back to top
Rabu, September 23, 2026

Yang Membuat Manusia Tetap Kuat Bukan Dirinya Sendiri

Lihat Lainnya

Imaduddin Fadhlurrahman
Imaduddin Fadhlurrahman
Seorang pengajar di salah satu kampus di Kota Palu. Tertarik pada isu Politik, Pancasila, serta Filsafat

Saya berangkat dari rumah pagi sekali, ketika udara masih berselimut embun. Masih terlalu dini untuk upacara yang baru dimulai beberapa jam kemudian, tetapi hari itu saya memang sangat bersemangat. Kali ini saya dipercaya menjadi petugas yang membacakan teks Pancasila di hadapan rekan-rekan pegawai pada upacara rutin tiap tanggal 17 Agustus. Tugasnya sangat sederhana, yakni mengucapkan dengan lantang kalimat yang sudah sejak sekolah dasar dihafalkan. Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika sesuatu yang biasa itu dipercayakan kepada saya.

Pagi itu saya berangkat tanpa sarapan. Bukan karena tidak sempat, melainkan karena merasa tidak perlu saja. Sebagai anak muda, saya merasa memiliki tubuh yang kuat, dan tubuh itu selama ini belum pernah mengecewakan.

Di perjalanan, saya hanya fokus mengulang kalimat setiap sila agar tidak tersendat saat mengucapkannya di depan khalayak ramai. Seluruh pikiran saya hanya tertuju ke sana. Saya merasa baik-baik saja meski tanpa sarapan. Perasaan itu bahkan bertahan ketika upacara dimulai hingga teks Pancasila bergema dengan lantang dari mulut saya.

“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalimat pertama itu keluar dengan mantap, setidaknya begitu pikir saya waktu itu. Empat sila berikutnya menyusul dengan tak kalah gagah. Saya kembali ke barisan dengan perasaan lega. Tugas selesai, dan semuanya berjalan seperti yang saya bayangkan.

Beberapa waktu berselang, mendadak pandangan saya terasa kabur. Yang terlihat di sekitar seperti bergoyang. Kepala juga terasa berat dan berputar. Untuk beberapa saat saya sempat berpikir ini tidak apa-apa dan akan segera hilang. Namun yang terjadi setelahnya, saya sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Baca Juga:  Karakter Tawadhu: Rendah Hati di Hadapan Sang Maha Tinggi

Waktu membuka mata, saya sudah dikerumuni banyak orang. Ada wajah-wajah yang menunduk, ada yang memegang lengan, mengangkat kaki, hingga menawarkan minum dan minyak kayu putih. Saya tidak tahu berapa lama tidak sadarkan diri, dan tidak tahu siapa yang menahan tubuh ketika jatuh. Upacara yang dalam kalender pegawai disebut sebagai Hari Kesadaran Nasional justru menjadi hari pertama dalam hidup saya kehilangan kesadaran.

Saya tidak punya riwayat pingsan sama sekali. Seumur hidup. Saya selalu merasa punya fisik yang kuat. Terbiasa naik gunung, bahkan tektok naik turun dalam sehari tanpa menginap. Jadi kalau ada yang bertanya apakah saya termasuk orang yang kuat, saya cukup percaya diri akan menjawab iya. Tapi, pagi itu lain cerita. Di lapangan upacara yang hanya menuntut sigap berdiri, saya justru rubuh.

Tentu ada penjelasan yang masuk akal. Saya tidak sarapan, dan mungkin kurang istirahat karena deg-degan yang dialami sejak semalam. Ditambah lagi harus berdiri lama di bawah paparan sinar matahari. Siapa pun yang mendengar cerita ini akan segera menunjuk sebab-sebab itu, dan mereka benar.

Namun, lambat laun ada semacam pertanyaan yang lebih mengganggu ketimbang penyebab saya jatuh pingsan. Pertanyaan soal mengapa saya memilih tidak sarapan. Jawaban saya saat itu karena memang merasa tidak perlu. Saya merasa tubuh ini selalu sanggup, hingga saya lupa menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dijaga. Kelalaian itu tidak datang dari ketidaktahuan. Ia datang dari rasa kuat.

Betapa angkuh rasanya, kala itu saya berpikir bahwa saya kuat hanya karena yakin pada tubuh yang bertenaga. Padahal sesungguhnya Allah yang memberi izin atas semua kekuatan yang dimiliki hingga detik ini. Lagi-lagi, manusia selalu lupa caranya bersyukur.

Baca Juga:  Cerita Mudik Lebaran 2024 (1): Kembali ke Titik Nadir

Ketika saya memikirkannya kembali, yang lebih menggelisahkan ialah perasaan baik-baik saja itu. Pada saat itu, saya memang benar merasa demikian. Tubuh saya memang tidak memberi tanda apa pun sampai detik-detik terakhir. Artinya, perasaan kuat yang saya andalkan selama ini bukan ukuran yang bisa dipercaya sepenuhnya. Saya tinggal di tubuh ini setiap hari, dan ternyata saya tidak benar-benar mengenalnya.

Al-Qur’an sudah lama menyebut kecenderungan semacam ini. Dalam Surah Al-‘Alaq, Allah telah mengingatkan bahwa manusia melampaui batas ketika ia melihat dirinya serba cukup. Kata yang dipakai adalah istaghnā, yakni merasa tidak membutuhkan apa-apa, termasuk Tuhan. Dulu saya memaknai ayat ini sebagai teguran bagi orang-orang sombong yang kaya dan berkuasa. Kejadian pagi itu membuat saya tersadar bahwa merasa cukup, atau merasa selalu bisa dapat hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, sekalipun seperti merasa tidak perlu sarapan.

Meski begitu, pelajaran ini mudah disalahpahami. Merasa serba cukup di sini berbeda dengan qana’ah, sikap yang lahir dari rasa syukur. Yang dimaksud adalah perasaan selalu merasa bisa meski tanpa bantuan Allah sekalipun.

Di sisi lain, Islam sendiri sebenarnya tidak memuliakan kelemahan. Rasulullah saw. telah menegaskan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Menjaga tubuh, melatihnya, dan membuatnya sanggup adalah bagian dari ibadah. Masalahnya bukan pada kekuatan itu sendiri, melainkan pada anggapan bahwa kekuatan itu milik kita.

Baca Juga:  Libur Ramadan Bukan Libur Belajar!

Dalam Surah Ar-Rum ayat 54, Allah menggambarkan perjalanan manusia yang diciptakan dari keadaan lemah, lalu menjadi kuat, lalu dikembalikan lagi menjadi lemah. Ayat ini kini terasa menjadi berbeda bagi saya. Kekuatan hidup manusia diapit oleh dua kelemahan, dan keduanya bukan kita yang memilih. Kekuatan yang berada di tengah itu pun bukan milik kita. Ia dipinjamkan, dan pinjaman bisa ditarik kapan saja, bahkan tanpa pemberitahuan, bahkan ketika kita merasa baik-baik saja.

Maka, apa yang sesungguhnya kita miliki sebenarnya hanya pinjaman dari Allah yang sifatnya hanya sementara. Karena itu saya kini memahami kalimat yang sudah ribuan kali saya ucapkan tanpa banyak berpikir, lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, bahwa tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Selama ini kalimat itu hanya terucap ketika menghadapi sesuatu yang berat. Ternyata kalimat itu sama benarnya ketika kita sedang berdiri tegak dan merasa tidak membutuhkan apa-apa. Kita tidak berdiri karena kaki kita kuat. Kita berdiri karena setiap saat kita masih dikuatkan oleh Yang Maha Kuasa.

Bulan depan, atau bulan berikutnya lagi, mungkin akan ada upacara lainnya. Mungkin saya akan tetap berdiri di antara barisan yang ada, di lapangan yang sama, mungkin tanpa tugas apa pun yang diberikan. Kali ini saya akan mengisi tenaga lebih dulu dengan sarapan. Dan ketika upacara dimulai, saya ingin mengingat bahwa setiap menit berdiri di sana bukan bukti bahwa saya kuat, melainkan tanda bahwa Allah belum menarik pinjaman-Nya.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru