IBTimes.ID – Kepadatan aktivitas dan intensitas interaksi antarsantri di lingkungan pondok pesantren menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam upaya mencegah penyebaran tuberkulosis (TBC). Untuk mengantisipasi risiko penularan di lingkungan komunal tersebut, Kemenkes menggulirkan Program Pesantren Bebas Tuberkulosis yang dipadukan dengan pelaksanaan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara nasional.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, pemeriksaan dan penelusuran kasus secara rutin di lingkungan dengan tingkat interaksi tinggi perlu dipercepat. Menurutnya, pelaksanaan CKG langsung di lingkungan asrama pesantren dapat menjadi sarana deteksi dini sekaligus meningkatkan kesadaran santri terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
“Melalui program jemput bola di pesantren ini, kita ingin membangun benteng pertahanan dini. Tidak ada waktu untuk menunda, setiap kasus yang berhasil kita temukan dan obati secara gratis adalah langkah konkret menyelamatkan nyawa generasi muda kita,” katanya dikutip Republika pada Rabu.
Melalui kegiatan CKG tersebut, ribuan santri memperoleh berbagai pemeriksaan kesehatan, meliputi pengukuran tanda-tanda vital, penilaian status gizi, serta skrining kesehatan paru-paru dengan dukungan teknologi medis. Pelaksanaan program ini juga melibatkan kolaborasi tiga kementerian untuk memastikan proses penanganan berjalan terkoordinasi. Santri yang menunjukkan indikasi gejala TBC akan diarahkan ke puskesmas terdekat guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan pendampingan pengobatan secara gratis hingga dinyatakan sembuh.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan penemuan kasus TBC aktif di seluruh Indonesia sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi penyakit tersebut. Salah satu wilayah yang turut menjadi sasaran penguatan deteksi adalah Sumatera Utara, sebagai langkah memperluas jangkauan penemuan kasus dan menekan potensi penyebaran.
“Tahun ini kita melakukan upaya luar biasa. Kita menargetkan penemuan kasus TBC secara nasional dapat ditingkatkan hingga 90 persen pada tahun 2026 ini. Lingkungan pesantren yang sehat dan santri yang kuat adalah fondasi utama kita dalam mempercepat pemutusan rantai penularan di Tanah Air,” ujar Benjamin.
Peluncuran program Pesantren Bebas TBC secara resmi dilaksanakan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Rabu (4/11/2026). Program ini merupakan hasil kerja sama lintas kementerian yang melibatkan Kemenkes, Kementerian Agama (Kemenag), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Setelah diluncurkan di Deli Serdang, pemerintah berencana memperluas penerapan model CKG terintegrasi tersebut ke berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia. Perluasan program ini diharapkan dapat menjamin akses pelayanan kesehatan yang lebih merata bagi kalangan santri sekaligus mendukung percepatan terwujudnya Indonesia Bebas TBC.
“TBC bukan sekadar masalah medis, melainkan tantangan besar yang berkaitan erat dengan faktor sosial, asupan gizi, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal,” pungkasnya.
(MS)


