Opini

Memaknai Duka dengan Sederhana: Sebuah Antologi tentang Bu Ahang

1 Mins read

Sinopsis

Kehilangan seringkali datang tanpa permisi, meninggalkan ruang kosong dan duka yang mendalam. Buku “Memaknai Duka dengan Sederhana” adalah sebuah antologi esai yang merangkum kenangan, cinta, dan refleksi mendalam tentang sosok Ibu Nahar Miladi, atau yang akrab disapa Bu Ahang. Ditulis dari sudut pandang seorang suami, Arif Jamali Muis, buku ini menjadi sebuah persembahan tulus untuk mengenang perjalanan hidup seorang istri, ibu, pendidik, dan pejuang Muhammadiyah yang luar biasa.

Melalui kumpulan tulisan yang menyentuh, pembaca diajak untuk menyelami mozaik kehidupan Bu Ahang yang penuh dengan kesederhanaan namun sarat akan makna. Beliau adalah sosok yang mengibaratkan dirinya sebagai “remahan rengginang”—peran di belakang layar yang mungkin tak selalu terlihat, namun kontribusinya senantiasa memberikan dampak besar bagi sekitarnya. Dari dedikasinya sebagai guru honorer yang mendidik dengan hati hingga perannya sebagai “telaga” bagi anak-anaknya, setiap kisah menampilkan potret ketegaran, keikhlasan, dan kekuatan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Buku ini bukan hanya tentang mengenang sosok yang telah tiada, tetapi juga merupakan catatan perjalanan penulis dan putrinya dalam menghadapi dan memaknai kehilangan. Di dalamnya, terungkap dialog-dialog penuh kepolosan dan pertanyaan mendalam tentang takdir, serta bagaimana keluarga ini berusaha bangkit dan melanjutkan warisan kebaikan yang telah ditinggalkan. “Memaknai Duka dengan Sederhana” adalah sebuah undangan bagi siapa saja yang pernah merasakan kehilangan untuk menemukan kekuatan, inspirasi, dan pengingat bahwa cinta sejati akan selalu hidup dalam setiap kebaikan yang kita teruskan.

Identitas Buku

Judul: Memaknai Duka dengan Sederhana: Sebuah Antologi tentang Bu Ahang

Jenis Buku: Antologi Esai, Non-fiksi, Memoar

Penulis: Arif Jamali Muis

Editor: Yahya Fathur Rozy

Copyeditor: Tsabita Ikrima & Nabhan Mudirk Alyaum

Penerbit: PT Litera Cahaya Bangsa

Tahun Terbit: 2025

Baca Juga  Neo-Visibilitas Hilal Mabims dan Tantangan Kalender Hijriah Global
Related posts
Opini

Anatomi Psikologi di Balik Korupsi

2 Mins read
Korupsi di Indonesia adalah sebuah drama kolosal yang tak pernah mencapai episode akhir. Saban hari, kita disuguhi narasi yang sama, yaitu pejabat…
Opini

Haji Yunus Jamaludin: Konsul Muhammadiyah Bengkulu Pertama, Penyambung Lidah Rakyat

5 Mins read
Relasi antara Bengkulu dan Minangkabau sejak lama telah terbangun. Dapat kita baca dalam Tambo Bangkahulu seorang Minangkabau dari Pagarruyung bernama Baginda Maharaja…
Opini

Indonesia Gabung Board of Peace, Langgengkan Status Quo di Palestina

3 Mins read
Indonesia akhirnya masuk Board of Peace. Dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bagi sebagian orang, BoP ini berpotensi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *