back to top
Rabu, Februari 18, 2026

Rahasia di Balik Bulan Madu Michael Carrick dengan “King” MU

Lihat Lainnya

Manchester United “King MU” sedang menikmati momen indah yang sering disebut sebagai “bulan madu” bersama pelatih interim Michael Carrick. Pada 13 Januari 2026, klub resmi mengumumkan penunjukan Carrick sebagai head coach hingga akhir musim 2025/26, menyusul pemecatan Ruben Amorim yang kontroversial setelah hanya 14 bulan menjabat. Amorim dipecat akibat konflik internal dengan hierarki klub, termasuk ketidakpuasan atas kebijakan transfer dan taktik yang kaku, meninggalkan tim dalam kondisi medioker.

Debut Carrick langsung mencuri perhatian. Pada 17 Januari 2026, di Old Trafford, Setan Merah mengalahkan rival sekota Manchester City dengan skor 2-0 melalui gol-gol Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu. Ini menjadi kemenangan pertama MU atas City sejak Januari 2023. Seminggu kemudian, pada 25 Januari 2026, Carrick membawa tim meraih kemenangan dramatis 3-2 atas pemuncak klasemen Arsenal di Emirates Stadium. Gol-gol dari Mbeumo, Dorgu, dan Matheus Cunha membalikkan keadaan, sekaligus menjadi kemenangan tandang pertama atas Arsenal sejak Desember 2017 dan yang ke-100 secara keseluruhan atas The Gunners.

Dua kemenangan ini bukan kebetulan. Sebelum Carrick, Darren Fletcher sempat menjadi interim pasca-pemecatan Amorim, tapi hasilnya mengecewakan tanpa kemenangan beruntun dan tersingkir dari kompetisi lain. Carrick langsung menyuntikkan energi baru, membuat Arsene Wenger memuji: “Ada sesuatu yang istimewa di tim ini. Cara mereka bermain meyakinkan.”

Carrick Mengembalikan Mahkota King MU

Keberhasilan utama Carrick adalah mengembalikan DNA Manchester United sebagai tim besar yang haus kemenangan. Di era Amorim, pertahanan sering bocor karena taktik 3-4-3 yang kaku dan rentan terhadap serangan dari lini kedua. Carrick, dengan pendekatan sederhana dan masuk akal, fokus pada kesatuan tim menyerang dan bertahan bersama seperti pasukan perang.

Baca Juga:  Thailand Siap Sambut Hangat Atlet dan Ofisial SEA Games 2025

Dalam blok tinggi, hanya dua pemain seperti Mbeumo dan Bruno Fernandes melakukan pressing intens untuk membatasi ruang progresi lawan. Contohnya kontra Arsenal: blunder Martin Zubimendi akibat tekanan itu berujung gol penyama Mbeumo. Di blok rendah, MU kini mengerahkan lima hingga enam pemain di garis belakang, dengan Casemiro membaca pergerakan lini kedua lawan secara cermat. Hasilnya, pertahanan solid di semua fase, sesuatu yang jarang terlihat musim ini.

Harry Maguire, kapten tim, mengakui perubahan itu: “Michael datang dan sangat luar biasa bersama kami. Dia membawa energi baru. Kelompok ini benar-benar jadi lebih bersemangat.” Carrick mewarisi ilmu dari Sir Alex Ferguson, di mana kunci sukses adalah mengeluarkan potensi terbaik setiap pemain. Ini terbukti pada transformasi Patrick Dorgu. Pemain sayap yang sering cemas di era Amorim kini menjadi senjata mematikan, mencetak gol spektakuler dari luar kotak penalti kontra Arsenal dan membantu defensif menahan Bukayo Saka bersama Luke Shaw.

Carrick menggunakan formasi 4-2-3-1 berorientasi penguasaan bola, yang saat build-up bertransformasi menjadi 3-2-4-1. Ini memanfaatkan bek sayap ofensif seperti Diogo Dalot dan Dorgu, memberikan kebebasan bergerak yang membuat Dorgu bisa menyelinap ke posisi penyerang atau gelandang serang.

MU yang Bangkit di Tangan Carrick

Michael Carrick bukan nama asing di Old Trafford. Lahir 28 Juli 1981 di Wallsend, Inggris, Carrick menghabiskan 12 tahun sebagai pemain MU (2006-2018), memenangkan banyak trofi termasuk Liga Champions di bawah Ferguson. Setelah pensiun, ia menjadi asisten pelatih MU (2018-2021), caretaker pada 2021 dengan rekor dua menang satu imbang (termasuk atas Villarreal dan Arsenal), lalu pelatih kepala Middlesbrough (2022-2025) di mana ia membawa tim ke playoff Championship dan semifinal Carabao Cup.

Baca Juga:  Cocokologi Setan Merah

Pengalaman ini membentuk gaya Carrick: possession-based, taktis fleksibel, dan fokus pada common sense. Media seperti The Guardian menyebutnya “cult of common sense” yang membuat pemain percaya lagi. Total, Carrick kini punya rekor sempurna di MU sebagai manajer: lima pertandingan (termasuk stint 2021) dengan empat kemenangan dan satu imbang, termasuk dua kali mengalahkan Arsenal 3-2.

Pemain seperti Matheus Cunha juga bersinar, dengan gol krusial yang menunjukkan semangat tim baru. Kemenangan atas City dan Arsenal membawa MU masuk zona Liga Champions, 12 poin di belakang Arsenal tapi dengan momentum positif.

Dari Bulan Madu ke Takhta Abadi King United

Meski euforia tinggi, Carrick tetap rendah hati: “Saya tidak mau terbawa suasana. Dua laga itu membawa emosi, tapi harus paham mengapa hasil itu didapat.” Konsistensi selalu menjadi momok MU pasca-Ferguson: sering menang big match tapi kalah dari tim kecil. Dengan 15 laga tersisa, tantangan berikutnya adalah Fulham, Tottenham, dan West Ham, tim dengan pendekatan defensif pasif yang memaksa MU lebih proaktif menyerang, sambil waspada counter-attack.

Roy Keane skeptis: bahkan jika menang semua laga, ia tak yakin Carrick layak permanen. Paul Scholes juga ragu, meski ada rumor klub sudah memutuskan Carrick permanen karena tiga alasan: pemahaman klub, hasil instan, dan stabilitas. Namun, seperti banyak interim sebelumnya, bulan madu bisa berakhir cepat jika konsistensi hilang.

Baca Juga:  Norma Baru Gowes di Era New Normal

Apakah ini hanya “new manager bounce” atau awal era baru? Carrick telah membangkitkan “King” Manchester United dengan energi, kesatuan, dan taktik cerdas. Ujian sejati ada di depan: mempertahankan mahkota itu hingga akhir musim. Jika berhasil, Carrick bisa menjadi penerus sejati Ferguson. Saat ini, Setan Merah kembali haus gelar, dan Old Trafford bergema lagi dengan harapan.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru