Hasrat untuk ‘mengalami’ Mesir membuat saya menyelami beberapa referensi untuk memperdalam pengetahuan tentang bumi kinanah ini. Salah satu referensi yang telah lama saya simpan dan menemukan momentum membacanya ketika berada di Mesir adalah The Oxford Handbook of Modern Egyptian History. Salah satu tulisan menarik yang menggugah saya ialah tulisan yang didemonstrasikan Yoav Di-Capua, seorang professor sejarah di Universitas Texas, Austin.
Ia membahas satu tema yang sangat berani, intelektual, negara dan masa lalu. Bagi masyarakat Mesir, membahas kaitan antara inteleketual dan negara, lebih-lebih dalam kerangka kritis, bukanlah tema yang aman. Sebagai negara yang belum stabil secara kepemimpinan dan memiliki pengalaman kudeta beberapa kali, bersikap kritis terhadap penguasa masih dianggap tabu.
Pemimpin Mesir dikenal dengan sikap tangan besi. Mereka rela mengorbankan apapun, tak terkecuali nyawa orang, demi mempertahankan tahtanya. Transisi dari monarki ke republik di Mesir telah menayangkan beberapa kali tragedi berdarah yang melibatkan para militer. Presiden Mesir, sejak Gamal Abdul Nasser hingga Abdul Fatah As-Sisi, terkecuali Mohammad Morsi, kesemuanya adalah militer yang naik tahta dengan cara kudeta.
Tulisan Di-Capua menjuruskan pembahasannya pada sosok Gamal Abdul Nasser, presiden pertama Mesir. Dalam pandangannya Nasser telah membuat banyak kesalahan besar, terutama pemalsuan sejarah. Salah satu sejarah yang dipalsukan dan memilukan bagi banyak intelektual adalah perang yang melibatkan Mesir dengan Israel pada tahun 1967-1970. Di samping itu, Di-Capua juga mengeritik beberapa respon yang diberikan oleh ulama dan intelektual Mesir saat itu yang, dalam bahasa Di-Capua, merupakan lambang dari keputusasaan.
Keruntuhan Moralitas Nasser
Sebagai pemimpin Mesir pertama pasca revolusi, Nasser merupakan tumpuan harapan masyarakat dan intelektual yang diharapkan mampu membawa Mesir ke arah kemajuan. Namun gelagat yang ditunjukkan Nasser setelah naik tahta justru membuat masyarakat dan intelektual mengelus dada. Mereka mengalami kelelahan ganda akibat perangai negara yang lebih sibuk dalam mensosialisasikan kekerasan dan teror daripada mensejahterakan masyarakat dan menyelamatkan mereka dari kemiskinan.
Pada era ini banyak intelektual yang putus asa dan melepaskan diri negara. Mereka menilai bangsa Mesir telah mengalami kenestapaan yang berlipat karena berhadapan dengan sistem yang bobrok dan elit yang lebih mementingkan diri sendiri. Akibatnya gerakan kritik atas negara, terutama dari kalangan intelektual, makin meluas. Di satu sisi mereka mendapatkan pendanaan yang memadai dari LSM luar negeri yang konsen pada isu hak asasi manusia. Kemarahan yang menggumpal dan sokongan dana yang cukup, telah membuat gerakan ini sangat mapan. Mereka akhirnya menerbitkan buku-buku dan memadati kolom opini Mesir dengan pernyataan-pernyataan mereka.
Salah satu kebijakan Nasser yang banyak dikritik intelektual adalah pemalsuan atas sejarah perang Mesir-Israel pada 1967-1970. Gerakan dan pendukung Nasserian telah membuat satu kebohongan besar dengan menampilkan kemenangan Mesir atas Israel. Abdul Azhim Ramadan, seorang sejarawan veteran, menyebutnya sebagai tindakan putus asa. Ia menyatakan bahwa kegagalan Nasser di perang Israel hakikatnya merupakan kelanjutan dari bobroknya kepemimpin Nasser sebelumnya.
Tindakan pemalsuan sejarah ini telah menandakan satu hal, yakni bahwa negara tidak bisa berpikir. Alih-alih menceritakan apa adanya, mereka lebih memilih mengaburkannya. Benar bahwa kekalahan akan melahirkan olok-olokan. Namun merasa diri menang dan meyakinkan publik untuk ikut meyakininya adalah tindakan gegabah. Sebab respon yang diberikan oleh intelektual dan penulis hari itu tercatat baik oleh sejarah. Berusaha mengaburkan sejarah hanyalah tindakan menjerumuskan diri pada jurang kehinaan.
Kritik atas Respon Intelektual Mesir
Di tengah kegagalan demi kegagalan yang mendera Mesir, muncul beragam respon yang diberikan oleh ulama dan intelektual. Salah satu sikap yang dikritik oleh Di-Capua adalah sikap yang ditampilkan oleh Yusuf Qardhawi dan ulama yang sehaluan dengannya. Ia memang ulama yang kritis terhadap gerakan Nasserian. Karenanya ia mengejek gagasan sosialisme yang diperjuangkan oleh Nasser. Menurutnya gagasan itu tak lebih dari sekedar pembualan.
Kritik Di-Capua atas Qardhawi dimulai ketika ulama tersebut menyatakan bahwa kegagalan Nasser di perang Mesir-Israel semata-mata karena pengabaian iman. Seperti para pemikir apologetik lain, ia menyederhanakan masalah dan sekonyong-konyong menyatakan kesediaan Islam sebagai solusi. Dengan sikap ini, perhatian atas turāts mengkristal dan menjadi tumpuan masyarakat Arab. Pandangan yang tertanam kuat di benak masyarakat ialah kita hanya akan mendapatkan solusi atas bangsa ini jika kita mencari jawabannya dari turāts.
Jurj Tarabishi, seorang filsuf asal Suriah, mengkritik sikap dan pola berpikir semacam ini. Baginya, hegemoni turāts yang demikian tidak lain merupakan akibat dari trauma bangsa Mesir setelah mengalami berbagai macam kekalahan. Pemikir dan sejarawan lain, Elizabeth Suzanner Kassab, bahkan menyebutnya sebagai tindakan putus asa demi menjaga harapan dan kebanggaan setelah beberapa kali mengalami keadaan nestapa dalam sejarah Mesir kontemporer. Akibatnya mereka terjatuh pada sikap yang disebut Di-Capua sebagai fetisisasi turāts.
Atas respon dan sikap defensif yang demikian, beberapa pemikir lain menawarkan pembacaan yang lebih sadar atas sejarah masa kini. Abdul Rahman Badawi misalnya, seorang filsuf eksistensialis Mesir, mengatakan bahwa kehancuran yang dialami bangsanya telah menyebabkan kebingungan spiritual dan menjadikannya lebih peka atas kondisi negerinya. Ia tidak bersifat defensif atau terjebak pada romantisme masa lalu. Gagasan tentang kebebasan juga bergejolak, terutama dalam pemikiran Taha Husein dan Sayyid Qutb. Bagi mereka kebebasan adalah syarat mutlak untuk mewujudkan keadilan sosial. Sementara pemikir kontemporer, ‘Abid Al-Jabiri, mendesak agenda dekolonisasi demi melepaskan ketergantungan bangsa Arab dari masa lalu dan membuatnya memiliki kesadaran kritis atas tantangan yang tengah dihadapi.
Editor: Soleh


