Opini

Ar-Rujū‘ ilā al-Qur’ān wa al-Sunnah: Bedanya Salafi dan Muhammadiyah!

2 Mins read

Seruan ar-rujū‘ ilā al-Qur’ān wa al-Sunnah kerap dipahami sebagai slogan pemurnian Islam yang tunggal dan netral. Namun dalam praktiknya, semboyan ini tidak pernah bebas nilai. Ia selalu dioperasionalkan melalui metodologi tertentu. Di titik inilah perbedaan mendasar antara Salafisme dan Muhammadiyah muncul.

Keduanya sama-sama mengklaim kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, tetapi menempuh jalan metodologis yang berbeda, bahkan bertolak belakang dalam sejumlah aspek penting.

Metodologi Salafisme

Bagi Salafisme, ar-rujū‘ dimaknai sebagai kembali kepada teks secara literal dengan menjadikan pemahaman generasi salaf (sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ut tabi‘in) sebagai standar kebenaran final.

Al-Qur’an dan Sunnah dipahami melalui kerangka fahm al-salaf, yang diposisikan bukan sekadar rujukan historis, melainkan otoritas normatif yang mengikat lintas ruang dan waktu. Konsekuensinya, pendekatan ini cenderung tekstualis, ahistoris, dan menaruh curiga terhadap ijtihad kontekstual yang berkembang belakangan.

Dalam kerangka Salafisme, metodologi bukan sekadar alat, tetapi pagar ideologis. Tafsir, fikih, bahkan praktik keagamaan sehari-hari diukur berdasarkan kesesuaian dengan praktik generasi awal Islam. Segala bentuk inovasi yang tidak memiliki legitimasi eksplisit dari teks atau praktik salaf mudah dicap sebagai bid‘ah. Di sinilah ar-rujū‘ berfungsi sebagai mekanisme purifikasi sekaligus eksklusi: membedakan mana Islam yang “murni” dan mana yang dianggap menyimpang.

Metodologi Muhammadiyah

Sebaliknya, Muhammadiyah juga menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam, tetapi dengan metodologi yang berbeda secara fundamental dengan salafisme.

Ar-rujū‘ dalam Muhammadiyah tidak berhenti pada teks, melainkan dilanjutkan dengan kerja ijtihad melalui perangkat ushul fikih, maqāṣid al-syarī‘ah, dan pertimbangan kemaslahatan.

Al-Qur’an dan Sunnah dipahami sebagai sumber nilai, etika, dan prinsip, bukan sekadar kumpulan aturan literal yang beku.

Muhammadiyah menempatkan Sunnah dalam kerangka kritik hadis, klasifikasi otoritas dalil, dan relevansi sosial. Tidak semua hadis diposisikan secara sama; ada pertimbangan kualitas sanad, konteks kemunculan, dan tujuan normatifnya.

Baca Juga  Nurani yang Lumpuh

Demikian pula praktik keagamaan generasi salaf dihormati, tetapi tidak disakralkan. Ia dijadikan inspirasi, bukan batas akhir kreativitas ijtihad.

Perbedaan metodologis ini berdampak langsung pada wajah keberagamaan. Salafisme cenderung melahirkan Islam yang rigid, simbolik, dan normatif-formal.

Kesalehan diukur melalui keseragaman praktik: cara berpakaian, tata ibadah, hingga ekspresi sosial keagamaan.

Sementara itu, Muhammadiyah mendorong Islam yang dinamis, rasional, dan berorientasi pada kemajuan peradaban.

Kesalehan tidak semata diukur dari keseragaman simbol, tetapi dari kontribusi nyata bagi kemanusiaan: pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, dan pemberdayaan umat.

Di sinilah letak perbedaan paling krusial: Salafisme memosisikan ar-rujū‘ sebagai gerakan pemurnian ke belakang (backward-looking), sedangkan Muhammadiyah memahaminya sebagai gerakan pemurnian nilai untuk melangkah ke depan (forward-looking).

Yang satu berupaya menyalin masa lalu, yang lain berusaha menangkap spirit profetik untuk menjawab tantangan zaman.

Menyamakan Salafisme dan Muhammadiyah hanya karena keduanya sama-sama menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah adalah penyederhanaan yang kurang pas.

Yang menentukan bukan slogan, melainkan metodologi. Dan dari metodologi itulah lahir corak Islam yang berbeda: apakah Islam yang membeku dalam romantisme masa lalu, atau Islam yang hidup, berkemajuan, dan membumi dalam realitas sosial.

Editor: NS

Sholikh Al Huda
19 posts

About author
Direktur Institut Studi Islam Indonesia (InSID), Anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Jatim, Dosen Pascasarjana UMSurabaya
Articles
Related posts
Opini

Sejarah Panjang Konflik Iran: dari Safawiyah hingga Republik Islam

4 Mins read
Pendahuluan Iran adalah negara kawasan Timur tengah yang tidak pernah sepi dari sorotan media internasional. Mulai dari Perang Teluk (1980-1988), penentangan zionisme…
Opini

Jadi Benteng Penjaga Nyawa Rakyat Aceh, UIN Ar-Raniry Buka Prodi Mitigasi Bencana

4 Mins read
Aceh adalah wilayah yang hidup berdampingan dengan risiko. Bencana di Aceh bukanlah peristiwa insidental, melainkan realitas yang terus berulang. Dalam konteks ini,…
Opini

Titik Beda Konsep Bid'ah: Antara Muhammadiyah dan Salafisme

2 Mins read
Konsep bid‘ah merupakan salah satu isu paling sensitif dalam wacana keislaman kontemporer. Di Indonesia, perbedaan pemahaman tentang bid‘ah tidak hanya menjadi perdebatan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *