back to top
Sabtu, Februari 28, 2026

Rohimi Zamzam: Tauhid Harus Menggerakkan Perubahan Sosial

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Rohimi Zamzam, menegaskan bahwa tauhid dalam perspektif Muhammadiyah bukan sekadar ajaran teologis yang bersifat normatif. Tauhid, menurutnya, merupakan landasan ideologis yang harus menggerakkan seluruh dimensi kehidupan, mulai dari sosial, pendidikan, hingga dakwah.

Penegasan tersebut disampaikan Rohimi dalam Pengkajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Kamis (26/2).

Ia menjelaskan bahwa sebagai fondasi teologis, tauhid tidak boleh berhenti pada ranah keyakinan pribadi. Nilai tersebut harus melahirkan amal saleh dan kebajikan nyata yang berdampak bagi masyarakat, termasuk melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

“Sehingga redundant, iman itu selalu disandingkan dengan amal salih. Untuk apa?, supaya menunjukkan tauhid itu harus produktif,” katanya.

Tauhid dan Spirit Pemberdayaan Perempuan

Rohimi menuturkan, pemahaman tauhid yang produktif inilah yang menjadi pijakan gerakan Nyai Siti Walidah dalam memberdayakan perempuan. Dalam sejarahnya, perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai objek dakwah, melainkan sebagai subjek perubahan sosial.

Langkah yang ditempuh Nyai Walidah, lanjutnya, tergolong progresif pada masanya. Ia hidup di tengah kultur patriarki dan situasi kolonial Belanda yang membatasi akses pendidikan, bahkan bagi laki-laki sekalipun.

“Di tengah kultur patriarki waktu itu beliau mengajarkan baca Al Qur’an, membuka pengajian bagi perempuan dan anak, mendorong perempuan dari kungkungan domestik menuju pendidikan dan aktivitas sosial,” ungkapnya.

Baca Juga:  Melawan Ekstremisme dengan Madrasah Perempuan Berkemajuan

Rohimi menilai, semangat juang ‘Aisyiyah yang terus bertahan hingga kini tidak lepas dari pemahaman akidah yang diterjemahkan dalam kerja-kerja nyata. Tauhid menjadi energi ideologis yang melahirkan gerakan pembaruan, bukan sekadar slogan keagamaan.

Ia juga menyebut ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam modern pertama di Indonesia, bahkan termasuk yang tertua di dunia dan masih eksis hingga saat ini. Keberadaan ‘Aisyiyah, menurutnya, menjadi bukti bahwa akidahmampu membongkar stereotip gender yang membatasi peran perempuan di ruang domestik.

Bagi Rohimi, tauhid murni sebagaimana dipahami Muhammadiyah menuntut keberanian menghadirkan perubahan. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam amal, pendidikan, dan dakwah yang membebaskan serta memberdayakan.

Melalui pengkajian Ramadan ini, ia mengajak seluruh kader untuk terus mengaktualisasikan tauhid dalam kehidupan nyata agar melahirkan masyarakat yang berkeadaban dan berkemajuan.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru