back to top
Kamis, Februari 12, 2026

Indonesia Hadapi Bom Waktu Gagal Ginjal

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Gagal ginjal kronis bukan sekadar penyakit individu yang muncul tiba-tiba; ia adalah puncak gunung es yang mencuat dari lautan masalah kesehatan masyarakat yang jauh lebih luas dan dalam. Di bawah permukaan tampak yang terlihat—antrean cuci darah yang semakin panjang, mesin hemodialisis yang tak pernah berhenti berputar, dan ratusan ribu pasien yang bergantung pada prosedur seumur hidup—tersembunyi epidemi penyakit tidak menular yang berkembang tanpa hambatan: hipertensi, diabetes melitus tipe 2, obesitas sentral, dislipidemia, serta sindrom metabolik yang saling terkait satu sama lain.

Fenomena ini bukan lagi cerita kota besar semata. Ia telah merambah ke pelosok negeri, ke desa-desa petani dan nelayan yang seharusnya memiliki akses pangan segar melimpah, namun justru kini menjadi korban pola konsumsi modern yang merusak. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, dokter spesialis penyakit dalam di RSUD dr TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama, Sp.PD, menyaksikan sendiri bagaimana kasus gagal ginjal kronis terus bertambah dengan laju yang mengkhawatirkan.

“Saat ini terjadi antrean pasien untuk cuci darah,” ujarnya dengan nada yang mencerminkan keprihatinan mendalam.

Data yang ia paparkan sungguh mencengangkan: 106 pasien aktif di RSUD dr TC Hillers, terdiri dari 70 pasien reguler dan 36 orang dalam daftar tunggu. Di Rumah Sakit St Gabriel Kewa, terdapat 41 pasien aktif ditambah satu orang lagi mengantre. Yang lebih mengguncang adalah fakta bahwa sebagian dari mereka adalah anak-anak dan remaja.

“Trennya memang sekarang risiko gagal ginjal semakin banyak dialami usia muda juga,” tegas Asep.

Usia produktif yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga dan bangsa, kini terjebak dalam siklus perawatan seumur hidup yang melelahkan secara fisik, emosional, dan finansial.

Kondisi di Flores bukan pengecualian, melainkan cerminan nasional yang lebih besar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pada 9 Februari 2026, menyampaikan angka yang sama-sama mengejutkan: “Totalnya 200.000-an. Tiap tahun bertambah 60.000 pasien baru.” Artinya, setiap hari, rata-rata lebih dari 160 orang Indonesia didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium akhir dan memasuki daftar pasien hemodialisis. Angka ini terus naik tanpa tanda-tanda akan melandai dalam waktu dekat.

Baca Juga:  Kekurangan Tidur di Kalangan Santri dan Cara Menyiasatinya

Gagal ginjal kronis, sebagaimana dijelaskan oleh Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. dr. Herawati Supolo Sudoyo, PhD, merupakan hasil akumulasi kerusakan bertahun-tahun yang hampir selalu berakar pada faktor-faktor yang dapat dicegah: tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, kadar gula darah yang terus melonjak, penumpukan lemak visceral, serta pola makan tinggi gula, garam, dan lemak trans.

“Apa yang kita lihat pada pasien gagal ginjal hanyalah ujungnya. Di bawahnya ada masalah besar: obesitas, hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik lain,” ungkapnya dengan tegas.

Penelitian lapangan yang dilakukan tim MRIN-UPH di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, memberikan gambaran yang sangat gamblang tentang ironi besar yang sedang terjadi di tanah air. Di Desa Lela, sebuah desa petani, dan di komunitas nelayan Bajo, lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral meskipun mayoritas melakukan aktivitas fisik berat setiap hari. Tekanan darah mayoritas berada di kategori pra-hipertensi hingga hipertensi derajat dua. Kadar LDL (kolesterol jahat) tinggi, HDL (kolesterol baik) rendah, dan tak sedikit yang sudah memasuki fase pradiabetes bahkan diabetes terkonfirmasi. Yang paling mengkhawatirkan: hampir sepertiga responden menunjukkan penurunan fungsi ginjal, dan sebagian telah mencapai stadium gagal ginjal kronis—padahal usia mereka masih relatif muda.

Ironi terbesar terletak pada perubahan pola konsumsi. Masyarakat yang tinggal di tepi laut dengan ikan melimpah, atau di lereng bukit dengan umbi-umbian dan sayur mayur berlimpah, kini justru lebih sering mengonsumsi minuman kemasan manis, mi instan, sosis, nugget, kopi susu gula berlebih, dan makanan ultra-olahan lainnya.

Baca Juga:  Telejemaah, Aplikasi Mudah Pantau Kesehatan Jemaah Haji

“Dari minuman saja, banyak orang sudah melewati batas konsumsi gula harian yang dianjurkan. Kalau kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun, tubuh kita yang menanggung akibatnya,” kata Safarina G. Malik, peneliti utama MRIN-UPH.

Di sisi lain, beban ekonomi yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Meskipun BPJS Kesehatan menanggung biaya hemodialisis, pasien tetap harus menanggung ongkos transportasi, terkadang puluhan hingga ratusan kilometer, biaya makan, biaya pendamping, serta hilangnya hari kerja. dr. Asep Purnama memperkirakan, jika harus membayar sendiri, sekali sesi cuci darah bisa mencapai sekitar Rp 1 juta.

“Orang kaya sekalipun bisa jatuh miskin kalau tidak ditanggung BPJS. Tapi, di sisi lain, beban BPJS pasti sangat besar. Asuransi swasta pasti tidak mau kalau tahu ada pasien gagal ginjal. Biaya kesehatan kita akan jebol kalau kita tidak berupaya mencegahnya sejak dini,” tegasnya.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: semakin banyak pasien yang masuk ke program hemodialisis, semakin besar tekanan pada anggaran negara, semakin panjang antrean, semakin terlambat penanganan, dan semakin buruk prognosis pasien. Di daerah terpencil seperti Pulau Lembata, pasien yang membutuhkan cuci darah rutin sering kali hanya bisa “didoakan saja” karena ketiadaan fasilitas. Di daerah yang sudah memiliki mesin dialisis, antrean panjang membuat pasien harus menunggu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, padahal idealnya hemodialisis dilakukan tepat waktu sesuai jadwal.

Lebih dari itu, gagal ginjal kronis juga memperburuk ketimpangan sosial. Keluarga pasien sering kali harus memilih antara melanjutkan pekerjaan harian demi nafkah atau menemani orang terkasih ke unit dialisis. Banyak yang akhirnya kehilangan sumber penghasilan, terjebak dalam kemiskinan baru, dan anak-anak mereka terpaksa putus sekolah. Beban psikologis pun tak kalah berat: rasa putus asa, stigma “sakit seumur hidup”, hingga depresi yang kerap menyertai pasien dan keluarganya.

Baca Juga:  MDMC Sampaikan Strategi Kebijakan Penanggulangan Bencana di Forum ASEAN

Di tengah krisis ini, pencegahan primer menjadi satu-satunya jalan keluar yang realistis. Edukasi masyarakat tentang batas konsumsi gula harian (idealnya kurang dari 50 gram atau 4 sendok makan per hari menurut WHO), pengurangan garam (maksimal 5 gram/hari), pembatasan lemak jenuh dan trans, serta peningkatan konsumsi sayur, buah, ikan, dan umbi-umbian lokal harus menjadi prioritas nasional. Kampanye antirokok dan pengendalian konsumsi alkohol juga tak boleh diabaikan, karena keduanya mempercepat kerusakan pembuluh darah dan memperburuk fungsi ginjal.

Pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan media memiliki peran besar dalam mengubah paradigma. Pajak tinggi pada minuman manis kemasan, regulasi ketat iklan makanan ultra-olahan yang menyasar anak-anak, penyediaan kantin sehat di sekolah dan kantor, serta program skrining rutin hipertensi dan diabetes di tingkat desa adalah langkah-langkah konkret yang bisa segera diimplementasikan. Dokter dan tenaga kesehatan juga perlu lebih agresif memberikan konseling gaya hidup sejak pasien masih berada di fase pra-penyakit.

Tanpa perubahan sistemik dan perubahan perilaku kolektif, Indonesia akan terus menyaksikan antrean cuci darah yang semakin panjang, anggaran kesehatan yang jebol, serta generasi muda yang seharusnya produktif justru terikat pada mesin dialisis. Gagal ginjal kronis bukanlah nasib yang tak terelakkan ia adalah akibat dari pilihan kolektif yang masih bisa kita koreksi hari ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu mencegahnya, melainkan apakah kita mau melakukannya sebelum bom waktu ini benar-benar meledak dan meninggalkan kerusakan yang jauh lebih sulit diperbaiki.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru