IBTimes.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan Washington untuk turun tangan apabila aparat Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran damai. Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang protes yang meluas akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Iran.
Sebagaimana dilansir dari tempo.co pada Jumat, 2 Januari 2026. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika terjadi pembunuhan terhadap warga sipil.
“Jika Iran menembak dan membunuh para pengunjuk rasa damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, AS akan turun tangan menyelamatkan para demonstran. Kami siap bertindak,” ujar Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Pernyataan itu langsung memicu respons keras dari pejabat tinggi Iran, yang menilai ancaman Trump sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri dan berpotensi memicu instabilitas kawasan.
Iran Peringatkan Dampak Regional
Menanggapi pernyataan Trump, sejumlah tokoh Iran memperingatkan bahwa intervensi Amerika Serikat akan berujung pada eskalasi konflik yang lebih luas. Ali Larijani, mantan Ketua Parlemen yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menuding AS dan Israel berada di balik gelombang demonstrasi.
“Trump harus tahu bahwa intervensi AS dalam masalah domestik sama dengan kekacauan di seluruh kawasan dan penghancuran kepentingan AS,” tulis Larijani di platform X.
Sementara itu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasional akan ditindak sebelum berkembang lebih jauh.
Laporan media dan organisasi hak asasi manusia menunjukkan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan telah menelan korban jiwa. Kantor berita semi-resmi Fars serta organisasi HAM Hengaw melaporkan sedikitnya enam orang tewas dalam berbagai insiden di sejumlah kota, termasuk Azna, Lordegan, Marvdasht, dan Kuhdasht. Puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Sejumlah video yang beredar di media sosial dan telah diverifikasi lokasinya oleh NBC News memperlihatkan mobil-mobil terbakar di sekitar kantor polisi. Video tersebut juga menunjukkan massa berhadapan langsung dengan pasukan keamanan. Namun, hingga kini, versi peristiwa yang beredar belum dapat diverifikasi secara independen.
Gelombang protes terbaru dipicu oleh merosotnya nilai tukar rial Iran secara tajam. Para pedagang dan warga menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah di tengah inflasi yang dilaporkan mencapai sekitar 40 persen. Saat ini, satu dolar AS diperdagangkan di atas 1,35 juta rial di pasar bebas.
Situasi ini diperburuk oleh sanksi Barat yang kembali menghantam ekonomi Iran sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengakui adanya ketidakpuasan publik dan menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kondisi ekonomi yang memburuk.
(NS)

