IBTimes.ID – Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menjadi tuan rumah pelaksanaan International Conference on Aisyiyah Studies (ICAS) 2026, Kamis, 11 Juni 2026. Konferensi akademis internasional ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat Aisyiyah bekerja sama dengan Aisyiyah Center Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Mengangkat tema “Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization“, ICAS 2026 menjadi forum global untuk mendiskusikan gerakan, pemikiran, dan kontribusi perempuan Muslim berkemajuan di tengah tantangan dunia yang kian kompleks.
Penyelenggaraan ICAS 2026 bertepatan dengan tiga momen bersejarah secara bersamaan: Milad ke-109 Aisyiyah, peringatan 100 tahun Majalah Suara Aisyiyah, serta Milad ke-35 Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Ketua Penyelenggara, Prof. Alimatul
Qibtiyah, menyebut respons terhadap ICAS 2026 melampaui ekspektasi panitia. Tercatat 135 abstrak masuk dari berbagai penjuru dunia, dengan 115 di antaranya telah hadir sebagai makalah lengkap. Sekitar 81 persen kontributor adalah perempuan.
“ICAS bukan sekadar platform untuk mempresentasikan hasil penelitian. Konferensi ini adalah ruang intelektual yang dinamis, tempat akademisi dan praktisi bersama-sama mengeksplorasi kontribusi perempuan Muslim progresif terhadap peradaban yang berkelanjutan,” ujar Prof. Alimatul dalam laporannya.
Makalah yang dipresentasikan mencakup kontributor dari berbagai wilayah Indonesia. Jawa menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar 40 makalah, disusul Sumatera (20), Sulawesi (18), Kalimantan (12), dan Nusa Tenggara (7). ICAS 2026 juga berhasil menjangkau wilayah yang secara historis jarang terwakili dalam kajian Aisyiyah, antara lain Papua, Bangka Belitung, Bima, Parepare, Bau-Bau, dan Palangkaraya.
Secara tematik, tiga arus utama mendominasi makalah yang dipresentasikan: transformasi digital dan otoritas keagamaan, historiografi gerakan Aisyiyah, serta isu kepemimpinan perempuan dalam konteks keberlanjutan lingkungan dan ekoteologi.
Konferensi berlangsung secara hybrid: sesi tatap muka di Ruang Sidang Gedung Siti Munjiah lantai 2 Unisa Yogyakarta, serta tujuh kelas paralel online melalui Zoom. Dari total makalah yang diterima, 70 dipresentasikan secara luring.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr. Tri Hastuti Nurhaimah, M.Si., dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa perempuan adalah agen perubahan yang telah terbukti selama 109 tahun perjalanan Aisyiyah.
“Kita bukan sekadar menanti perubahan. Kitalah yang membawa perubahan dan membangun peradaban dunia yang adil dan damai,” tegasnya di hadapan peserta.
Dr. Tri Hastuti juga menyoroti kondisi global yang mendesak, mulai dari lebih dari 600 juta orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, krisis ekologi, hingga meluasnya disinformasi di ruang digital. Ia menyebut solidaritas sebagai prinsip dan strategi utama Aisyiyah dalam merespons tantangan tersebut.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., turut memberikan keynote speech melalui tayangan video. Ia menekankan bahwa universitas harus menjadi pusat solusi yang menghasilkan pengetahuan dan inovasi, dan perempuan harus memiliki kesempatan setara untuk memimpin di bidang sains, teknologi, dan pendidikan tinggi.
Rektor Unisa Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan bahwa ICAS 2026 menjadi bagian dari ikhtiar intelektual menuju Muktamar Aisyiyah 2027 di Sumatera Utara. Ia menegaskan komitmen Unisa Yogyakarta sebagai universitas yang lahir dari rahim gerakan perempuan Muhammadiyah.
“Unisa Yogyakarta lahir dari gerakan perempuan, tumbuh bersama gerakan perempuan, dan akan terus berkontribusi untuk kemajuan perempuan dan kemaslahatan semesta,” ujarnya.
Konferensi ini mendapat dukungan dari Universitas Aisyiyah Bandung, Universitas Aisyiyah Surakarta, UMY, UAD, UMS, serta mitra media TVMU, Drama Surya, dan Suara Aisyiyah. Di antara pembicara internasional yang hadir secara langsung adalah Prof. Mark Woodward dari Arizona State University
Reporter: Assalimi


