back to top
Kamis, September 17, 2026

Jadi Lulusan Terbaik, Mahasiswa Hindu Muhammadiyah Raih IPK Sempurna 4,00 di Unismuh Palu

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Kisah I Wayan Amerta Yoga, seorang mahasiswa Hindu Muhammadiyah menjadi salah satu gambaran bagaimana lingkungan kampus Muhammadiyah dapat menjadi ruang perjumpaan lintas keyakinan. Perbedaan keyakinan tidak selalu menjadi batas dalam ruang pendidikan.

Kampus-kampus Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam merawat keberagaman dan menghadirkan ruang pendidikan yang terbuka bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Kali ini, semangat tersebut ditunjukkan oleh Universitas Muhammadiyah Palu.

Sebagai mahasiswa Hindu yang menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah, Amerta tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan prestasi akademik. Ia juga memperoleh pengalaman tentang kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

I Wayan Amerta Yoga merupakan mahasiswa Hindu yang menempuh pendidikan di Program Studi S1 Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Palu. Pada Jumat, 5 September 2026, ia resmi diwisuda dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-56 Universitas Muhammadiyah Palu.

Bukan sekadar menyelesaikan pendidikan, Amerta mencatat capaian akademik dengan meraih IPK sempurna 4,00. Ia juga menjadi wisudawan berprestasi sekaligus tercepat dengan masa studi 3 tahun 5 bulan 5 hari.

“Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Palu, saya sering ditanya, ‘Amerta, kamu yakin berkuliah di Kampus Muhammadiyah? bukankah kamu seorang Hindu?’ Hari ini saya menjawab dengan penuh keyakinan, saya tidak pernah salah memilih rumah,” jelasnya.

Pilihan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman pendidikan yang lebih luas. Bagi Amerta, kampus bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang untuk memahami keberagaman dan membangun relasi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Baca Juga:  Anak Ideologis itu Amal Jariyah

Kisah Amerta menjadi contoh konkret bahwa keberagaman dapat dirawat melalui interaksi sehari-hari di lingkungan pendidikan. Perbedaan keyakinan tidak menjadi jarak yang memisahkan, melainkan bagian dari pengalaman bersama dalam menjalani proses akademik dan kehidupan kampus.

Dari Mata Kuliah AIK hingga Dijuluki “Amerta Si Hindu Muhammadiyah”

Pengalaman Amerta semakin menarik ketika ia mengikuti mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Rasa ingin tahu yang awalnya muncul dari proses akademik justru berkembang menjadi ketertarikan untuk mengikuti kajian-kajian yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Palu.

“Awalnya saya mengira AIK hanya kewajiban akademik, tetapi ternyata menjadi pengalaman yang sangat berarti. Rasa ingin tahu itu membuat saya selalu bertanya-tanya, sehingga saya rutin mengikuti kajian-kajian yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Palu, hingga teman-teman saya sering memanggil saya Amerta Si Hindu Muhammadiyah,” terangnya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa Amerta Si Hindu Muhammadiyah tidak hanya dikenal karena identitasnya sebagai mahasiswa Hindu di kampus Muhammadiyah, tetapi juga karena keterbukaannya untuk belajar dari lingkungan akademik yang berbeda.

“Universitas Muhammadiyah Palu mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang kemanusiaan, persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pengalaman Amerta selama menjalani pendidikan di Universitas Muhammadiyah Palu. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perbedaan, membangun persaudaraan, dan belajar menghargai keyakinan orang lain.

Baca Juga:  5 Larangan yang Wajib Diketahui Jemaah Haji saat di Makkah dan Madinah

Bagi Amerta, pencapaian IPK 4,00 bukan sekadar angka. Prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang mahasiswa yang memilih bertumbuh di tengah keberagaman.

Kisah Amerta Si Hindu Muhammadiyah menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang memperkaya. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi seorang mahasiswa untuk berprestasi, mengikuti kehidupan akademik, maupun membangun relasi dengan lingkungan kampus.

Pada saat yang sama, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan dapat hadir dalam praktik kehidupan kampus.

Universitas Muhammadiyah Palu menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan mahasiswa dari latar belakang keyakinan yang berbeda dalam tujuan yang sama, yakni memperoleh ilmu, mengembangkan diri, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, potret inklusivitas kampus Muhammadiyah membawa pesan bahwa seseorang tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk berjalan menuju tujuan yang sama. Tujuan itu adalah memperoleh ilmu, mengembangkan diri, dan memberikan manfaat bagi sesama. (NS)

Artikel Sebelumnya

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru