back to top
Minggu, Maret 1, 2026

Muhammadiyah Dorong Pesantren Lakukan Efisiensi dan Transisi Energi

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Program 1000 Cahaya menggelar pelatihan Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Pesantren Modern Zam Zam Muhammadiyah, Cilongok, Banyumas.

Kegiatan ini diikuti sekitar 20 pesantren dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peserta pelatihan terdiri dari mudir dan wakil mudir bidang sarana dan prasarana. Agenda ini menjadi bagian dari upaya kolektif Muhammadiyah mendorong budaya hemat energi sekaligus memperkuat kesadaran terhadap pentingnya transisi menuju energi terbarukan.

Saat ini, produksi listrik nasional masih didominasi energi fosil. Batu bara menyumbang sekitar 62–64 persen, gas 16 persen, sementara minyak dan sumber lain 1–3 persen. Energi terbarukan baru berkontribusi 15–19 persen, dengan kapasitas pembangkit berbasis energi terbarukan sekitar 14,4 persen dari total nasional 107 GW. Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025 dan 73,6 persen pada 2060.

Di tengah ancaman krisis energi dan perubahan iklim, pesantren dinilai memiliki peran strategis. Sebagai lembaga pendidikan sekaligus tempat tinggal, konsumsi energi di pesantren cukup signifikan. Efisiensi energi dapat menekan biaya operasional dan mengalihkan penghematan untuk kegiatan pendidikan maupun sosial.

Perubahan Perilaku Jadi Kunci

Wakil Direktur Program 1000 Cahaya, Sudarto Kasim, menekankan bahwa isu efisiensi energi tidak boleh dipahami secara sempit.

Baca Juga:  Asrama Pesantren di Aceh Ambruk Akibat Longsor

“Efisiensi ini jangan dimaknai dari teknologinya, tapi dari bagaimana kita mulai dari perilaku kita sebagai pengguna energi,” ujarnya di Aula Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah (28/2).

Ia menjelaskan, penghematan satu kilowatt-hour mungkin terlihat kecil. Namun jika dilakukan secara kolektif oleh warga Muhammadiyah, dampaknya akan signifikan. Sudarto juga menyinggung bahwa banyak konflik global dipicu perebutan sumber energi, sehingga kesadaran efisiensi menjadi isu strategis.

Sementara itu, Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Maskuri, mengingatkan bahwa persoalan lingkungan adalah tanggung jawab moral umat beriman.

“Oleh karena itu pelatihan ini menjadi sangat penting dalam rangka menjadikan kita lebih pedului pada lingkungan, transisi energi bersih dan efesiensi energi sebagai bagian dari ibadah dan dakwah Muhammadiyah,” tegasnya.

Maskuri merujuk Surat Ar-Rum ayat 41 dan Al-A’raf ayat 56 sebagai dasar teologis bahwa manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi.

Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan praktik nyata seperti pemanfaatan panel surya, biogas, dan sistem ramah lingkungan lainnya di pesantren. Dengan demikian, pesantren dapat menjadi teladan dalam efisiensi energi sekaligus memperkuat kemandirian dan keberlanjutan.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru