Teknologi sedang menjadi semakin pintar. Pertanyaannya, apakah manusia juga sedang menjadi semakin bijaksana?. Keganjilan itu semakin tampak di ruang digital. Kita hidup pada masa ketika ilmu pengetahuan tidak pernah semudah ini dijangkau. Jurnal, buku, kuliah, ceramah, dan berbagai pandangan dapat hadir hanya melalui sebuah layar. Namun, kelimpahan pengetahuan tidak otomatis berbanding lurus dengan kedewasaan. Tidak sulit menemukan orang-orang yang terdidik dan memiliki kemampuan argumentasi justru terjebak dalam perang komentar.
Perbedaan pandangan berubah menjadi saling sindir, koreksi berubah menjadi penghukuman, dan diskusi berubah menjadi perebutan kemenangan. Masalahnya bukan semata-mata bahwa manusia semakin banyak berbicara, tetapi bahwa kemampuan berbicara tidak selalu disertai kemampuan menahan diri. Teknologi memperbesar jangkauan suara manusia, tetapi tidak otomatis memperbesar kebijaksanaannya. Manusia dapat semakin berilmu tanpa selalu menjadi semakin matang secara moral.
Dari sinilah pertanyaan tentang hubungan ilmu dan akhlak menjadi penting. Taha Abdurrahman, filsuf Maroko yang banyak mengkritik fondasi etis modernitas, menawarkan cara pandang yang menarik. Dalam Su’al al-Akhlaq, persoalan etika tidak ditempatkan sebagai pelengkap setelah ilmu dan rasionalitas, melainkan sebagai sesuatu yang melekat pada tindakan manusia.
Wael B. Hallaq dalam Reforming Modernity membaca proyek Taha sebagai kritik terhadap modernitas yang kehilangan orientasi etisnya. Taha tidak menolak akal, ilmu pengetahuan, atau kemajuan. Ia justru mempertanyakan apa yang terjadi ketika semua itu dipisahkan dari tanggung jawab moral. Dengan kata lain, manusia tidak cukup ditanya apakah ia tahu, tetapi juga apa yang ia lakukan dengan pengetahuannya. Sebab pengetahuan yang tidak mengubah cara manusia bertindak hanya akan memperbesar kemampuan, bukan memperdalam kemanusiaan.
Gagasan ini bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam lingkungan intelektual Muhammadiyah. Pada Januari 2023, Halaqah Muhammadiyah untuk Kajian Modernitas dan Tradisi (HIKMAT) mengkaji Reforming Modernity karya Wael B. Hallaq sebagai pintu masuk untuk membaca kritik Taha Abdurrahman terhadap modernisme Barat. Dalam forum tersebut, Muhamad Rofiq Muzakkir juga menekankan pentingnya pembacaan turats untuk mempertemukan warisan intelektual Islam dengan persoalan masa depan.
Fakta ini penting dicatat bukan untuk mengatakan bahwa Taha telah menjadi arus utama pemikiran Muhammadiyah, melainkan untuk menunjukkan bahwa pertanyaan tentang modernitas dan arah kemajuan memang telah masuk ke dalam percakapan intelektual kader mudanya. Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi lebih dekat dengan kita: berkemajuan untuk apa, dan manusia macam apa yang hendak dibentuk oleh kemajuan itu?
Karena itu, Society 5.0 layak dibaca dengan sedikit kecurigaan intelektual. Bukan karena gagasan human-centric itu keliru, melainkan karena kata “manusia” terlalu penting untuk dibiarkan berhenti sebagai slogan. Manusia seperti apa yang menjadi pusat? Manusia sebagai pengguna teknologi yang semakin nyaman, sehat, produktif, dan efisien? Atau manusia sebagai makhluk moral yang memiliki tanggung jawab terhadap sesama, alam, dan Tuhan? Sebuah teknologi dapat memperbesar daya manusia jauh lebih cepat daripada memperbesar kedewasaan manusia.
AI dapat membantu seseorang mencari informasi, menyusun tulisan, membuat gambar, dan mengolah data dalam hitungan detik. Namun AI tidak menentukan apakah kemampuan tersebut digunakan untuk mendidik atau memanipulasi, menyembuhkan atau menyakiti, mendekatkan manusia atau mempermalukan manusia lain. Karena itu, tantangan Society 5.0 bukan hanya membuat teknologi semakin manusiawi, tetapi memastikan manusia yang menggunakan teknologi itu tetap manusiawi.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin mendesak di ruang pendidikan. Selama bertahun-tahun, sekolah dibangun dengan pola yang relatif sederhana: guru memiliki pengetahuan, lalu pengetahuan disampaikan kepada peserta didik. Kehadiran AI mengguncang pola tersebut. Mesin kini mampu mencari informasi, merangkum bacaan, menerjemahkan bahasa, menyusun teks, bahkan membantu proses pemecahan masalah.
UNESCO karena itu tidak menempatkan kompetensi AI sebatas kemampuan teknis. Human-centred mindset, etika AI, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis juga menjadi bagian penting dari kompetensi peserta didik. Pertanyaan pendidikan pun semestinya bergeser. Bukan hanya “apa yang harus diketahui siswa?”, tetapi juga “apa yang harus dilakukan siswa dengan apa yang diketahuinya?”
Sayangnya, perubahan ini dapat membawa pendidikan ke dalam jebakan baru: formalisme digital. Sekolah dapat sibuk memperbanyak perangkat, aplikasi, platform pembelajaran, dan berbagai indikator digitalisasi, lalu menganggap dirinya telah bergerak maju. Padahal kecanggihan sarana tidak dengan sendirinya menentukan kedalaman pendidikan.
Kerangka UNESCO untuk guru juga menempatkan etika, human agency, tanggung jawab, dan kemampuan menggunakan AI secara bermakna sebagai bagian dari kompetensi yang diperlukan dalam pendidikan. Seorang siswa yang mampu menggunakan AI belum tentu terdidik dengan baik. Ia baru memiliki kemampuan teknis. Pendidikan menemukan maknanya ketika siswa mampu menimbang: apakah penggunaan AI ini jujur? Apakah ia membantu saya belajar atau justru menggantikan proses berpikir saya? Apakah teknologi ini membawa maslahat atau memindahkan mudarat kepada orang lain?
Karena itu, kita membutuhkan sebuah modernitas akhlaki atau kemodernan yang tidak memusuhi teknologi, tetapi juga tidak menyerahkan arah kehidupan kepada teknologi. Istilah ini saya gunakan bukan untuk mengajukan penolakan terhadap kemajuan, melainkan untuk menegaskan bahwa kemajuan membutuhkan orientasi moral. Pendidik tidak cukup menjadi pengantar pengetahuan. ia perlu menjadi pembimbing manusia.
Peserta didik perlu dilatih untuk mempertanyakan bukan hanya apa yang dapat dilakukan teknologi, tetapi apa yang patut dilakukan dengannya. Di sinilah pendidikan memiliki pekerjaan yang sulit digantikan mesin: membentuk kebiasaan menimbang, menahan diri, menghormati perbedaan, mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab terhadap akibat dari pilihan. Akhlak, dengan demikian, bukan mata pelajaran tambahan di pinggir kurikulum, melainkan orientasi yang memberi arah kepada seluruh penggunaan ilmu.
Pada akhirnya, Indonesia tidak perlu terjebak dalam perlombaan angka: 4.0, 5.0, atau kelak 6.0. Angka-angka itu berguna untuk menandai perkembangan teknologi, tetapi tidak cukup untuk mengukur kualitas manusia yang hidup di dalamnya. Kita dapat membangun sekolah yang semakin terkoneksi, menghadirkan AI di ruang kelas, dan menghasilkan generasi yang semakin cakap secara digital.
Tetapi jika kemampuan itu tidak disertai kemampuan membedakan yang benar dari yang sekadar mungkin dilakukan, kemajuan dapat berubah menjadi perluasan daya rusak. Society 5.0 menjanjikan teknologi yang lebih berpusat pada manusia. Pendidikan Indonesia harus memastikan bahwa manusia yang menjadi pusat itu bukan hanya manusia yang semakin cerdas dan efisien, tetapi juga semakin bertanggung jawab. Yang perlu kita tagih bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan ruh akhlak yang membuat kemajuan itu layak disebut kemajuan.
Barangkali pertanyaan pendidikan Indonesia perlu dikembalikan kepada sesuatu yang paling mendasar, manusia seperti apa yang hendak kita lahirkan? Bukan hanya manusia yang mampu menguasai teknologi, tetapi manusia yang mampu menentukan arah penggunaannya. Bukan sekadar manusia yang dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi manusia yang tahu kapan harus bertanya, kapan harus meragukan, dan kapan harus menahan diri.
Bagi pendidik, tantangannya bukan mengikuti setiap teknologi baru dengan tergesa-gesa, melainkan memastikan bahwa pendidikan tidak kehilangan jiwa ketika teknologinya berubah. Bagi generasi muda, tugasnya bukan menjauhi kemajuan, tetapi memasuki kemajuan itu dengan kesadaran etis. Sebab persoalan masa depan bukan apakah manusia akan menjadi semakin cerdas dengan bantuan mesin. Persoalannya adalah apakah manusia akan menjadi semakin bijaksana ketika kecerdasannya diperbesar oleh mesin. Sebelum kita sibuk menyiapkan manusia untuk hidup berdampingan dengan mesin, mungkin kita perlu terlebih dahulu memastikan bahwa manusia masih mampu hidup dengan akhlaknya sendiri.
Editor: Anas Nashuha


