back to top
Minggu, Februari 8, 2026

Muktamar XXIV IPM: Haedar Nashir Ajak Kader Menjadi Pembaharu Berbasis Iman dan Ilmu

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya penguatan iman, keilmuan, dan semangat pembaruan dalam perjalanan kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Pesan tersebut disampaikan saat membuka Muktamar ke-XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat (6/2).

Dalam pidatonya, Haedar membuka amanat dengan refleksi personal mengenai perjalanan panjangnya di IPM. Ia mengingatkan bahwa dirinya bukan hanya Ketua Umum Muhammadiyah, tetapi juga bagian dari sejarah pelajar Muhammadiyah.

“Saya adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tapi saya juga adalah alumni IPM,” ujarnya.

Haedar menuturkan keterlibatannya di IPM sejak pertengahan 1970-an di Bandung, kemudian berlanjut di Yogyakarta hingga menjadi bagian dari Pimpinan Pusat IPM pada awal 1980-an. Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk fondasi ideologis dan kepemimpinan yang terus relevan hingga hari ini.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh organisasi otonom Muhammadiyah merupakan satu kesatuan besar dalam rumah persyarikatan. Ikatan Pelajar Muhammadiyah, bersama ortom lainnya, disebut sebagai kekuatan strategis dalam menjaga kesinambungan dakwah dan pembaruan Muhammadiyah.

“Kita perlu bangga berada dan menjadi penggerak Muhammadiyah. Dalam usia 113 tahun kita telah bergerak di seluruh sudut tanah air, sampai pelosok 3T,” kata Haedar.

IPM, Tradisi Ilmu, dan Spirit Pembaruan

Haedar menyoroti semboyan IPM “Nuun wal qolami wa maa yasthuruun” sebagai penanda kuat identitas gerakan pelajar Muhammadiyah. Menurutnya, semboyan tersebut bukan sekadar slogan, tetapi cerminan tradisi ilmu, pemikiran, dan keberanian menulis sejarah perubahan.

Baca Juga:  Pasca Muktamar, Muhammadiyah Wajib Songsong Ekonomi Society 5.0

“Kalimat Nuun Wal Qolami Wa Maa Yasthuruun memiliki spirit dasar yang luar biasa,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa iman, takwa, dan tauhid harus menjadi landasan utama gerakan IPM. Tanpa fondasi tersebut, capaian sebesar apa pun akan kehilangan makna.

“Kemajuan apapun yang kita peroleh, kejayaan apapun yang kita banggakan, akan hampa ketika iman, amal, taqwa, dan tauhid lepas dari jiwa pergerakkan kita,” tegas Haedar.

Selain dimensi spiritual, Haedar mengingatkan pentingnya kualitas ilmu, kecakapan, dan keberanian melakukan pembaruan. Menurutnya, kemajuan Indonesia hanya mungkin terwujud jika generasi muda memiliki tradisi berpikir dan inovasi yang kuat.

“Kalian jangan bertindak, berbuat, berkata, dan bergerak tanpa ilmu,” ujarnya.

Menutup amanatnya, Haedar menggambarkan kader IPM sebagai “Dahlan Muda Pembaharu” yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan, tidak hanya bagi Muhammadiyah, tetapi juga bagi bangsa dan kemanusiaan global.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru