Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 berbunyi, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Kalimat ini terasa hangat. Semua diajak terlibat baik negara, guru, orang tua, dan masyarakat. Pendidikan ditempatkan sebagai kerja bersama.
Namun, ketika kita menoleh ke ruang kelas, suasananya tidak selalu sehangat itu. Belakangan ini, cerita tentang guru justru sering datang dari arah yang membuat kita terdiam. Ada guru yang dilaporkan karena menegur siswa. Ada yang dimarahi orang tua di depan umum. Bahkan, dalam beberapa kasus yang muncul di media, guru mengalami kekerasan verbal hingga fisik. Yang tidak terdengar jauh lebih banyak, guru yang memilih diam, menahan diri, dan akhirnya mengajar sekadarnya agar tidak berisiko.
Pelan-pelan, ruang kelas berubah. Bukan lagi tempat yang leluasa untuk mendidik dengan ketegasan dan kasih, tetapi ruang yang penuh perhitungan. Di tengah situasi ini, pendidikan membutuhkan tiga kekuatan yang saling menguatkan: negara yang hadir, masyarakat yang percaya, dan guru yang tetap menjaga nilai dirinya.
Menguatkan Kebijakan, Mendekatkan Kehadiran
Negara tentu tidak tinggal diam. Anggaran pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan komitmen bahwa sektor ini tetap menjadi prioritas.
Meski demikian, dalam dinamika kebijakan, sempat muncul diskusi publik mengenai pergeseran fokus alokasi, di mana sebagian anggaran pendidikan juga diarahkan untuk mendukung program prioritas lain seperti makan bergizi gratis. Namun demikian, komitmen terhadap kesejahteraan guru tetap perlu dijaga dan dipastikan benar-benar dirasakan di lapangan.
Ada satu hal yang tidak boleh terlewat: negara tidak boleh diam ketika guru berhadapan dengan kekerasan baik secara verbal maupun fisik dari murid ataupun tekanan dari lingkungan. Dalam ruang kelas, guru bukan sekadar individu, tetapi representasi negara yang sedang menjalankan mandat pendidikan.
Ketika guru dilemahkan, yang ikut melemah sebenarnya adalah wibawa negara di hadapan generasi muda. Karena itu, kehadiran negara perlu terasa lebih nyata. Bukan hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi dalam pendampingan yang utuh secara psikologis, ekonomi, dan juga martabat. Guru perlu merasa dilindungi, bukan dibiarkan menghadapi persoalan sendirian.
Di titik ini, kesejahteraan guru tidak bisa dipahami secara sempit. Ia harus dilihat secara utuh yakni lahir dan batin. Kesejahteraan ekonomi penting, tetapi tidak cukup. Rasa aman, penghargaan, dan martabat di depan siswa juga bagian dari kesejahteraan itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Dan itu harus dimulai dari memanusiakan gurunya terlebih dahulu.
Teguran untuk Masyarakat
Perubahan paling terasa justru datang dari relasi antara guru dan masyarakat. Dulu, guru dipandang sebagai sosok yang dihormati. Hari ini, posisi itu mulai bergeser. Kepercayaan tidak lagi utuh. Dalam banyak kasus, ketika guru mengambil tindakan disiplin, respons orang tua bisa sangat cepat dan keras. Tidak selalu diawali dialog, bahkan terkadang langsung berujung konflik.
Ada pula kejadian siswa yang berani melawan guru. Ini bukan sekadar pelanggaran kecil, tetapi tanda bahwa wibawa pendidikan sedang melemah. Di sisi lain, bentuk penghargaan dari masyarakat juga kadang tidak tepat. Pemberian hadiah masih terjadi, tetapi bisa menimbulkan dilema etika.
Relasi yang seharusnya saling menguatkan, dalam beberapa situasi justru berubah menjadi sumber tekanan. Padahal, pendidikan yang bermutu tidak mungkin berjalan tanpa kepercayaan. Pendidikan pada dasarnya membutuhkan ruang dialog, saling mendengar, dan sikap saling menghormati. Ketika itu hilang, proses belajar mudah berubah menjadi relasi yang kaku dan penuh kecurigaan.
Masyarakat perlu kembali melihat guru sebagai mitra. Kritik boleh, tetapi kepercayaan jangan hilang.
Keteladanan dan Nilai sebagai Fondasi Pendidikan Bermutu
Di tengah berbagai tekanan, guru dan sekolah juga perlu melihat ke dalam. Tantangan hari ini memang berbeda. Siswa lebih terbuka, lebih kritis, dan hidup dalam dunia yang cepat berubah. Dalam situasi seperti ini, keteladanan menjadi kekuatan yang tidak tergantikan.
Apa yang dilakukan guru sering kali lebih diingat daripada apa yang diajarkan. Sikap, tutur kata, dan cara memperlakukan siswa menjadi pelajaran yang hidup. Namun keteladanan tidak cukup tanpa nilai. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah moral.
Ilmu yang diajarkan di kelas harus berjalan seiring dengan akhlak yang ditampilkan dalam keseharian. Tanpa itu, pendidikan mudah kehilangan arah.
Sebagaimana diingatkan oleh Al-Ghazali, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Pesan ini sederhana, tetapi dalam, bahwa pengetahuan dan karakter tidak bisa dipisahkan.
Dalam konteks yang lebih luas, Mahatma Gandhi mengingatkan, “Be the change you wish to see in the world.” Bagi guru, perubahan itu dimulai dari diri sendiri, dari keteladanan yang konsisten, meski tidak selalu mudah. Otokritik bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk menjaga arah tetap benar, agar guru tetap menjadi sumber nilai dan inspirasi kebaikan, menghadirkan energi positif di ruang kelas, bukan sekadar penyampai materi.
Sebagai penutup, mungkin kita tidak bisa langsung memperbaiki semuanya sekaligus. Masalahnya banyak apalagi dengan wilayah Indonesia yang sangat luas. Tapi setidaknya, kita bisa mulai dari hal sederhana yaitu cara kita memandang dan memperlakukan guru.
Guru tetap datang ke kelas, meski kadang dengan perasaan yang tidak ringan. Mereka tetap mengajar, menjelaskan, menegur, dan berharap meski tidak selalu dihargai.
Di situlah sebenarnya kekuatan pendidikan, pada ketekunan yang sering tidak terlihat. Mungkin kita tidak perlu menunggu semuanya ideal untuk mulai berubah. Cukup mulai dari sikap untuk lebih percaya, lebih adil, dan lebih menghargai.
Pendidikan bermutu pada akhirnya bukan hanya soal sistem, tetapi soal manusia. Selama orang-orang di dalamnya masih mau saling menjaga, harapan itu tidak akan hilang. Dari sanalah hakikat pendidikan; memanusiakan manusia, perlahan menemukan jalannya untuk benar-benar terwujud.
(FI)


