Opini

Ketika Moralitas Menjadi Banalitas: Kritik MacIntyre dan al-Attas

3 Mins read

Masyarakat modern sering membanggakan diri sebagai masyarakat yang tercerahkan secara moral. Konsep-konsep seperti hak asasi manusia, keadilan, toleransi, dan kebebasan kerap diperlakukan sebagai nilai-nilai moral yang sudah dengan sendirinya jelas dan tidak perlu dipertanyakan. Namun, di balik bahasa moral yang tampak penuh keyakinan ini, tersembunyi kegelisahan yang mendalam. Perbedaan pandangan moral dewasa ini semakin tampak sulit diselesaikan; perdebatan publik lebih banyak diwarnai oleh kemarahan ketimbang penalaran; dan klaim-klaim etis sering kali merosot menjadi sekadar ekspresi preferensi pribadi atau kekuasaan.

Kondisi ini telah didiagnosis oleh dua pemikir berpengaruh abad ini yaitu filsuf Katolik kelahiran Skotlandia Alasdair MacIntyre (1929–2025) dan filsuf Muslim Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas (1931– ). Meskipun berlatar belakang berbeda, keduanya bertemu pada satu kritik yang sama bahwa moralitas modern telah terputus dari kerangka intelektual dan filosofis yang dahulu memberinya koherensi dan makna.

Dalam After Virtue, MacIntyre dengan tegas menyatakan bahwa wacana moral modern berada dalam kondisi kekacauan yang serius. Kita masih menggunakan istilah-istilah seperti keadilan (justice), Kebajikan (good), dan hak (rights). Tetapi kita telah kehilangan konteks eksistensial yang dahulu memberi istilah-istilah tersebut makna objektif. Ketika terlepas dari pemahaman bersama tentang tujuan hidup manusia, perdebatan moral menjadi tidak berkesudahan. Ia tidak dapat diselesaikan secara rasional karena para pelakunya tidak lagi sepakat tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik atau tujuan tindakan manusia.

Bagi MacIntyre, tradisi moral pra-modern, khususnya etika kebajikan Aristotelian, memahami moralitas sebagai sesuatu yang bersifat teleologis. Manusia dipandang sebagai makhluk yang secara alamiah diarahkan pada suatu tujuan tertentu (telos). Sedangkan kebajikan adalah kualitas-kualitas yang memungkinkan individu dan komunitas berkembang sesuai dengan tujuan tersebut. Filsafat moral modern, sebaliknya, menolak kerangka ini dan berusaha mendasarkan moralitas pada klaim aturan universal, perasaan subjektif, atau manfaat sosial. Akibatnya, menurut MacIntyre, adalah munculnya gejala emotivisme yang menganggap bahwa penilaian moral pada akhirnya hanyalah ekspresi sikap atau preferensi pribadi yang disamarkan sebagai klaim objektif.

Baca Juga  Perlukah Muhammadiyah Menunda Penggunaan KHGT?

Al-Attas sampai pada diagnosis yang serupa dari dalam tradisi intelektual Islam. Dalam kritiknya terhadap modernitas, ia berpendapat bahwa apa yang ia sebut sebagai barat modern telah mengalami proses sekularisasi yang bukan sekadar bersifat institusional, melainkan epistemologis. Ilmu pengetahuan itu sendiri telah didesakralisasi dan dipisahkan dari makna metafisis dan etis. Akibatnya, moralitas menjadi otonom, subjektif dan pada akhirnya bersifat arbitrer. Jika MacIntyre menjelaskan kekacauan etika modern sebagai kondisi perdebatan yang tak berujung, al-Attas melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa penalaran etis modern untuk pertama kalinya dalam sejarah telah melahirkan kekacauan. Bukan hanya pada ketenteraman batin manusia, tetapi juga pada tiga kerajaan alam.

Bagi al-Attas, bencana moral ini dapat dikenali sebagai hilangnya adāb (the loss of adāb), yakni ketidakmampuan manusia untuk mengenali dan mengakui tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam hirarki penciptaan. Dalam tradisi Islam maupun Kristen klasik, etika tidak pernah terpisah dari ontologi dan teologi. Tindakan moral mengalir dari pengetahuan yang benar tentang Tuhan, diri manusia, dan alam. Moralitas modern, sebaliknya, berusaha berfungsi secara mandiri tanpa rujukan transenden apa pun, sehingga norma-norma etis direduksi menjadi konsensus sosial, penegakan hukum, atau pilihan individual.

Kedua pemikir ini, dengan demikian, sama-sama menolak asumsi modern bahwa moralitas dapat berdiri sendiri. Terlepas dari visi substantif tentang kebenaran dan hakikat manusia. MacIntyre menunjukkan bagaimana filsafat moral Pencerahan gagal menyediakan pengganti yang koheren bagi tradisi Aristotelian-Kristen yang digantikannya. Al-Attas menyingkap bagaimana modernitas sekuler memecah pengetahuan dan mengikis fondasi spiritual yang diperlukan bagi tertib moral.

Kritik-kritik ini menjadi sangat relevan bagi masyarakat religius seperti Indonesia. Bahasa moral digunakan secara luas, tetapi kesepakatan moral tetap rapuh. Perdebatan publik mengenai lingkungan, pendidikan, seksualitas, dan tata kelola pemerintahan kerap mengatasnamakan prinsip-prinsip moral universal, namun konsensus tetap sulit dicapai. Seruan atas nama toleransi atau hak sering kali berfungsi sebagai senjata retoris, bukan sebagai standar moral bersama.

Baca Juga  Agar Ramadhan Kita Ramah Lingkungan

Ruang publik Indonesia juga semakin menyerupai panggung kepanikan moral. Dari budaya korosif “cancel culture”, hingga perdebatan etis yang memanas seputar proyek-proyek ekstraksi skala besar, wacana kolektif kita terasa semakin terfragmentasi. Sementara benturan-benturan ini sering dijelaskan sebagai sekadar polarisasi politik. Sesungguhnya ia menunjuk pada krisis yang lebih dalam dan sistemik yaitu runtuhnya bahasa etis yang koheren.

MacIntyre akan mengatakan bahwa perdebatan-perdebatan semacam ini niscaya berakhir pada jalan buntu karena tidak memiliki tradisi moral bersama yang mampu menopang deliberasi rasional. Al-Attas akan menambahkan bahwa tanpa pemulihan hierarki yang tepat dalam tatanan penciptaan yang mengakui realitas metafisis dan spiritual wacana moral akan terus berayun antara subjektivisme dan relativisme.

Apa yang dikritik oleh kedua pemikir tersebut adalah keyakinan masyarakat modern bahwa kemajuan moral bersifat otomatis dan akumulatif. Bahasa-bahasa moral mungkin bertahan lama setelah fondasi-fondasinya terkikis, namun ia menjadi hampa. Ketika moralitas kehilangan jangkar metafisis dan teleologisnya, ia berisiko berubah menjadi sekadar alat kekuasaan, ideologi, atau sentimen.

Di tengah zaman yang ditandai oleh polarisasi moral dan kelelahan etis, MacIntyre dan al-Attas menawarkan sebuah alternatif yang cukup radikal. Moralitas tidak dapat dipertahankan hanya dengan slogan. Ia menuntut visi yang koheren tentang kebaikan manusia, pemahaman bersama tentang kebenaran, dan pendidikan yang menumbuhkan kebajikan, bukan sekadar kepatuhan. Bagi masyarakat yang sedang menavigasi ketegangan antara tradisi dan modernitas, kritik mereka mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, bukan semata-mata posisi moral apa yang kita pegang, melainkan jenis penalaran moral apa yang kita yakini masih mungkin. Tanpa menjawab pertanyaan itu, perdebatan moral kita mungkin akan terus berlanjut tanpa akhir: lantang dan penuh keyakinan, namun kian kosong dan kehilangan arah.

Baca Juga  al-Turats wa al-Tajdid: Proyek Hassan Hanafi untuk Masa Depan Islam

Editor: Ikrima

Avatar
1 posts

About author
Mantan santri di School of Divinity University of Edinburgh
Articles
Related posts
Opini

Cerai Gugat, Media Sosial, dan Pergeseran Makna Perkawinan di Indonesia

4 Mins read
Hampir setiap hari, isu perceraian pasangan suami-istri terus bermunculan dan nyaris tak pernah benar-benar hilang dari ruang publik maupun jagat digital. Tahun…
Opini

Kesempatan Kedua: Tentang Hidup, Kendali, dan Rasa Syukur

4 Mins read
Pagi ini saya kembali mulai bisa menghirup angin segar. Walaupun belum benar-benar pulih, tapi patut disyukuri. Saya duduk santai di teras kontrakan…
Opini

Perokok di Jalan Raya: Mengapa Pelanggar Lebih Galak Dari Korbannya?

4 Mins read
Di banyak persimpangan jalan, kita menyaksikan pemandangan yang paradoksal: seorang pengendara merokok sambil menyetir, asapnya mengepul ke wajah pengguna jalan lain, puntungnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *