back to top
Selasa, Maret 10, 2026

Perkuat Pemberdayaan Difabel dan Petani, MPM Muhammadiyah Salurkan Kado Ramadan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyalurkan program “Kado Ramadan” kepada berbagai kelompok masyarakat dampingan. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian sekaligus mendorong pemberdayaan umat.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (8/3). Agenda ini diikuti lebih dari 600 peserta yang terdiri dari kelompok dampingan serta keluarga penerima manfaat.

Program ini menyasar berbagai komunitas masyarakat, mulai dari kelompok difabel hingga komunitas petani. Sebanyak sebelas kelompok dampingan menerima bantuan, di antaranya Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), KSP Bank Difabel Ngaglik, JATAM Bejen (TelorMoe), Gerkatin, kelompok petani dan UMKM gula semut Kokap, UMKM Ngoro-oro Gunungkidul, pengolahan sampah Mardiko, komunitas asongan, hingga kelompok becak Pabelan.

Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga melalui berbagai program pendampingan.

“Beberapa dampingan-dampingan Muhammadiyah melalui MPM sudah mulai bertransformasi menjadi kelompok-kelompok yang mandiri, salah satunya adalah dibuktikan dengan kesadarannya untuk berbagi pada saudara-saudaranya yang lain dengan memberikan zakat dan sedekah yang disalurkan melalui LAZISMU PP,” kata Yamin.

Spirit Al-Ma’un dalam Gerakan Pemberdayaan

Yamin menegaskan bahwa gerakan pemberdayaan yang dilakukan MPM Muhammadiyah memiliki akar historis dalam spirit Al-Ma’un. Spirit tersebut merupakan warisan pemikiran Kiai Ahmad Dahlan yang menjadi landasan gerakan sosial Muhammadiyah.

Baca Juga:  Irfan Amalee, Kiai Perdamaian Milenial

Nilai tersebut mendorong gerakan sosial yang tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga mengangkat kemampuan mereka untuk mandiri.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat menjadi sarana untuk membangun daya angkat dan daya ungkit bagi kelompok rentan agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

MPM Muhammadiyah juga menjalankan berbagai program pemberdayaan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satu contohnya adalah penyediaan akses air bersih di Nusa Tenggara Timur serta pendampingan masyarakat Suku Warmon Kokoda di Sorong, Papua Barat.

“Sekarang mereka sudah menjadi kampung yang modern yang diakui oleh pemerintah desa sehingga mereka sekarang lebih bisa mandiri dan bertransformasi dari sebelumnya nomaden menjadi kampung yang berkemajuan,” kata Yamin.

Langkah pemberdayaan ini mendapat apresiasi dari Wakil Rektor UMY, Faris Al Fadhat. Ia menilai program tersebut menunjukkan peran nyata Muhammadiyah dalam mendampingi masyarakat dhuafa dan kelompok mustadh’afin.

“Di tengah terpaan isu ekonomi yang tak menentu dan mengancam masyarakat (lapisan bawah), gerakan Muhammadiyah melalui MPM ini jadi aksi nyata Muhammadiyah memberdayakan umat,” ujarnya.

Kegiatan Kado Ramadan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk Lazismu Pusat, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Madrasah Mu’allimin, PT Danone Indonesia, ICMI DIY, ISEI DIY, Maybank Syariah, serta Zurich Syariah.

Melalui kolaborasi tersebut, MPM Muhammadiyah berharap program pemberdayaan masyarakat dapat terus berkembang dan memberi dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan umat.

Baca Juga:  Garuda Indonesia Umrah Travel Fair (GUTF) 2025 Resmi Digelar di 3 Kota Besar Indonesia, Proyeksikan Penjualan 34 Ribu Kursi Penerbangan Umrah

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru