back to top
Rabu, Februari 11, 2026

Puasa sebagai Disiplin Jiwa dan Solidaritas Sosial dalam Perspektif Islam

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ibadah puasa (ash-shiyam) kerap dipahami sebagai praktik spiritual individual. Namun dalam perspektif Islam, puasa memiliki dimensi yang jauh lebih luas, mencakup kesehatan, pembinaan karakter, hingga penguatan solidaritas sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kemaslahatan puasa yang menyentuh aspek lahir dan batin manusia.

Dalam literatur Islam, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga. Menukil pemikiran Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam, salah satu tujuan utama puasa adalah tazkiyah al-nafs, yakni proses penyucian jiwa.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. K.H. Muhammad Saad Ibrahim, M.A., menjelaskan bahwa kata nafs dalam konteks tersebut dimaknai sebagai jiwa yang bermuara pada ruh. Menurutnya, ruh pada hakikatnya telah bersih sejak awal penciptaan.

“Kalau ruh itu sendiri, sudah bersih,” ujarnya.

Namun, ketika ruh ditiupkan ke dalam tubuh manusia, ia menyatu dengan jasad yang berasal dari unsur tanah. Di titik inilah manusia menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesucian jiwa.

Menjaga Jiwa dari Belenggu Duniawi

Saad mengingatkan bahwa dominasi unsur materi dalam kehidupan berpotensi menyeret manusia pada keterikatan berlebihan terhadap hal-hal duniawi. Jika jiwa terlalu tersandera oleh aksesori kehidupan, maka nilai-nilai ruhani perlahan akan memudar.

“Jangan kemudian jiwa kita tersandera oleh hal-hal yang berhubungan aksesesoris (duniawi). Kalau jiwa kita tersandera oleh yang aksesesoris itu, jiwa kita hilang, justru menjadi kotor,” jelasnya.

Baca Juga:  Ini Doa dan Dzikir Setelah Shalat Witir

Karena itu, puasa berperan sebagai sarana penyempurnaan penghambaan kepada Allah. Melalui pengendalian diri, umat Islam diajak untuk menempatkan dimensi ruhani di atas kepentingan materi.

“Jangan tersandera,” tegas Saad dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember, Ahad (8/2).

Ia menekankan pentingnya prinsip i’la’u lil-janibirruhi ‘alal-janibil-maddiyi lil-insan, yakni mendahulukan aspek spiritual dibandingkan aspek fisik dan material. Pengelolaan jiwa yang baik, menurutnya, akan melahirkan kesabaran dan keteguhan moral.

“Sehingga ini pentingnya mengelola jiwa kita. Nanti bisa melahirkan kesabaran dan sebagainya,” imbuhnya.

Puasa, Pendidikan Kehendak dan Empati Sosial

Selain dimensi spiritual, Saad menyoroti ibadah shiyam sebagai proses pendidikan kehendak (tarbiyatun lil iradah). Puasa melatih manusia untuk memiliki kemauan yang kuat sejak usia dini.

“Ketika kita masih anak-anak, diajar untuk punya iradah (kemauan) berpuasa,” ujar Saad.

Lebih fundamental lagi, puasa mengandung hikmah sosial (hikmah ijtima’iyyah), terutama pada bulan Ramadhan. Puasa mendidik umat Islam agar merasakan penderitaan fakir dan miskin.

“Menumbuhkan dalam jiwa rasa penderitaan orang fakir dan miskin,” tuturnya.

Melalui pengalaman lapar dan dahaga, umat Islam dilatih untuk memiliki kepekaan sosial dan empati mendalam. “Empati itu yang tertinggi,” tegas Saad.

Pada akhirnya, puasa mengantarkan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah dan mencapai derajat takwa, menjadikannya pribadi muttaqin yang utuh secara spiritual dan sosial.

Baca Juga:  PP Muhammadiyah–DPP LDII Perkuat Silaturahmi, Dorong Sinergi Ormas Islam untuk Umat dan Bangsa

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru