back to top
Kamis, Februari 12, 2026

Persepsi Diri sebagai Beban dan Krisis Psikososial Anak di NTT

Lihat Lainnya

Honing Alvianto Bana
Honing Alvianto Bana
Penulis lepas| Orang Timor| Aktivis | Petani|

Sebuah gambar diri yang tengah menangis dan sepucuk surat permohonan maaf kini menjadi artefak paling memilukan dari Ngada, NTT. Bagi YBS, bocah berusia sepuluh tahun itu, harga sebuah harapan ternyata tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Nilai tersebut setara dengan sebatang pena dan buku tulis yang gagal dibeli keluarganya sebelum ia ditemukan kaku di dahan pohon cengkih.

Kematiannya bukan sekadar kabar duka biasa, melainkan sebuah peringatan keras yang membongkar rapuhnya jaring pengaman sosial di pelosok negeri. Secara ilmiah, tindakan fatal ini dapat ditelaah melalui Interpersonal Theory of Suicide milik psikolog Thomas Joiner.

Dalam teori tersebut, muncul gangguan persepsi yang disebut dengan perceived burdensomeness. Ini adalah sebuah perasaan di mana seseorang menganggap dirinya sebagai beban bagi orang lain. YBS tidak lagi melihat dirinya sebagai anak yang dicintai, melainkan sebagai sumber kesulitan finansial yang memberatkan ibunya.

Kondisi ini berkaitan erat dengan parentifikasi emosional. Istilah ini menjelaskan kecenderungan anak-anak dalam kemiskinan untuk menyerap kecemasan orang dewasa di sekitar mereka. Mereka merasa bertanggung jawab untuk meminimalkan kehadiran atau keinginan mereka sendiri demi menjaga perasaan orang tua. Dalam sudut pandang YBS, ia mungkin merasa bahwa kematian adalah sebuah pengorbanan untuk meringankan beban hidup sang ibu.

Aspek neurobiologi juga memainkan peran penting. Berdasarkan studi dari B.J. Casey, terdapat kesenjangan kematangan antara sistem limbik yang mengelola emosi dan korteks prefrontal yang berfungsi sebagai kendali logika.

Baca Juga:  Perokok di Jalan Raya: Mengapa Pelanggar Lebih Galak Dari Korbannya?

Sistem emosi anak berkembang jauh lebih cepat, sementara kendali logikanya belum matang sempurna untuk menghadapi tekanan besar. Akibatnya, mereka cenderung merasakan keputusasaan yang absolut saat menghadapi masalah yang sebenarnya bersifat sementara. Tanpa logika yang matang, krisis kecil di mata dunia pun berubah menjadi bencana besar di mata seorang anak yang merasa sendirian.

Namun, kita tidak boleh hanya menyalahkan kondisi otak. Merujuk pada Teori Ekologi Bronfenbrenner, tragedi ini adalah bukti nyata dari kegagalan sistem di sekitar hidup korban. Lingkungan keluarga yang sulit tidak mendapatkan dukungan memadai dari sekolah sebagai institusi terdekat.

Ada pula masalah berupa bias perilaku di sekolah. Guru sering kali hanya memperhatikan siswa yang disruptif, namun luput mendeteksi siswa yang sangat diam. Padahal, diamnya seorang anak seperti YBS bisa jadi merupakan sinyal krisis yang gagal ditangkap oleh sistem pendidikan kita yang kaku.

Stigma budaya di masyarakat sering kali membuat anak merasa malu untuk menceritakan kesedihannya. Tanpa adanya jaring pengaman sosial yang aktif di tingkat desa, kemiskinan tidak hanya mematikan secara ekonomi tetapi juga menghancurkan ketahanan mental.

Tragedi ini menuntut kita untuk mulai membaca “bahasa diam” anak sebagai isyarat darurat. Kita berutang pada memori YBS untuk memastikan tidak ada lagi anak yang merasa keberadaannya adalah beban hanya karena sebuah pena.

Baca Juga:  Arya Penangsang, Sunan Kudus, dan Lingkaran Politik Dinasti

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru