back to top
Selasa, Maret 10, 2026

Masa Depan Aktivis di Tengah Generasi Hegemonik dan Permisif

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Di banyak kampus, ruang-ruang organisasi kemahasiswaan masih berdiri. Bendera tetap berkibar, jargon tetap diteriakkan, pelantikan tetap dilaksanakan dengan protokoler yang rapi. Namun, ada yang berubah secara diam-diam: menjadi aktivis tidak lagi otomatis menjadi obsesi mahasiswa. Ia bukan lagi mahkota prestise sebagaimana era 1990-an atau awal Reformasi ketika aktivisme identik dengan keberanian moral dan romantisme perubahan.

Generasi Z, yang lahir dan tumbuh bersama gawai, tidak mau dikurung dalam sangkar ideologis yang terasa primordial dan sempit. Mereka lebih suka melanglang buana lintas batas, seperti layar ponsel yang menghubungkannya dengan dunia. Jika dulu diskusi ideologis di ruang-ruang sekretariat menjadi satu-satunya jendela, kini algoritma menyodorkan ribuan perspektif dalam hitungan detik. Doktrin fanatis yang dibangun dengan diksi-diksi heroik kerap kalah oleh data global, podcast lintas negara, dan perbandingan sistem sosial-politik yang terbuka lebar.

Pertanyaannya: apakah ini kemunduran daya kritis, atau justru transformasi bentuknya?

Aktivisme yang Kehilangan Makna

Kita perlu jujur mengakui, sebagian organisasi kemahasiswaan memang kehilangan daya gugahnya. Visual media sosial mereka tampak estetik; desain konten rapi; caption penuh kutipan filosofis. Namun, keindahan visual sering tak sebanding dengan kualitas gagasan. Status yang indah belum tentu melahirkan daya kritis. Feed Instagram tidak otomatis menjelma menjadi gerakan sosial.

Di banyak kampus, kabar burung menyebutkan ruang-ruang ideologis telah ditata rapi oleh “para senior”. Regenerasi berlangsung mulus, terlalu mulus. Siapa menduduki jabatan apa kerap telah dipetakan jauh hari. Gesekan intelektual minim. Perdebatan substansial jarang terdengar. Aktivisme yang semestinya menjadi ruang latihan demokrasi justru berubah menjadi arena konsolidasi kekuasaan kecil-kecilan.

Padahal sejarah Indonesia menunjukkan, mahasiswa pernah menjadi kekuatan moral bangsa. Pada 1966, mahasiswa melalui organisasi ekstra dan intra kampus menjadi motor tekanan terhadap rezim Soeharto yang menggantikan Sukarno. Pada 1998, gelombang mahasiswa berperan penting dalam kejatuhan Soeharto. Aktivisme saat itu bukan sekadar simbol; ia adalah energi perubahan.

Baca Juga:  Revolusi Pancasila: Pancasila sebagai Jalan Hidup Berbangsa

Kini, di tengah banyaknya ketidakadilan struktural, dari korupsi, krisis ekologis, hingga ketimpangan ekonomi, suara mahasiswa sering terdengar lirih. Hanya satu dua yang konsisten bersuara. Mayoritas memilih diam atau sibuk pada orbitnya masing-masing.

Generasi Cair dan Dunia Tanpa Sekat

Namun menyalahkan generasi Z sebagai permisif adalah simplifikasi. Mereka cair secara ideologis. Mereka bisa bergaul dengan banyak kalangan. Mereka tidak mudah takluk pada klaim kebenaran tunggal. Dalam banyak hal, ini justru kemajuan. Fanatisme buta berkurang. Polarisasi ideologis yang ekstrem dapat diredam.

Generasi ini juga pragmatis. Mereka melihat peluang ekonomi digital, membangun bisnis daring, menjadi kreator konten, atau mengembangkan personal branding. Mereka sadar bahwa stabilitas finansial bukan dosa ideologis. Dalam dunia yang tidak pasti, fleksibilitas adalah strategi bertahan hidup.

Masalahnya bukan pada kecairan itu, melainkan pada absennya orientasi etik dan keberanian moral. Ketika semua cair, apakah ada nilai yang diperjuangkan? Ketika semua relatif, adakah kebenaran yang dibela?

Hegemoni mayoritas yang terlalu dominan membuat rivalitas intelektual memudar. Organisasi yang terlalu kuat tanpa penantang cenderung stagnan. Seperti pesilat tangguh yang tak pernah bertarung, jurus-jurusnya melemah dengan sendirinya. Tanpa gesekan, kedewasaan tak lahir.

Aktivisme Simbolik vs Aktivisme Substantif

Kita menyaksikan pergeseran dari aktivisme substantif ke aktivisme simbolik. Aksi diganti kampanye digital. Diskusi mendalam diganti webinar seremonial. Riset kritis diganti repost infografik.

Padahal daya kritis tidak lahir dari konsumsi informasi, melainkan dari pergulatan argumentasi. Ia membutuhkan ruang perdebatan yang sehat, keberanian berbeda pendapat, dan risiko sosial untuk menyatakan sikap.

Dalam konteks ini, problem aktivisme hari ini bukan semata karena generasi yang permisif, tetapi karena organisasi gagal beradaptasi dengan lanskap baru. Mereka masih menggunakan pola lama untuk generasi baru.

Baca Juga:  Khutbah Setelah Shalat Gerhana, Apakah Wajib?

Alternatif: Aktivisme yang Relevan bagi Generasi Z

Jika aktivisme ingin memiliki masa depan, ia harus direkonstruksi. Bukan sekadar mempertahankan simbol, tetapi mendesain ulang ekosistemnya.

Pertama, geser dari indoktrinasi ke literasi kritis.

Generasi Z alergi pada doktrin sepihak. Mereka lebih menerima ruang dialog terbuka berbasis data. Organisasi harus menjadi laboratorium pemikiran, bukan pabrik kader. Diskusi perlu berbasis riset, bukan sekadar reproduksi narasi senior.

Kedua, integrasikan aktivisme dengan kompetensi profesional.

Mahasiswa tidak mau merasa waktunya terbuang. Aktivisme harus memberi nilai tambah: kemampuan riset kebijakan, advokasi hukum, manajemen proyek sosial, hingga literasi digital. Aktivis masa depan harus kompeten sekaligus kritis.

Ketiga, manfaatkan teknologi sebagai alat gerakan, bukan sekadar etalase.

Algoritma bisa menjadi musuh, tetapi juga sekutu. Kampanye digital berbasis data, petisi daring yang terhubung dengan advokasi nyata, hingga pemetaan isu berbasis big data bisa menjadi wajah baru gerakan mahasiswa.

Keempat, bangun ruang lintas ideologi.

Alih-alih mengurung diri dalam kelompok kecil, organisasi bisa menjadi forum kolaborasi lintas latar belakang. Generasi Z menyukai jejaring yang cair. Maka gerakan pun harus kolaboratif, bukan eksklusif.

Kelima, kembalikan keberanian moral.

Ini inti yang tak boleh hilang. Aktivisme bukan soal jabatan, melainkan keberanian menyuarakan kebenaran. Tanpa ini, semua strategi hanya kosmetik.

Dari Romantisme ke Relevansi

Aktivisme tidak bisa lagi dijual dengan romantisme sejarah. Generasi hari ini tidak mengalami langsung 1998. Mereka tidak merasakan atmosfer revolusioner itu. Maka memanggil mereka dengan nostalgia adalah sia-sia.

Yang dibutuhkan adalah relevansi. Bagaimana gerakan mahasiswa mampu menjawab keresahan kontemporer: kecemasan kerja, krisis iklim, kesehatan mental, hingga politik identitas. Aktivisme harus hadir di isu yang benar-benar menyentuh hidup mereka.

Kampus tidak boleh menjadi ruang steril dari konflik sosial. Ia harus menjadi miniatur demokrasi. Jika hari ini mahasiswa tak lagi kritis, maka masa depan bangsa kehilangan salah satu penyeimbangnya.

Baca Juga:  Tiga Fondasi Keluarga Maslahat, Apa Saja?

Ancaman Nyata: Demokrasi Tanpa Oposisi

Demokrasi tanpa oposisi yang kuat cenderung melahirkan oligarki. Jika mahasiswa—yang secara historis berperan sebagai moral force, memilih netral dalam arti apatis, maka ruang kritik akan diisi oleh kepentingan sempit.

Permisivitas berlebihan dapat berubah menjadi ketidakpedulian. Dan ketidakpedulian adalah pupuk subur bagi ketidakadilan.

Namun kita juga tak boleh terjebak pada pesimisme. Setiap generasi memiliki bentuk perlawanan sendiri. Mungkin mereka tidak turun ke jalan setiap saat, tetapi mereka mampu menggalang solidaritas digital lintas negara. Mungkin mereka tidak berteriak lantang, tetapi mereka menekan melalui opini publik global.

Tugas kita adalah menjembatani energi itu dengan arah yang jelas.

Menyalakan Kembali Api

Masa depan aktivis bukan ditentukan oleh seberapa sering mereka membuat konten, tetapi seberapa dalam mereka berpikir dan seberapa berani mereka bertindak. Organisasi kemahasiswaan harus berani melakukan otokritik: apakah mereka masih relevan, atau sekadar mempertahankan eksistensi?

Generasi Z tidak anti-aktivisme. Mereka hanya anti-kemunafikan, anti-formalisme kosong, dan anti-hegemoni yang membungkam. Jika organisasi mampu menghadirkan ruang yang autentik, egaliter, dan berbasis gagasan, maka daya kritis akan tumbuh kembali.

Pesilat yang lama tak bertarung memang berisiko melemah. Tetapi jurusnya tidak hilang. Ia hanya perlu arena.

Aktivisme hari ini mungkin tertidur, menikmati kenyamanan semu. Namun sejarah menunjukkan, ketika ketidakadilan mencapai titik jenuh, mahasiswa selalu menemukan jalannya. Pertanyaannya: apakah kita menunggu ledakan, atau menyiapkan ekosistem yang sehat sejak sekarang?

Masa depan aktivis di tengah generasi hegemonik dan permisif tidak harus suram. Ia bisa menjadi lebih matang, lebih cerdas, dan lebih relevan, asal berani bertransformasi. Jika tidak, organisasi akan tinggal menjadi museum simbolik, indah dalam foto, tetapi kosong makna.

Dan bangsa yang kehilangan mahasiswa kritis adalah bangsa yang berjalan tanpa cermin.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru