksplorasi gagasan, tetapi siswa tetap harus memeriksa sumber, menguji kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Jika siswa hanya menyalin jawaban AI, tugas mungkin selesai tanpa pemahaman. Sebaliknya, penggunaan yang tepat dapat membantu mereka membandingkan gagasan dan memperoleh umpan balik.

Karena itu, teknologi harus digunakan sesuai kebutuhan. Buku, tulisan tangan, diskusi langsung, dan penelusuran sumber tetap memiliki peran penting. Prioritas pendidikan bukan sekadar menguasai perangkat digital, melainkan membangun kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan.

Guru Juga Perlu Terus Belajar

Guru profesional tidak hanya menyelesaikan materi, tapi juga memahami tujuan pembelajaran, mengenali kebutuhan siswa, dan mengevaluasi efektivitas pengajarannya. Guru perlu bertanya apakah siswa benar-benar memahami pelajaran, siapa yang masih mengalami kesulitan, dan pendekatan apa yang perlu diperbaiki. Proses ini membutuhkan refleksi, kolaborasi, pelatihan relevan, serta dukungan kelembagaan agar guru tidak menghadapi seluruh tantangan sendirian.

Baca Juga:  Hutan Papua: Korban Diam-Diam Program Ketahanan Pangan

Sekolah-sekolah di Indonesia dapat menerapkan gagasan tersebut sesuai kondisi masing-masing. Pembelajaran dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa, disertai kesempatan berdiskusi, menghasilkan karya, dan memperoleh umpan balik yang membangun.

Pendidikan Untuk Kehidupan

Pengalaman Sekolah Cikal memberikan pengingat bahwa pendidikan memiliki tujuan lebih luas daripada memperoleh nilai tinggi, lulus ujian, atau masuk perguruan tinggi favorit. Anak perlu dibekali pengetahuan sekaligus kemampuan menggunakannya. Mereka perlu belajar bekerja sama, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas keputusan.

Perubahan bisa dimulai dari pertanyaan sederhana, apakah siswa benar-benar memahami pelajaran atau sekadar menyelesaikan tugas? Apakah orang tua membantu anak menjadi mandiri atau justru terlalu sering mengambil alih masalahnya? Apakah nilai-nilai pendidikan benar-benar hadir dalam kegiatan sehari-hari di sekolah?

Pendidikan yang baik bukan hanya mempersiapkan anak menghadapi ujian, melainkan membantu mereka mengenali potensi, mencintai proses belajar, menghadapi kesulitan dengan tangguh, dan menggunakan kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi sesama. Karena itu, sekolah yang baik bukan hanya tempat anak mempersiapkan diri menghadapi ujian, melainkan tempat mereka belajar menjalani kehidupan.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru