back to top
Jumat, Agustus 14, 2026

750 Guru Madrasah Diperkuat Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Kemenag Bidik Kerukunan Nasional

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Dalam upaya tersebut, Kementerian Agama RI menggandeng Institut Leimena untuk memberikan pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) kepada sedikitnya 750 guru madrasah dari 36 provinsi.

Program yang berlangsung secara daring dan asinkronus pada 10–14 Agustus 2026 tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pendidik dalam memahami keberagaman agama, budaya, dan tradisi secara objektif.

Upaya ini juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Indonesia yang pada 2025 berada di angka 77,89 persen.

Direktur GTK Madrasah, Fesal Musaad, menilai kemampuan literasi keagamaan lintas budaya semakin penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.

“Jika sampai 100 (persen), Indonesia bisa saja menjadi negara eksportir moderasi dan center of excellence toleransi dan perdamaian dunia. Semoga pelatihan LKLB mampu mendongkrak indeks KUB,” kata Fesal sebagai narasumber kunci, Rabu (12/8/2026).

Guru Didorong Menjadi Pengarah di Tengah Arus Informasi Digital

Fesal menegaskan bahwa LKLB bukan dimaksudkan untuk menyeragamkan keyakinan ataupun menghilangkan identitas keagamaan. Sebaliknya, pendekatan ini mendorong seseorang semakin memahami agamanya sekaligus mampu berinteraksi secara bijaksana dengan kelompok yang berbeda.

“Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi pemeluk agama yang taat dan warga bangsa yang bisa hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural,” kata Fesal.

Baca Juga:  3 Program Utama Lazismu di Ramadhan 1442 H

Program tersebut dinilai sejalan dengan agenda Moderasi Beragama dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dikembangkan Kemenag. Saat ini, KBC telah diterapkan melalui 6.629 madrasah piloting.

Menurut Fesal, guru juga perlu dibekali kemampuan menghadapi tantangan digital, termasuk informasi keagamaan yang keliru, ujaran kebencian, polarisasi, dan intoleransi.

“Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya sangat selaras dengan arah pembangunan pendidikan madrasah dan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kualitas guru sebagai agen transformasi,” kata Fesal.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyebut program LKLB telah dilaksanakan sebanyak 79 kali sejak diluncurkan pada 2021, dengan total 11.388 pendidik dari 38 provinsi sebagai lulusan.

“Program LKLB tidak melatih orang untuk menjadi pakar agama, namun membekalinya dengan literasi agar mereka dapat belajar memperlakukan orang lain secara setara dan membangun rasa saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Ini membuatnya relevan juga dalam konteks ASEAN yang sangat majemuk,” kata Matius.

Melalui pelatihan ini, literasi keagamaan lintas budaya diharapkan tidak berhenti sebagai kompetensi individual guru, tetapi berkembang menjadi pendekatan pendidikan yang mampu membentuk peserta didik untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan membangun kerja sama lintas identitas.

Dengan demikian, penguatan literasi keagamaan lintas budaya menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam menjaga kerukunan dan memperkuat karakter generasi Indonesia. (NS)

Baca Juga:  Dirjen PHU: 196. 377 Jemaah Lunasi Biaya Perjalanan Haji 1444 H

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru