back to top
Kamis, April 9, 2026

Poin-Poin Utama Kesepakatan Gencatan Senjata Iran dengan Amerika Serikat

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Perang antara AS-Israel melawan Iran telah berlangsung lebih dari sebulan. Setelah beberapa kali nyaris gagal, Washington dan Teheran akhirnya sepakat melakukan Gencatan Senjata Iran selama dua pekan. Kedua pihak akan melanjutkan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 10 April 2026.

Pakistan, Amerika Serikat, dan Iran mengumumkan kesepakatan tersebut pada Rabu (8/4/2026) dini hari WIB. Pengumuman ini keluar hanya satu jam sebelum Presiden AS Donald Trump berencana melancarkan serangan terhadap berbagai fasilitas sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, akibat Iran yang belum membuka Selat Hormuz.

Iran juga menyatakan persetujuannya. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyetujui gencatan senjata selama dua pekan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi adanya jalur aman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz selama periode tersebut.

Baik AS maupun Iran sama-sama mengklaim kemenangan dari kesepakatan Gencatan Senjata Iran ini.

“Kemenangan total dan lengkap. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang itu,” ujar Trump.

Kesepakatan Gencatan Senjata Iran tidak lepas dari peran Pakistan, China, dan Mesir. Menurut pernyataan Trump, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir memintanya menunda serangan ke Iran dengan syarat Selat Hormuz dibuka secara penuh, segera, dan aman.

“Untuk memungkinkan diplomasi berjalan sebagaimana mestinya, saya dengan sungguh-sungguh meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat selama dua minggu. Pakistan, dengan tulus, meminta Iran membuka Selat Hormuz selama dua minggu sebagai isyarat niat baik,” tulis Sharif di platform X.

Baca Juga:  Lebih Bijak dalam Menghadapi Perbedaan Awal Ramadan

Pakistan memiliki hubungan baik dengan militer Iran dan AS selama bertahun-tahun. Jenderal Munir khususnya menjaga hubungan hangat dengan pihak pertahanan China. Pengembangan persenjataan dan pertahanan Pakistan juga mendapat dukungan besar dari Beijing.

Menurut The New York Times, China mendesak Iran agar menerima gencatan senjata. Seperti Pakistan, Iran juga menerima dukungan signifikan dari China berupa dana dan teknologi. China merupakan pembeli minyak Iran terbesar.

Dalam pertemuan di Islamabad nanti, AS dan Iran berencana membahas rincian proposal yang disampaikan Iran melalui Pakistan. Sebelumnya, Washington mengajukan proposal berisi 15 poin, sementara Teheran mengajukan 10 poin.

Inti tuntutan Iran adalah agar AS menjamin penghentian serangan terhadap Iran, mencabut semua sanksi, menarik pasukan dari pangkalan di kawasan, serta membayar ganti rugi. Teheran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, hak memperkaya uranium, serta pencabutan sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Selain itu, Iran meminta agar semua pertempuran di kawasan dihentikan, termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Sebaliknya, AS menuntut Iran melakukan pelucutan total program nuklir, menyerahkan cadangan uranium, serta mengizinkan pemeriksaan IAEA tanpa batas waktu. Washington juga menghendaki Iran melucuti program rudal balistik jarak jauh.

Di samping itu, AS menuntut Iran menghentikan dukungan dana dan senjata kepada kelompok-kelompok di kawasan, mengakui Israel, serta membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Washington siap mencabut sanksi, mendukung program nuklir sipil Iran, serta membatalkan pembekuan aset Iran senilai ratusan miliar dolar di berbagai negara.

Baca Juga:  Ancaman El Nino, Gejolak Global dan Risiko Krisis Pangan di Indonesia

Proses negosiasi diperkirakan berlangsung paling lama 15 hari dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan bersama.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyambut positif kesepakatan ini.

“Untuk saat ini, dunia telah menjauh dari bencana, tetapi tidak ada ruang untuk berpuas diri. Negosiasi serius sekarang diperlukan untuk perdamaian yang langgeng,” tulisnya di media sosial.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. Ia mendorong semua pihak bekerja sama menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Yvonne Mewengkang di Jakarta pada Rabu (8/4/2026) menyatakan bahwa Indonesia menyambut baik kesepakatan Gencatan Senjata Iran AS-Iran.

“Indonesia melihat momentum ini sebagai awal yang positif dan mendorong agar momentum ini dimanfaatkan secara optimal untuk memajukan penyelesaian damai yang berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mendesak Presiden Trump agar tidak menghentikan serangan ke Iran. Namun, Trump telah menelepon Netanyahu untuk memastikan Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Sejak Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak dan gas dunia mengalami gejolak yang sangat tinggi. Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak global dari negara-negara Teluk.

Dunia menyambut positif kesepakatan Gencatan Senjata Iran ini. Harga minyak mentah Brent turun 13,2 persen menjadi 94,86 dolar AS per barel, sementara harga WTI rontok 14 persen menjadi 97,12 dolar AS per barel.

Baca Juga:  Mengapa Nadiem Dituding Rugikan Negara Triliunan?

Kesepakatan ini juga mengindikasikan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Menteri Luar Negeri Araghchi mengonfirmasi adanya jalur aman selama dua minggu ke depan, meskipun Iran tetap memegang kendali atas selat tersebut.

Sebelumnya, Iran telah mengizinkan tanker dari beberapa negara untuk melintas, tetapi kapal-kapal yang terkait dengan AS, Israel, atau pihak yang diduga mendukung serangan terhadap Iran masih dilarang melintas.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru