back to top
Kamis, Maret 5, 2026

Muhammadiyah yang Luas dan Luwes

Lihat Lainnya

Sore itu, saya sedang membaca biografi Lukman Harun, seorang tokoh Muhammadiyah yang tidak seterkenal nama-nama besar seperti Syafii Maarif atau Amien Rais. Saya ingin membaca kiprah internasional Lukman Harun. Namun, secara tidak sengaja, saya menemukan kisah ketika Lukman Harun yang lain, yaitu ketika ia berselisih dengan Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu.

Perselisihan ini didasari oleh sikap tidak sepakat Lukman Harun atas pendekatan Amien Rais yang sangat keras terhadap rezim Orde Baru. Sebagaimana diketahui, Amien Rais adalah salah satu tokoh paling menonjol dalam proses reformasi 98. Sejak awal 90an, tokoh ini dengan lantang menyerukan suksesi kepemimpinan nasional, bahkan saat kekuasaan Soeharto masih begitu kuat.

Keberanian inilah yang mendongkrak popularitas Amien Rais hingga ia terpilih pada Muktamar Aceh 1995 sebagai Ketua Umum. Pasca Muktamar Aceh, Amien makin semangat menggulirkan reformasi. Konon, fotonya menghiasi ribuan rumah aktivis Muhammadiyah di berbagai daerah. Ceramahnya menjadi salah satu ceramah yang paling ditunggu di seantero Indonesia. Tulisan-tulisannya di koran membakar semangat warga Muhammadiyah untuk melakukan perlawanan.

Tentu penggalan kisah Lukman Harun itu tidak populer. Ia adalah satu fragmen yang dianggap “menyimpang” dari pakem yang ada. Namun, kisah ini memberi pelajaran. Bahwa sejarah Muhammadiyah adalah sejarah yang hidup dan dinamis. Dinamis berarti tidak beku seperti dalam teks-teks sakral yang ditanfidzkan setiap sekian tahun sekali.

Baca Juga:  Ketika Orang Lain Berbuat Maksiat, Benci Perbuatan atau Pelakunya?

Sejarah Muhammadiyah terus berkembang, membentur sudut-sudut yang sulit, lalu terbentuk dalam wujud yang berbeda-beda pada setiap masa. Hajriyanto Y Thohari pernah membuat sebuah istilah yang sangat unik, yaitu “teologi anti-jabatan”, untuk menggambarkan sebuah paham yang mewarisi semangat anti pemerintahan.

Teologi anti-jabatan berarti menganggap siapapun yang berada di dalam pemerintahan sebagai orang yang berdosa. Sebaliknya, menganggap siapapun yang berada di luar pemerintahan sebagai orang baik, suci. Bagi organisasi sebesar Muhammadiyah, simplifikasi seperti ini tentu tidak baik—untuk tidak mengatakan berbahaya.

Etos Muhammadiyah sejak berdiri adalah melakukan kebaikan. Ketika batu pertama Qismul Arqa di Kauman diletakkan oleh Ahmad Dahlan, sejak saat itulah komitmen untuk terus berbuat baik melekat dalam identitas Muhammadiyah. Dalam melakukan kebaikan, berbagai cara bisa dilakukan. Baik di dalam maupun di luar pemerintah.

Inilah yang menjadi basis nilai bagi Muhammadiyah. Kader Muhammadiyah sejak dini diajarkan untuk melakukan perbaikan. Berkontribusi, kecil atau besar, sesuai kapasitas masing-masing. Sebagaimana sering dikhutbahkan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam Surat Yusuf ayat 67, “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain.”

Pintu yang banyak itu menggambarkan ragamnya pola pikir manusia yang berbeda-beda, yang menghasilkan pendekatan yang berbeda dalam memecahkan masalah. Sebagai organisasi yang besar, sangat wajar jika pendekatan yang dipilih untuk memberikan kebaikan pada kemanusiaan itu beragam, tidak seragam. Sebagaimana sebuah kredo klasik berkata, persatuan itu menguatkan.

Baca Juga:  QS al-Mu'minun Ayat 18: Tiga Watak Hujan

Walaupun memiliki pendekatan yang berbeda-beda, rasanya tak perlu memaksa Muhammadiyah untuk mengikuti pandangan-pandangan pribadi. Muhammadiyah sebagai organisasi memiliki banyak pertimbangan dan kepentingan. Dengan demikian, pandangan-pandangan resmi organisasi akan sedikit banyak berbeda dengan pandangan personal. Keduanya memiliki basis pertimbangan yang berbeda.

Muhammadiyah memang harus moderat. Menerima semua pertimbangan secara masak-masak. Menjadi organisasi yang luas dan luwes. Payung besar bagi berbagai anak bangsa yang punya beragam ekspresi.

Pun dengan kader-kadernya. Kader harus diberikan kepercayaan yang tinggi untuk masuk ke berbagai lini yang strategis. Jika kader sendiri tidak dipercaya, maka siapa lagi yang percaya kepada mereka?

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru