IBTimes.ID – Muhammadiyah dinilai telah berkembang jauh melampaui batas geografis Indonesia. Jika pada awal berdirinya dikenal sebagai gerakan lokal dari Yogyakarta, kini Gerakan Persyarikatan ini telah bertransformasi menjadi gerakan Islam yang mendapat pengakuan dan kepercayaan di tingkat internasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), Bachtiar Dwi Kurniawan, dalam kegiatan Pengajian dan Buka Puasa Bersama di Pontianak, Jumat (6/3).
Menurut Bachtiar, perkembangan Persyarikatan saat ini menunjukkan ekspansi organisasi yang sangat luas. Struktur organisasi tidak hanya berada di tingkat pusat, tetapi juga mengakar hingga ke ranting dan komunitas masyarakat.
“Perkembangan Muhammadiyah sudah sedemikian rupa, organisasinya tumbuh meluas bahkan mengakar. Tidak hanya ada di Pimpinan Pusat, tapi juga di Pimpinan Ranting bahkan di jemaah akar rumput. Setiap kita menolehkan wajah, kita akan berjumpa dengan Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Gerakan Persyarikatan tidak lagi sekadar menjadi fenomena nasional, tetapi telah berkembang sebagai jaringan gerakan Islam global yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Jaringan Dakwah hingga Mancanegara
Bachtiar menjelaskan bahwa kader Muhammadiyah saat ini dapat ditemukan di berbagai negara di sejumlah benua, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, Australia hingga Amerika. Kehadiran kader dan jaringan Persyarikatan di luar negeri turut memperluas pengaruh dakwah Persyarikatan.
Ia bahkan mencontohkan pengalaman ketika berada di Tanah Suci. Kehadiran kader Persyarikatan di berbagai tempat, menurutnya, sering kali memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi jamaah yang sedang beribadah.
Menurut Bachtiar, perkembangan tersebut tidak hanya menunjukkan kekuatan organisasi, tetapi juga menggambarkan tingkat kepercayaan publik internasional terhadap Persyarikatan yang semakin meningkat.
Kepercayaan Internasional terhadap Muhammadiyah
Dalam ceramahnya, Bachtiar juga mengungkap contoh nyata kepercayaan internasional terhadap Persyarikatan. Ia menceritakan adanya pihak dari Kamboja, negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, yang ingin menyerahkan pengelolaan aset pendidikan kepada Persyarikatan.
“Ada orang di luar negeri menghubungi Muhammadiyah. Mereka punya sekolah, punya pesantren, punya aset di sana, dan ingin memberikan aset tersebut kepada Muhammadiyah. Padahal Muhammadiyah belum berdiri di Kamboja. Tapi mereka bilang: ‘Nek ora Muhammadiyah, ora’ (Kalau tidak Muhammadiyah, tidak). Mereka maunya hanya Muhammadiyah yang mengelola,” ungkap Bachtiar.
Ia juga menyinggung fenomena serupa yang terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat. Di daerah tersebut, tokoh masyarakat yang bukan berasal dari Persyarikatan justru memberikan kepercayaan besar dengan mewakafkan aset pendidikan kepada Persyarikatan.
Di akhir penyampaiannya, Bachtiar berharap para kader Persyarikatan yang sedang menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri, dapat kembali ke daerah masing-masing untuk mengembangkan gerakan Persyarikatan.
Dengan demikian, kehadiran Persyarikatan di berbagai wilayah tidak hanya memperkuat jaringan organisasi, tetapi juga memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan umat.
(NS)


