back to top
Selasa, Februari 3, 2026

Viral tapi Palsu: Bahaya Video Kesehatan Viral yang Mengabaikan Ilmu Medis

Lihat Lainnya

Di tengah maraknya penggunaan media sosial di Indonesia, platform seperti TikTok, YouTube, Instagram Reels, dan Facebook menjadi sumber utama informasi kesehatan bagi jutaan orang, meskipun sering kali mengabaikan ilmu medis yang seharusnya menjadi dasar utama. Setiap hari, lini masa dipenuhi video-video yang menjanjikan penyembuhan ajaib: “Normalisasi gula darah dalam hitungan minggu tanpa obat kimia”, “Hilangkan diabetes selamanya hanya dengan ramuan herbal alami”, hingga “Sel kanker bisa kelaparan dan mati sendiri jika puasa ekstrem beberapa hari”. Video semacam ini sering menampilkan figur berjas putih yang mengaku dokter, tokoh publik, atau testimoni emosional dari pasien yang “sembuh total”.

Ribuan share, ratusan ribu hingga jutaan views, dan algoritma platform yang terus mendorong konten serupa membuatnya sulit dihindari, padahal banyak yang bertentangan dengan prinsip ilmu medis berbasis bukti.

Namun, di balik tampilan meyakinkan itu, mayoritas konten tersebut mengandung misinformasi, bahkan banyak yang palsu. Pemeriksaan menggunakan alat deteksi konten AI-generated menunjukkan bahwa sekitar 95 persen video kesehatan semacam ini di Indonesia merupakan deepfake, yaitu rekayasa kecerdasan buatan yang memanipulasi wajah dan suara tokoh terkenal untuk mempromosikan suplemen, obat herbal, atau metode pengobatan tak terbukti.

Meski berbagai lembaga pemeriksa fakta dan media telah berulang kali membantah klaim-klaim tersebut, video serupa terus bermunculan kembali, seolah tak pernah benar-benar hilang dari ekosistem digital, sehingga merusak kepercayaan terhadap ilmu medis yang sah.

Indonesia menjadi sasaran empuk karena prevalensi diabetes yang sangat tinggi. Menurut data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, pada 2024 terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa (usia 20-79 tahun) di Indonesia yang hidup dengan diabetes, dengan prevalensi mencapai 11,3%. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak kelima di dunia. Lebih mengkhawatirkan, sekitar 73,2% kasus diabetes di Indonesia tidak terdiagnosis, sehingga banyak orang mencari solusi cepat dan murah melalui konten online, sering kali mengesampingkan pendekatan ilmu medis yang benar. Proyeksi IDF menunjukkan angka ini akan naik menjadi 28,6 juta pada 2050 jika tidak ada intervensi signifikan.

Baca Juga:  LPPI UMY dan IBTimes Adakan Madrasah Literasi

Narasi “sembuh alami tanpa obat” sangat menjual di era algoritma yang mengutamakan engagement. Video dengan janji penyembuhan instan, testimoni pribadi, diet ekstrem, atau ramuan tertentu sering kali viral karena memicu harapan dan emosi. Bahkan konten yang dibuat oleh dokter asli pun tak luput dari jebakan ini. Sebuah studi penting yang dipublikasikan di JAMA Network Open pada 16 Januari 2026 menganalisis 309 video YouTube populer tentang kanker dan diabetes (masing-masing minimal 10.000 penayangan, rata-rata 164.000 views).

Hasilnya mengejutkan: hanya 19,7% video yang didukung bukti ilmiah berkualitas tinggi (nilai A dalam sistem penilaian E-GRADE baru). Sekitar 62,5% berada di kategori terendah, bukti sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Yang lebih parah, video dengan bukti terlemah justru 35% lebih mungkin mendapatkan penayangan lebih tinggi dibandingkan konten berbasis sains kuat.

“Ini mengungkapkan kesenjangan kredibilitas besar, di mana otoritas dokter sering kali melegitimasi klaim yang kurang memiliki dukungan empiris yang kuat,” kata EunKyo Kang, penulis utama studi dari National Cancer Control Institute, National Cancer Center, Korea Selatan.

Studi ini fokus pada video buatan profesional kesehatan, 75% di antaranya oleh dokter, dan dilakukan pada Juni 2025. Durasi video rata-rata 19 menit memberikan kesan penjelasan mendalam, tetapi klaim sering hanya mengandalkan pengalaman pribadi, bukan data klinis terverifikasi yang menjadi inti dari ilmu medis modern.

Masalah ini tidak terbatas pada YouTube. Di TikTok, gerakan “eco-influencers” yang mempromosikan gaya hidup alami, kesehatan holistik, dan pengobatan alternatif semakin dominan. Penelitian yang dipresentasikan pada Konferensi & Pameran Nasional American Academy of Pediatrics (AAP) 2025 di Denver, Colorado, menganalisis 120 video TikTok teratas dengan tagar seperti #naturalparenting, #antivaccine, #holistichealth, dan #alternativehealing.

Baca Juga:  Muhadjir Effendy: Agar Generasi Unggul, Calon Pengantin Perlu Dibekali "Keluarga Sakinah"

Hasilnya: 61% video bertentangan dengan pedoman kesehatan anak dari AAP dan CDC. Sekitar 80% dibuat oleh non-profesional, kebanyakan orangtua atau influencer, dengan tema utama keraguan vaksin, promosi pengobatan alami tak terbukti, penolakan perawatan pediatrik konvensional, serta mitos seputar menyusui dan nutrisi bayi.

“Sebagai dokter anak, kami melihat langsung dampak misinformasi daring. Studi ini menunjukkan seberapa cepat klaim kesehatan palsu dapat menyebar di media sosial dan betapa pentingnya bagi kami untuk terlibat dengan keluarga dan membantu mereka menavigasi apa yang mereka lihat secara daring,” ujar Maria.

Canas-Galvis dari East Carolina University Health Medical Center, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Video misinformasi ini menarik 2,7 kali lebih banyak penonton daripada konten akurat, menunjukkan algoritma lebih menyukai sensasi daripada kebenaran yang didasarkan pada ilmu medis.

Fenomena ini bukan hal baru. Richard Saver, profesor hukum di University of North Carolina, dalam editorial pendamping studi JAMA, menulis bahwa misinformasi medis oleh dokter sudah ada jauh sebelum internet.

“Di antara alasan lainnya, kedokteran berbasis bukti tampaknya meremehkan penilaian klinisi individu,” tulis Saver.

Namun, era media sosial memperburuknya karena algoritma memprioritaskan keterlibatan (likes, shares, comments) daripada akurasi.

Tokoh teknologi pun ikut prihatin. Steve Chen, salah satu pendiri YouTube, dalam diskusi di Stanford Business School pada Juli 2025, menyatakan ia tak ingin anak-anaknya hanya mengonsumsi konten pendek seperti TikTok atau Reels.

“Saya pikir TikTok adalah hiburan, tetapi murni hiburan. Itu hanya untuk sesaat. Konten berformat pendek berarti rentang perhatian yang lebih pendek,” kata Steve.

Ia khawatir anak terbiasa hiburan instan dan sulit fokus pada konten panjang. Sam Altman, CEO OpenAI, juga menyuarakan kekhawatiran serupa tentang dampak psikologis video pendek yang memberikan “sensasi dopamin” pada anak. Jonathan Haidt, profesor di NYU Stern School of Business dan penulis buku The Anxious Generation, bahkan menyebut berkurangnya rentang perhatian manusia sebagai kerugian lebih besar bagi umat manusia daripada epidemi kesehatan mental.

Baca Juga:  Santri Al-Mizan Membuat Kaligrafi dari Sampah Plastik Bekas Deterjen

Dampak nyata dari misinformasi ini sangat serius di Indonesia. Pasien diabetes menolak pengobatan medis standar seperti insulin atau obat oral, beralih ke ramuan herbal atau puasa ekstrem, berisiko komplikasi seperti ketoasidosis, gagal ginjal, atau amputasi. Di kalangan orangtua, keraguan vaksin menyebabkan penurunan cakupan imunisasi, meningkatkan risiko penyakit menular seperti campak atau polio. Jas putih dan gelar “dokter” tak lagi cukup sebagai jaminan kebenaran, bahkan dokter asli pun terjebak demi views dan sponsor.

Para ahli menyerukan reformasi mendesak: pedoman konten berbasis bukti bagi profesional kesehatan, pelatihan komunikasi sains, serta perubahan algoritma platform agar memprioritaskan ketelitian ilmiah selain engagement. Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan dan Kominfo, perlu memperkuat regulasi iklan kesehatan digital dan kampanye literasi kesehatan. Publik juga harus lebih kritis: selalu verifikasi sumber dari lembaga kredibel seperti IDAI, PB IDI, atau WHO, hindari klaim “ajaib” atau “tanpa efek samping”, dan konsultasikan dokter sungguhan sebelum mencoba pengobatan alternatif.

Di era digital di mana informasi menyebar secepat kilat, popularitas tak selalu berarti kebenaran. Algoritma yang mengutamakan emosi dan sensasi sering memberi panggung lebih besar pada konten menyesatkan. Dengan lebih dari 20 juta penderita diabetes dan jutaan anak rentan terhadap misinformasi, tantangan kesehatan publik di Indonesia semakin mendesak. Saatnya semua pihak platform, kreator konten, profesional kesehatan, dan pengguna, bertanggung jawab. Jika tidak, misinformasi kesehatan berpotensi menjadi epidemi baru yang lebih berbahaya daripada penyakit itu sendiri.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru