back to top
Selasa, Maret 10, 2026

Sudarnoto Abdul Hakim, Sosok Sentral Gerakan Pro Palestina di Indonesia

Lihat Lainnya

Di suatu malam di Jakarta. Satu hari setelah Aksi Damai Bela Palestina digelar di Monas pada akhir 2023, ada dua anak SD yang datang ke kantor MUI. Mereka diantar oleh orang tua mereka. Di kantor MUI, kedua anak tersebut menyerahkan tabungan kaleng mereka agar disalurkan ke Gaza.

“Kasian kawan-kawanku kalau kena begini,” ujar kedua bocah tersebut.

Perlu waktu yang panjang bagi mereka untuk mengumpulkan recehan di dalam kaleng tersebut. Namun, begitu mendengar berita tentang bombardir Gaza, hati mereka yang masih begitu bersih itu tergerak. Memberikan apa yang mereka cintai, merelakan uang jajan yang barangkali diperuntukkan untuk beli mainan tahun depan.

“Saya terharu betul waktu itu,” ujar Pak Noto kepada saya.

Tentu Anda tidak asing dengan nama Sudarnoto Abdul Hakim. Ia dikenal sebagai aktivis Palestina di Indonesia. Profilnya lengkap: guru besar, aktivis, penulis produktif, dan intelektual publik.

Sepenggal kisah di atas ia ceritakan ketika kami mendiskusikan pengalaman-pengalamannya dalam menjalani hidup sebagai aktivis pro-Palestina.

Saya lebih suka menyebut Pak Noto sebagai payung besar. Ia memang payung besar. Jabatannya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional membuatnya menjadi tokoh sentral di balik setiap kampanye dan gerakan pro Palestina di Indonesia.

Hal ini tidak berlebihan, mengingat bahwa ia merupakan sosok yang menghubungkan berbagai gerakan, komunitas, organisasi atau apapun bentuknya yang jumlahnya sangat banyak itu.

Peran Advokasi Publik

Pak Noto adalah sosok yang selalu menjadi pengawas dari berbagai upaya pelanggaran konstitusi. Terutama konstitusi yang mengamanatkan Indonesia untuk menolak segala bentuk penjajahan di atas muka bumi. Dalam setiap upaya pendekatan hubungan diplomatik Indonesia-Israel, ia selalu berteriak di barisan terdepan. Mengingatkan pemerintah akan pentingnya dukungan moral terhadap bangsa yang terjajah. Menyerukan akan bahaya normalisasi hubungan dengan negara yang masih melakukan praktik penjajahan atas bangsa yang lain, yaitu Israel.

Baca Juga:  Try Sutrisno, Serdadu Penjaga Stabilitas Orde Baru

Maka, ketika tim sepakbola Israel akan datang ke Indonesia untuk ajang Piala Dunia U-20 tahun 2023, ia menolak keras. Bersama barisan sipil yang lain, ia menuntut agar Israel tidak diperbolehkan datang ke Indonesia, apapun konsekuensinya, karena Indonesia dan Israel tidak ada hubungan diplomatik. Batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah harga yang harus dibayar demi tegaknya konstitusi, demi dukungan akan sebuah bangsa yang tertindas, dan memberi pelajaran kepada penjajah yang bengis.

Pun dalam kasus perlombaan gymnastic yang digelar di Jakarta. Publik mencium bahwa atlet dari Israel akan ikut berlomba. Maka ia pun berteriak. Menyuarakan kebenaran. Hasilnya, pemerintah menolak kehadiran Israel di ajang tersebut, tidak menerbitkan visa.

Pun dalam isu yang terbaru: Board of Peace. Ketika Indonesia tampak lebih suka duduk bersama dengan Amerika dan Israel daripada benar-benar berjuang untuk Palestina. Tak hanya mengkritik, ia pun membuat kajian akademik soal itu, sebagai masukan untuk pemerintah.

“Kami juga ingin membantu pemerintah, agar pemerintah memperoleh masukan argumentasi yang berdasarkan kapada data-data empirik,” ujarnya.

Advokasi publik yang ia lakukan ini bersifat dua arah: ke atas dan ke bawah. Ke atas, ia sering melakukan korespondensi dengan pihak-pihak terkait di eksekutif maupun legislatif. Ke bawah, ia melakukan gerakan penyadaran masyarakat.

Gerakan Kolaborasi Internasional Pro Palestina

Dalam melakukan kerja-kerja untuk Palestina, Pak Noto tidak sendirian. Mitra yang ia gandeng tidak hanya di Indonesia, namun juga mancanegara. Pada akhir 2025, ia menggelar Asia-Pacific conference for al-Quds  and Palestine bersama dengan hampir seluruh negara di Asia Pasifik. Salah satu hasil dari dialog tersebut adalah Indonesia dipercaya sebagai Headquorter aliansi Asia Pasifik untuk al-Quds dan Palstina dan dibentuknya gerakan dana abadi (waqaf atau endowment) untuk Palestina yang diketuai oleh Indonesia. Saat ini, ia dan timnya tengah menyiapkan mekanisme kerja kantor pusat dan gerakan dana abadi tersebut. Rencana ini sudah dipresentasikan di Istanbul dalam forum Global Coallition for al-Quds and Palestina tanggal 7-8 November yang lalu.

Baca Juga:  Sejauh Mana Ancaman Trump Terhadap Iran?

Ini menjadi bukti bahwa dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, kekuatan sipil Indonesia dipercaya oleh dunia. Penunjukan Indonesia sebagai kantor pusat koalisi dan gerakan dana abadi Asia Pasifik akan meningkatkan daya tawar Indonesia dalam diplomasi melalui kekuatan sipil, serta menjadi amal kebaikan bagi aktivis-aktivis pro Palestina di Indonesia.

Gerakan Akademik

Selain sebagai aktivis, jati diri Pak Noto yang lain adalah pendidik. Ia merupakan guru besar bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam di UIN Jakarta. Maka ia tak pernah lepas dari dunia akademik. Ia menggunakan dunia akademik sebagai salah satu medan perjuangan untuk membela Palestina.

Di kampus, ia selalu mendorong mahasiswa untuk menulis karya tulis, termasuk skripsi, tesis, dan disertasi, tentang Palestina. Pak Noto menyediakan diri menjadi pembimbingnya. Dalam keyakinan Pak Noto Karya tulis tentang Palestina sedikit banyak akan berkontribusi pada kemerdekaan Palestina. Bagaimanapun, penjajahan terhadap bangsa dilakukan melalui berbagai medan, termasuk medan ilmu pengetahuan.

Maka, dekolonialisasi terhadap ilmu pengetahuan yang telah mapan, yang cenderung pro terhadap penjajah, harus dilakukan. Proses pembongkaran terhadap manipulasi data—sejarah, sosial, politik—menjadi salah satu prasyarat mutlak bagi terbebasnya Palestina dari belenggu kolonialisme. Karena itu jugalah Pak Noto juga aktif menulis buku dan artikel tentang Palestina. Bahkan dia juga memimpin tim MUI untuk menulis sejumlah buku tentang Palestina.

Kampanye kebudayaan juga menjadi hal penting yang kerap ia lakukan bersama jaringan aktivis pro Palestina. Menggelar pameran, pertunjukkan, seni budaya, dan lain sebagainya. Singkatnya, berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan kesadaran publik bahwa Indonesia sebagai bangsa yang anti-penjajahan harus hadir membela Palestina.

Baca Juga:  Fazlur Rahman dan Gagasan Neo-Modernisme Islam

Gerakan Kemanusiaan

Tak afdhol rasanya jika aktivis gerakan pro Palestina tidak turun langsung dalam gelanggang kemanusiaan. Itu pula yang dilakukan oleh Pak Noto. Ia turun langsung ke Palestina dan juga Mesir dan Yirdania serta daerah-daerah di kawasan sekitar untuk mengkoordinir pengiriman bantuan kemanusiaan yang rutin disalurkan ke Palestina. Kalau Anda pernah mendengar rumah sakit milik Indonesia di Hebron, Pak Noto lah ketua panitia pembangunannya.

Jejaringnya di Timur Tengah antara lain melalui KBRI di Mesir dan Yordania yang luas membuatnya menjadi orang penting di balik setiap penyaluran bantuan. Di kawasan konflik, penyaluran bantuan tak pernah mudah. Apalagi menghadapi rezim apartheid seperti Israel, segala upaya akan dilakukan untuk memblokade bantuan yang akan masuk atau menjarah bantuan yang sudah di dalam. Namun, berkat kerja keras dan keseriusan aktivis-aktivis di Indonesia dan di kawasan, bantuan kemanusiaan di Indonesia hampir selalu sampai kepada tujuan dengan selamat.

Dalam rangka kelancaran program kemanusiaan ini juga ia berusaha memperkjuat jalinan (engagement) dan kordinasi antara lembaga-lembaga filantropi dan kemanusiaan seperti Baznas, Rumah Zakat, FOZ, Islamic Relief dan puluhan lainnya termasuk lembaga internasional, pemerintah, dan Parlemen. Koalisi Asia Pasifik untuk Gaza adalah satu contoh langkah yang ditempuh pak Noto bersama dengan berbagai lembaga kemanusiaan, bela Palestina lainnya di wilayah Asia Pasifik.

Akhirnya, figur Pak Noto menjadi figur sentral dalam perjuangan menuju kemerdekaan Palestina di Indonesia. Ia menjadi pihak yang menghubungkan satu simpul gerakan dengan simpul yang lain. Ia merupakan titik temu dari berbagai ormas, komunitas, kelompok, dan gerakan pro Palestina, termasuk menjadi penyambung lidah rakyat untuk penguasa. Jabatannya di MUI ia manfaatkan sebagai shodiqul hukumah atau mitra pemerintah yang memberikan berbagai masukan, baik berupa kritik maupun saran.

(YY)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru