IBTimes.ID – Muhammadiyah dan Iran menegaskan kesamaan visi dalam melawan segala bentuk kezaliman, penjajahan, serta upaya normalisasi kejahatan di tingkat global. Kesepahaman ini mengemuka dalam pertemuan silaturahmi antara Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A. Mughni dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Kantor Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Muhammadiyah dalam diplomasi moral internasional, terutama di tengah meningkatnya konflik dan eskalasi kekerasan di berbagai belahan dunia.
Syafiq menegaskan bahwa perjuangan melawan kezaliman bukan hanya agenda dua pihak, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa dan komunitas global yang menjunjung keadilan.
“Kezaliman dalam bentuk apapun harus kita lawan, dan kita tegakkan bersama-sama keadilan. Dan masyarakat sudah tahu negara mana yang banyak melakukan kezaliman di dunia ini,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahaya normalisasi kejahatan, khususnya ketika serangan terhadap negara berdaulat dianggap sebagai hal biasa dalam hubungan internasional.
“Kita sepakat jangan ada normalisasi kejahatan. Jadi menyerang negara lain yang berdaulat itu adalah sebuah kejahatan dan jangan sampai ini menjadi tatanan yang normal,” katanya.
Muhammadiyah Dorong Gerakan Anti Perang dan Perdamaian Dunia
Dalam pertemuan tersebut, Muhammadiyah juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong gerakan anti perang sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan global.
Syafiq mengajak masyarakat Indonesia dan komunitas dunia untuk memperkuat kesadaran damai. Ia juga menyerukan sanksi moral dan etik bagi pihak-pihak yang memulai peperangan.
“Kita anti perang dan karena itu siapapun yang mulai melakukan peperangan maka harus dihukum secara bersama-sama, baik secara moral, etik, maupun dalam hubungan internasional,” ungkapnya.
Ia menilai organisasi keagamaan lintas iman perlu mengambil peran lebih besar dalam menyuarakan perdamaian. Ia juga menekankan pentingnya mencegah kekerasan menjadi norma baru.
Di sisi lain, Kanselir Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes Iran untuk Indonesia, Yahya Jahan Giri, mengapresiasi langkah Muhammadiyah. Ia menilai Muhammadiyah konsisten membawa isu perdamaian ke ruang publik internasional.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki reputasi global yang kuat dan dipercaya sebagai kekuatan moral yang mampu mempertemukan berbagai pihak di dunia Islam.
“Karena sudah sebegitu terkenal dan sudah begitu banyak ekspektasinya Muhammadiyah. Oleh karena itu, saya pikir tugas Muhammadiyah akan lebih berat tentunya di mata dunia,” ungkapnya.
Ia bahkan menilai Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk berperan dalam upaya mediasi konflik dan memberikan pencerahan kepada masyarakat dunia terkait situasi yang dihadapi Iran.
Pertemuan ini mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai kekuatan sipil Islam global yang tidak hanya fokus pada dakwah domestik, tetapi juga aktif menyuarakan keadilan, anti perang, dan perdamaian dunia.
(NS)


