back to top
Jumat, November 6, 2026

TEP UNAIR Latih Peternak Transmigran di Prafi Olah Pelepah Sawit Jadi Pakan Sapi

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Peternak sapi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, masih kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternak. Sementara itu, limbah pelepah kelapa sawit di kawasan tersebut belum banyak dimanfaatkan. Padahal, pelepah itu bisa diolah menjadi pakan alternatif dan membantu peternak menekan biaya pemeliharaan sapi.

Melihat kondisi itu, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (TEP UNAIR) menggelar pelatihan pembuatan silase dari pelepah sawit. Pesertanya adalah para peternak transmigran setempat. Dalam pelatihan ini, mereka belajar mengubah limbah perkebunan menjadi pakan sapi yang bisa disimpan lama.

Para peternak menyambut baik kegiatan tersebut. Salah satunya Misno, peternak di SP4 Prafi. Ia menilai program ini memberi jalan bagi warga untuk memanfaatkan pelepah sawit yang selama ini terbuang.

“Saya senang dengan adanya program ini karena dapat memanfaatkan pelepah sawit. Menurut saya, program ini sangat bagus,” ujar Misno sebagaimana dilaporkan Kementerian Transmigrasi pada Kamis (29/10/26).

Meski begitu, Misno mengakui masih ada kendala soal tenaga. “Akan tetapi, untuk proses berkelanjutan, kami masih kekurangan orang-orang yang membantu dalam proses pembuatan silase,” tuturnya.

Silase pelepah sawit meringankan pekerjaan peternak. Mereka tidak perlu lagi mencari rumput setiap hari. Setelah difermentasi selama 21 hari, pelepah bisa disimpan sebagai cadangan pakan. Cadangan ini menjadi andalan saat rumput sulit didapat karena hujan atau kemarau panjang.

Baca Juga:  Gus Dur Selalu Ada di Hati Rakyat Papua

Langkah TEP UNAIR ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal ketahanan pangan. Dalam Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo pada 24 Juni 2026, Prabowo meminta produksi pangan nasional dijaga dan ditingkatkan. Caranya lewat peningkatan hasil produksi, perluasan area produksi, serta hilirisasi.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono juga menyoroti peran kampus dalam pembangunan. Ia menekankan perlunya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan,” kata AHY di Jakarta, 29 Juli 2026 lalu.

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, program Transmigrasi Patriot harus membawa ilmu pengetahuan dan teknologi langsung ke tengah warga. Dengan cara itu, kawasan transmigrasi bisa berkembang dan merasakan manfaatnya.

“Transmigrasi Patriot bukanlah program elite. Ini cara negara memastikan ilmu pengetahuan hadir di lapangan, bekerja bersama rakyat, dan menghasilkan nilai ekonomi nyata, bukan hanya laporan akademik,” ujarnya pada 10 Februari 2026 lalu.

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru