back to top
Sabtu, Maret 28, 2026

Muhammadiyah Dorong Pemberdayaan Difabel Lewat Ekonomi dan Kesehatan Mental

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pemberdayaan kelompok rentan, khususnya pemberdayaan difabel, melalui pendekatan yang terintegrasi antara aspek ekonomi dan kesehatan mental. Upaya ini merupakan implementasi dari amanat Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang menekankan pentingnya penguatan kelompok akar rumput secara berkelanjutan.

Salah satu langkah konkret dilakukan oleh Anggota Bidang Daerah 3T dan Komunitas Khusus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arni Surwanti. Selain berperan di Persyarikatan, Arni juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang aktif dalam program pengabdian masyarakat.

Dalam bidang ekonomi, Arni bersama tim MPM dan dosen UMY mendampingi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel di Sleman. Kelompok ini mengembangkan usaha peternakan ayam petelur berbasis kewirausahaan sosial yang mengintegrasikan aspek ekonomi, kesejahteraan hewan, dan keberlanjutan lingkungan.

“Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk pangan sehat dan beretika, usaha ini memiliki potensi untuk dikembangkan ke skala yang lebih besar,” ujar Arni.

Pendampingan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar aspek manajerial. Bersama Ahim Abdurahim, Arni memperkuat delapan aspek pengelolaan usaha, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, operasional, hingga manajemen risiko dan biosekuriti.

Melalui pendekatan audit manajemen, program ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha sekaligus memperluas dampak sosial bagi komunitas difabel.

Penguatan Kesehatan Mental Difabel

Selain ekonomi, Muhammadiyah juga memberikan perhatian serius terhadap isu kesehatan mental terutama untuk pemberdayaan difabel. Arni menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental masih membutuhkan peningkatan literasi serta akses layanan yang lebih inklusif.

Baca Juga:  Cegah Stunting Lewat Gerakan Zakat, Lazismu Raih Penghargaan dari Kemendukbangga

“Diperlukan kerangka masyarakat dan kebijakan yang inklusif agar penyandang disabilitas mental tidak mengalami diskriminasi, pasung, atau isolasi sosial,” tegasnya.

Sebagai bagian dari solusi, Arni bersama Retno Widodati mengembangkan program terapi berbasis aktivitas fisik dan psikologis. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah Equine-Assisted Therapy (EAT), yaitu terapi yang memanfaatkan interaksi antara manusia dan kuda.

Metode ini dinilai mampu meningkatkan kondisi fisik, psikologis, sosial, serta kemampuan kognitif penyandang disabilitas. Program tersebut juga melibatkan kolaborasi internasional, di antaranya dengan Prof. Ryuhei Sano dari Hosei University Jepang dan Muthusamy dari Riding for Disability Association Malaysia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan difabel tidak dapat dilakukan secara parsial. Selain penguatan ekonomi, aspek kesehatan mental menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Melalui berbagai program tersebut, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan model pemberdayaan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds