Artikel ini adalah ulasan buku Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States karya Trita Parsi. Baca seri pertama tulisan ini di sini.
Sementara itu, titik balik Iran kembali melancarkan kritik terbuka terhadap Israel adalah tahun 1993 ketika ditandatanganinya Oslo Agreement pertama di Gedung Putih. Pada Maret 1994, mayoritas anggota parlemen Iran menandatangani pernyataan yang “menekankan perlunya menghilangkan Israel dari peta dunia”. Mereka berargumen bahwa menyelesaikan isu Palestina adalah mustahil kecuali dengan kekuatan militer.
Namun kebencian ini juga tidak semata-mata karena kepentingan Palestina. Menurut analisa Parsi, perjanjian damai Israel-Palestina dalam Oslo akan membuat negara-negara Arab segera melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Normalisasi negara-negara Arab akan membuat Iran semakin terisolasi dari dunia internasional. Lalu Israel akan menjadi semakin kuat dan bisa menghegemoni Iran. Ancaman terisolasi dan ketakutan akan hegemoni Israel itulah yang sebenarnya mendasari Iran menolak Oslo dan melancarkan retorika anti Israel.
Oslo menandai era di mana Iran pertama kali menyelaraskan kebijakan luar negeri dengan retorikanya. Sebelumnya, retorika anti Israel hanya sebatas retorika. Kini, retorika itu benar-benar menjadi cerminan politik Iran.
Oslo membuat Iran totalitas mendukung Islamic Jihad dan Hamas di Palestina serta Hizbullah di Lebanon. Pada 1994, sebuah bom meletus di kantor Argentine-Israeli Mutual Association (AMIA) di Buenos Aires, menewaskan 86 warga sipil. Israel menuduh Iran mendalangi aksi tersebut. Iran menyangkal. Di Israel, mulai tersebar keyakinan bahwa Iran telah benar-benar menebarkan terror kepada negara Yahudi tersebut. Di tahun 1996, empat serangan bom menghantam Tel Aviv, Jerusalem, dan Ashkelon, menewaskan 9 warga sipil.
Pada saat yang sama, Iran berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan Amerika. Iran ingin menjadi kekuatan kawasan, sedangkan Teluk Persia dipenuhi oleh militer Amerika. Satu-satunya cara bagi Iran untuk menjadi kekuatan di teluk adalah dengan meminta “restu” dari Amerika. Sayangnya, berbagai upaya Iran untuk mendekat ke Amerika selalu dihalangi oleh Israel melalui kekuatan lobinya.
Pendekatan Netanyahu Menuju Treacherous Alliance
Pada Mei 1996, Benjamin “Bibi” Netanyahu dari Partai Likud menjadi Perdana Menteri Israel. perubahan kepemimpinan Israel dari Partai Buruh ke Likud membawa dampak yang signifikan terkait hubungan dengan Iran. Alih-alih melanjutkan permusuhan ke Iran, Netanyahu justru mengalihkan perhatiannya ke Yasser Arafat dan mengurangi ketegangan dengan Iran.
Tak hanya itu, Netanyahu lebih jauh ingin membangun kembali hubungan bilateral dengan Iran. Ia meminta bantuan tokoh-tokoh Yahudi kelahiran Iran untuk melobi pemerintah Iran agar mau membuka kembali hubungan dengan Israel. Ia menghentikan semua kampanye negatif terhadap Iran di level domestik maupun internasional. Ia menginisiasi berbagai pertemuan diplomat kedua negara di lembaga-lembaga think tank Eropa. Ia juga meminta bantuan Kazakstan dan Rusia untuk menjadi mediator Israel dan Iran. Iran menolak semua pendekatan Netanyahu.
Berubahnya haluan Israel ini karena empat hal. Pertama, tragedi bom di Israel sepanjang 1992-1996 lah yang membuatnya menang pemilu. Warga Israel merasa Partai Buruh terlalu lemah sehingga banyak milisi yang bisa menembus perbatasan dan melakukan aksi di Israel. Sehingga, jika Netanyahu melanjutkan kebijakan anti-Iran, ia khawatir aksi bom terus berlanjut dan menyebabkan ketidakpuasan publik. Kedua, secara ideologi, Netanyahu dan Partai Likud menolak semua perundingan damai dengan Palestina, termasuk Oslo. Menurutnya, karna perdamaian dengan Arab sulit dicapai, maka yang masuk akal adalah perdamaian dengan negara-negara pinggiran kawasan non Arab, terutama Iran, mengikuti the periphery doctrine.
Ketiga, Netanyahu ingin mendemonisasi Yaser Arafat dan PLO. Jika Iran masih dianggap ancaman, maka publik akan menyalahkan Iran atas semua perlawanan terhadap Israel. Menurut Netanyahu, untuk menggagalkan Oslo, yang harus disalahkan dan dicitrakan sebagai ancaman adalah PLO, bukan Iran. Keempat, Netanyahu khawatir akan kemungkinan perbaikan hubungan Iran-Amerika. Jika hubungan Iran dengan Amerika membaik, sementara hubungan Iran dan Israel masih buruk, maka Israellah yang paling dirugikan karena tidak bisa ikut dalam berbagai dialog.
Reformasi Khatami
Satu tahun kemudian, ketika Israel merusak Oslo dan hubungan dengan negara-negara Arab memburuk, justru Iran mendekat ke negara-negara Arab. Saat itu, Iran memiliki presiden baru, Mohammad Khatami, seorang pustakawan yang berhaluan reformis. Ia menyuarakan rule of law, demokrasi, sistem politik inklusif, dan hubungan baik dengan dunia internasional. Pada Desember 1997, Khatami menggelar Organization of the Islamic Conference (OIC) di Teheran, dimana negara-negara Arab mengirimkan delegasi tingkat tinggi. Arafat juga datang setelah tidak menginjakkan kaki di Teheran sejak 1980. Khatami mengakhiri retorika yang keras terhadap dunia Arab dan PLO.
Di sini, ada semacam segitiga Arab-Iran-Israel. Di paruh pertama 1990an, Israel bersekutu dengan dunia Arab melawan Iran. Di paruh kedua, dunia Arab bersekutu dengan Iran melawan Israel karena Israel enggan melanjutkan perundingan Oslo.
Sementara itu, Israel, yang baru saja melunak pada Iran, sekali lagi memilih untuk bersikap keras. Selain karena seluruh pendekatannya pada Iran ditolak, Netanyahu berasalan karena Iran masih melanjutkan pengembangan program nuklir. Retorika Netanyahu menjadi sama seperti retorika para politisi Buruh yang anti terhadap Iran. Hal itu menempatkan Israel pada posisi sulit: bermusuhan dengan tetangga dekat (dunia Arab) sekaligus tetangga jauh (Iran).
Pada tahun 1998, setelah berhasil membina hubungan baik dengan dunia Arab, saatnya Khatami melanjutkan kerjanya membangun hubungan baik dengan Israel. Sayangnya, saat itu Netanyahu sudah terlanjur kecewa dengan program nuklir Iran. Selain itu, pada 1999, Israel mengalami perubahan kepemimpinan. Netanyahu dikalahkan oleh Ehud Barak dari Partai Buruh. Platform utama Partai Buruh adalah anti Iran. Selain itu, di masa Barak, Israel fokus pada mengakhiri pendudukan di selatan Lebanon dan menyelesaikan masalah dengan Palestina dan Suriah. Sedangkan Iran bukan prioritas sama sekali. Toh, meskipun pernah mempertimbangkan pembukaan kembali hubungan dengan Iran, Iran masih terus mengembangkan misil Shahab-III, membuat Israel semakin enggan berkomunikasi dengan Iran.
Singkatnya, pendekatan yang dilakukan oleh Iran maupun Israel selalu tidak tepat waktu. Ketika Israel ingin mendekat, Iran enggan. Ketika Iran ingin mendekat, Israel sedang tidak butuh. Walhasil, hubungan buruk ini terus berlanjut hingga saat ini.
Sementara itu, hubungan Iran dengan Amerika membaik setelah peristiwa 9/11 tahun 2001. Saat Amerika melancarkan global war on terror melawan Al Qaeda dan Taliban, Iran menjadi sekutu utama Amerika. Dukungan Iran sangat penting dalam kemenangan Amerika. Hal ini menimbulkan kecemburuan di Israel. Israel tidak senang melihat Amerika dekat dengan Iran.
Pada Januari 2002, Israel menangkap kapal Karine A di Laut Merah. Kapal tersebut berasal dari Pulau Kish di Iran menuju Palestina, membawa roket, senjata api, serta bahan peledak. Hal ini menjadi dasar tuduhan Israel—dan Amerika—bahwa Iran masih mendukung milisi bersenjata di Palestina. Iran menyangkal pengiriman kapal tersebut, menyebut bahwa itu adalah jebakan Israel. Toh, kiriman senjata Iran ke kawasan Levant biasanya melalui jalur darat, bukan laut. Kendati demikian, hal tersebut tetap membuat Amerika, sekali lagi, kecewa. Setelah global war on terror berhasil, Amerika kembali meninggalkan Iran, menutup semua saluran komunikasi. Akhirnya, hubungan Iran dengan Amerika bernasib sama dengan hubungan Iran-Israel. Tertutup dan memburuk.
Hubungan Iran dengan Palestina
Hubungan Iran dengan Palestina didiskusikan secara menarik oleh Parsi dalam Treacherous Alliance. Di Indonesia, sebagian umat Islam meyakini bahwa Iran menjadi pembela utama Palestina. Sementara, Parsi menyebut bahwa tak lama setelah revolusi (1979), rombongan PLO datang ke Teheran untuk bertemu pejabat-pejabat tinggi Iran, termasuk Khomeini. Saat itu, Khomeini menunjukkan sikap yang tidak terlalu baik kepada PLO dan Arafat. Khomeini mengkritik perilaku pejabat PLO yang tidak Islami dan menceramahi Arafat akan pentingnya mendasarkan perjuangan kemerdekaan Palestina dengan ajaran Islam, serta menjauhi tendensi nasionalis dan ideologi kiri PLO.
Hubungan keduanya semakin memburuk ketika pada Perang Irak-Iran (1980-1988) PLO mendukung Irak. Penandatangan Oslo Agreement tahun 1993 juga semakin membuat Iran marah kepada PLO. Iran menjadi negara yang menolak segala bentuk perundingan damai dengan Israel.
Hubungan keduanya baru sedikit mencair pada tahun 1996, ketika Presiden Iran Rafsanjani bertemu dengan Arafat di Pakistan. Rafsanjani menghormati keputusan Arafat untuk melangkah menuju two-state solution. Pencairan hubungan dilanjutkan ketika Arafat mengikuti OIC di Teheran tahun 1997.
Intifada kedua di awal tahun 2000an juga menjadi lem perekat Iran dengan PLO. Namun, yang menarik adalah, Iran rupanya tetap tidak membantu Palestina secara nyata. Tidak ada bantuan ekonomi maupun militer yang mengalir dari Teheran ke Palestina. Para diplomat Eropa yang berhubungan dengan Jihad Islam dan Hamas melaporkan bahwa kedua kelompok tersebut sangat kecewa dengan Iran karena Iran tidak memberi mereka uang maupun senjata.
Kesimpulannya, menurut pembacaan saya, apa yang dimaksud Parsi sebagai treacherous alliance bukan semata-mata ada kerjasama jahat antara Iran, Israel, dan Amerika. Namun, hubungan ketiga negara ini dinamis, berkembang sesuai dengan ruang dan waktu. Hanya saja, paling tidak setelah era perang dingin usai, Israel dan Amerika cenderung tidak membuka hubungan diplomasi dengan Iran.
Judul Buku : Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States
Penulis : Trita Parsi
Penerbit : Yale University, 2007
Halaman : 361 hlm

