back to top
Minggu, Februari 8, 2026

Negosiasi Iran-AS Berlangsung di Oman, Apa yang Dibahas?

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Iran. Negosiasi Iran-AS tersebut terjadi setelah delegasi dari kedua negara berpartisipasi dalam diskusi tidak langsung di Oman pada hari Jumat, (6/2/2026).

“Iran tampaknya sangat ingin membuat kesepakatan. Kita harus melihat seperti apa kesepakatan itu,” kata Trump di atas pesawat Air Force One.

Pertemuan hari Jumat di negara Teluk Arab itu merupakan putaran negosiasi pertama antara Iran dan AS sejak AS dan Israel menyerang Republik Islam tersebut tahun lalu.

Kedua pihak sejak itu sepakat untuk mengadakan diskusi lanjutan setelah berkonsultasi dengan ibu kota masing-masing, menurut sumber yang mengetahui negosiasi tersebut. Berbicara di atas pesawat Air Force One, Trump mengatakan bahwa putaran negosiasi lain akan diadakan lagi awal minggu depan. Tetapi Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan untuk pembicaraan selanjutnya.

Pembicaraan tersebut berlangsung di tengah peningkatan kekuatan militer Amerika di Timur Tengah. Terutama setelah Trump mengancam akan menyerang Iran jika menggunakan kekuatan mematikan terhadap para pengunjuk rasa atau menolak untuk menandatangani kesepakatan nuklir.

Sebelum pembicaraan, Araghci mengatakan negaranya memasuki diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat tentang tahun lalu. Setelah negosiasi selesai, Araghchi menggambarkannya sebagai awal yang baik.

Namun, bahasa yang tajam tetap ada di kedua pihak. Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “seharusnya sangat khawatir.” Sehari setelah negosiasi, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan kembali bahwa Iran akan menyerang pangkalan AS di kawasan jika Washington melaksanakan ancamannya untuk menyerang Republik Islam.

Baca Juga:  Doa Menghadapi Dunia yang Tidak Stabil

Dan terlepas dari apa yang dikatakannya sebagai diskusi yang produktif, Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa “armada besar” sedang menuju Iran dan akan segera tiba.

Pihak yang Terlibat

Dilansir dari CNN, Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff ikut serta dalam pembicaraan tersebut, bersama dengan Jared Kushner, menantu Trump. Pembicaraan tersebut bersifat tidak langsung itu dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi. Albusaidi sebelumnya telah bertemu masing-masing pihak secara terpisah.

Meskipun negosiasi bersifat tidak langsung, Araghchi mengatakan bahwa ia telah melakukan kontak langsung dengan delegasi AS dan bahwa kedua pihak saling berjabat tangan, lapor Al Jazeera. Tidak jelas berapa lama kedua pihak bertemu secara langsung.

Dalam foto-foto yang dirilis oleh kantor berita pemerintah Oman, komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, juga terlihat menghadiri pertemuan tersebut.

Negosiasi dimaksudkan untuk mengadopsi format yang mirip dengan putaran sebelumnya. Sebelum perang Iran-Israel selama 12 hari pada bulan Juni, Teheran dan Washington telah melalui lima putaran negosiasi.

Pembicaraan tersebut secara efektif berakhir setelah Israel menyerang situs nuklir dan militer Iran pada pertengahan Juni. Setelah itu AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran.

Isi Negosiasi Iran-AS

Araghchi menyampaikan kepada mitranya dari Oman sebuah rencana awal untuk “mengelola situasi saat ini” antara Iran dan AS, lapor media Iran. Pada hari Sabtu (7/2/2026), diplomat utama Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembicaraan dengan AS hanya berpusat pada program nuklir Iran tanpa membahas rudal balistik Teheran atau proksi regional.

Albusaidi kemudian menyampaikan rencana tersebut kepada delegasi AS yang dipimpin oleh Witkoff. Tanggapan Amerika akan disampaikan kepada pihak Iran selama pembicaraan, tambah media Iran.

Baca Juga:  Tak Kunjung Damai, Thailand-Kamboja Akan Berunding Rabu Pekan Ini

Lingkup pembicaraan tidak jelas. Sebelum pertemuan, para pejabat Iran bersikeras bahwa mereka hanya ingin membahas isu-isu terkait program nuklir. Masalah lain seperti program rudal balistik Iran, proksi di seluruh wilayah, dan kerusuhan domestik tidak termasuk dalam pembahasan.

AS telah menuntut serangkaian diskusi yang lebih luas yang mencakup rudal balistik, proksi bersenjata Teheran yang tetap menjadi ancaman bagi kepentingan AS dan Israel di kawasan tersebut, dan penindakan brutal Iran baru-baru ini terhadap protes.

Mengenai isu nuklir, poin utama yang menjadi perdebatan adalah tuntutan Iran untuk memperkaya uranium yang ditolak oleh AS dan sekutunya. Uranium adalah bahan bakar nuklir yang dapat digunakan untuk membuat bom jika dimurnikan hingga tingkat tinggi. Iran telah menawarkan untuk melakukan pengawasan terhadap program nuklirnya untuk memastikan bahwa program tersebut tidak digunakan sebagai senjata. Sebagai imbalannya, Iran menuntut pencabutan sanksi.

Sehari setelah negosiasi pada hari Sabtu, Araghchi mengatakan bahwa negaranya tidak akan menerima penghentian total pengayaan nuklir.

Setelah pembicaraan berakhir pada hari Jumat, AS memberlakukan sanksi baru terhadap minyak Iran dan 14 kapal yang mengangkutnya. Tanda bahwa AS ingin terus memberikan tekanan ekonomi.

“Alih-alih berinvestasi dalam kesejahteraan rakyatnya sendiri dan infrastruktur yang runtuh, rezim Iran terus mendanai aktivitas destabilisasi di seluruh dunia dan meningkatkan penindasan di dalam Iran,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott.

AS memindahkan aset militer, termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, lebih dekat ke Timur Tengah. Meningkatkan kekhawatiran bahwa prospek perang semakin meningkat.

Baca Juga:  University Kebangsaan Malaysia Belajar Penanggulangan Bencana pada MDMC

Trump mengatakan bulan lalu bahwa AS memiliki “armada” yang bergerak menuju Iran “untuk berjaga-jaga”. Menambahkan bahwa meskipun ia lebih suka “tidak melihat apa pun terjadi,” pemerintahannya mengawasi Iran dengan sangat dekat.

Pembicaraan tersebut menimbulkan harapan bahwa perang besar-besaran dapat dihindari. Namun, Trump pada hari Jumat mengatakan “armada besar” akan segera tiba di wilayah tersebut.

Negara-negara regional telah berupaya untuk meredakan ketegangan dan mencegah Trump melancarkan serangan terhadap Iran. Negara-negara tersebut mengetahui bahwa perang baru hanya akan menjerumuskan kawasan ke dalam krisis.

Teheran telah memperjelas bahwa serangan AS apa pun tidak akan ditanggapi dengan yang sama seperti yang ditunjukkan musim panas lalu setelah Israel dan AS menyerang negara tersebut.

Iran memiliki sejumlah alat yang dapat digunakan jika perang pecah dengan AS atau Israel. Diyakini memiliki ribuan rudal dan drone yang dapat menargetkan pasukan dan aset AS di Timur Tengah.

Ketika pesawat-pesawat pembom AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada musim panas lalu, Iran melancarkan serangan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Qatar. Serangan itu menargetkan Pangkalan Udara al-Udeid, instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah.

Iran juga dapat memobilisasi jaringan proksi yang luas di seluruh wilayah tersebut. Iran memiliki kemampuan untuk menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan AS, serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilalui lebih dari seperlima minyak dunia dan sebagian besar gas alam cairnya. Hal ini dapat menimbulkan guncangan di seluruh dunia.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru