back to top
Sabtu, Februari 28, 2026

Saad Ibrahim: Tauhid sebagai Fondasi Kemajuan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim menyebutkan bahwa tauhid adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan berkemajuan. Penegasan itu ia sampaikan dalam agenda Pengkajian Ramadan 1447 H yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Dalam pemaparannya, Saad menerangkan bahwa ajaran tauhid dalam Islam menekankan ketergantungan total kepada Allah SWT. Namun, ketergantungan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai sikap pasif. Sebaliknya, ia harus diwujudkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh dan kerja nyata.

“Dengan berlandaskan tauhid, kemajuan peradaban akan diperoleh. Tauhid tidak hanya dimaknai sebagai pengakuan keesaan Allah, tetapi juga sebagai energi spiritual yang mendorong kemajuan umat,” ujarnya dalam agenda Rabu, (24/2).

Saad menyinggung peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai ilustrasi kemajuan yang melampaui batas rasionalitas manusia. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, Nabi Muhammad Saw menempuh perjalanan dari Makkah menuju Palestina, dari Masjid Al-Aqsa hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Baginya, peristiwa tersebut merupakan simbol bahwa sejak awal Islam telah membawa spirit kemajuan.

“Dalam waktu kurang dari satu malam (8 jam), perjalanan yang secara logika manusia sangat jauh itu bisa terjadi. Ini memberi pesan bahwa Islam memiliki pandangan yang berkemajuan,” jelasnya.

Lebih jauh, Saad menegaskan bahwa Al-Qur’an memuat nilai-nilai progresif yang mendorong umat Islam untuk terus bertumbuh dan berkembang. Ia merujuk pada Surat Al-Ikhlas, terutama pada makna As-Samad, yang menunjukkan bahwa Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.

Baca Juga:  Muhammadiyah Dorong Pemulihan Mental Pascabencana, 600 Guru dan Siswa Sumatera Ikuti Pelatihan Psikososial

“Tauhid dalam Muhammadiyah tidak hanya ‘Qul huwallahu ahad’, tetapi juga ‘As-Samad’. Artinya, Allah adalah tempat bergantung yang sempurna. Dari sinilah semangat ikhtiar dan tawakal perlu dijalankan secara bersamaan,” terang Saad.

Menurutnya, perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam harus senantiasa berpijak pada keseimbangan antara upaya maksimal dan sikap berserah diri kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa ikhtiar tanpa tawakal berpotensi melahirkan kesombongan, sedangkan tawakal tanpa ikhtiar dapat menimbulkan kemalasan.

Pengkajian Ramadan 1447 H di UMT pun menjadi ruang refleksi, baik secara spiritual maupun intelektual, bagi warga Muhammadiyah untuk terus menyinergikan nilai-nilai tauhid dengan semangat pembaruan serta kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru