IBTimes.ID – Perang AS-Iran memicu ketidakpastian global yang mendalam. Di tengah situasi yang penuh gejolak ini, sejumlah negara berhasil menjaga kekuatan mata uang mereka dengan baik, sementara mata uang negara lain mengalami tekanan yang lebih berat.
Saat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran mengguncang perekonomian global, mata uang sejumlah negara justru menunjukkan kinerja yang tangguh. Kurs mereka tetap terjaga berkat kemampuan mengelola kebijakan fiskal dan moneter secara seimbang serta fondasi ekonomi yang solid.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa mata uang negara-negara Asia Tenggara relatif berdaya tahan terhadap dolar AS sejak awal tahun hingga Kamis (21/5/2026). Dolar Singapura tercatat menguat 0,51 persen, ringgit Malaysia menguat 2,48 persen secara year to date, sementara dong Vietnam hanya melemah sekitar 0,26 persen.
Penguatan kurs juga terjadi di beberapa negara di luar kawasan. Real Brasil bahkan mengalami apresiasi hingga 9,89 persen, sedangkan rand Afrika Selatan menunjukkan tren rebound dengan pelemahan yang sangat minim, hanya 0,03 persen.
Di sisi lain, rupiah justru mengalami depresiasi cukup dalam hingga 5,59 persen secara year to date. Bank Indonesia mencatat, kurs jual sempat tertekan hingga Rp 17.807 per dolar AS dan kurs beli Rp 17.630 per dolar AS pada 20 Mei 2026. Hal ini menunjukkan betapa rentannya mata uang ketika fundamental dan kepercayaan pasar terganggu.
“Kekuatan nilai mata uang satu negara bergantung pada kredibilitas kebijakan pemerintah, struktur devisa, dan kepercayaan pasar terhadap arah ekonomi suatu negara. Ada beberapa negara yang karakter perekonomiannya mirip dengan Indonesia, tetapi mampu menjaga mata uang saat situasi geopolitik memanas,” kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Brasil menjadi salah satu contoh sukses dalam menjaga mata uang di tengah gejolak. Meski ekonominya berbasis komoditas dan sempat tertekan, bank sentralnya mempertahankan suku bunga tinggi dan cadangan devisa yang kuat, didukung ekspor komoditas yang tetap besar.
Menurut laman Banco Central do Brasil (BCB), suku bunga acuan di negara itu tercatat sebesar 14,5 persen per Mei 2026 dan cadangan devisa sebesar 362 miliar dolar AS per Maret 2026. “Brasil bisa menjaga kredibilitas bank sentral dan melakukan disiplin fiskal yang prudent sehingga investor tertarik masuk ke obligasi domestik,” ujar Rizal.
Vietnam juga menunjukkan upaya luar biasa agar nilai mata uang tidak anjlok. Hanoi aktif mengupayakan surplus perdagangan serta menarik penanaman modal asing (FDI) di bidang ekspor manufaktur sehingga cadangan devisa tetap kuat.
Sebagai perbandingan, mata uang negara-negara di Teluk Arab yang terdampak langsung perang di Iran bahkan relatif stabil, seperti Uni Emirat Arab dan Oman. Negara-negara ini memiliki fondasi ekonomi yang kuat, termasuk Dana Kekayaan Negara (SWF) yang besar dan surplus migas seraya memperoleh windfall dari kenaikan harga energi.
“Jadi, kalau belajar dari beberapa negara tersebut, jelas bahwa stabilisasi nilai kurs tidak hanya cukup dari intervensi bank sentral. Menjaga mata uang juga harus diperkuat melalui fundamental ekonomi, hilirisasi industri, ekspor nilai tambah, dan penguatan substitusi impor,” kata Rizal.
Pergerakan nilai mata uang pada negara-negara yang menganut sistem ekonomi terbuka sangat dipengaruhi oleh perdagangan barang dan jasa serta investasi antarnegara. Seiring modernisasi pasar keuangan global, pergerakan kurs kini juga sangat sensitif terhadap sentimen pasar.
Masalahnya, sentimen pasar bergantung pada kredibilitas moneter dan fiskal. Singapura dan Malaysia telah membuktikannya dengan menunjukkan kepiawaian dalam mengatur kebijakan moneter dan fiskal. Alhasil, investor jadi tertarik.
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia, Mervin Goklas Hamonangan menjelaskan, investor akan memilih tempat yang dirasa aman untuk menyimpan aset atau berinvestasi. Di samping itu, investor menyukai negara yang tidak terlalu terdampak gangguan geopolitik.
“Di sini kunci utamanya kestabilan di dalam negaranya,” ujar Mervin, Rabu (20/5/2026).
Singapura tetap mampu menunjukkan diri sebagai tempat aman (safe haven) bagi investor. Di tengah gejolak karena kenaikan harga minyak, negara mungil ini menerapkan berbagai intervensi agar perekonomiannya tetap stabil.
Reuters pada April lalu mencatat, Otoritas Moneter Singapura (MAS) memilih untuk menyesuaikan nilai tukar dolar Singapura (S$NER) terhadap mata uang mitra dagang daripada mengubah suku bunga domestik seperti negara lain. Badan Pengembangan Ekonomi (EDB) juga meluncurkan paket dukungan senilai 1 miliar dolar Singapura kepada rakyat ketimbang memotong langsung bea bahan bakar.
Perekonomian Singapura turut ditopang cadangan devisa yang besar. Data Trading Economics menunjukkan, cadangan devisa negara ini 544 miliar dolar AS pada April 2026. ”Cadangan devisa menjadi salah satu aspek utama yang membuat mereka bisa mengambil kebijakan,” kata Mervin.
Bahkan, untuk memastikan iklim investasi tetap baik dan menarik, Singapura dan Malaysia bekerja sama mengembangkan Johor-Singapore Special Economic Zone. Pengembangan kawasan khusus ini bertujuan untuk menarik investasi langsung.
Di sisi lain, kemampuan suatu negara untuk menjaga keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter tidak lepas dari peran pemimpinnya. Singapura kembali menjadi contoh bagaimana seorang kepala negara harus pandai dan lihai membaca perubahan dunia.
Anggota Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton J Supit mengatakan, saat konflik di Timur Tengah terjadi, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong langsung menunjukkan langkah-langkah konkret. Wong memilih naik pesawat komersial dan mengajak rakyatnya bersatu serta mengencangkan ikat pinggang.
“Seorang pemimpin harus menyadari bahwa krisis adalah sebuah keniscayaan. Tidak hanya konflik di Timur Tengah, dunia selama ini sudah dibayangi oleh berbagai ancaman krisis, seperti Taiwan dan Laut China Selatan,” tutur Anton dari Belanda, Rabu (20/5/2026).
Perekonomian suatu negara, termasuk kekuatan nilai mata uang, biasanya terpengaruh oleh faktor luar dan domestik. Ketika pemimpin di negara itu mumpuni, faktor eksternal seperti perang atau suku bunga The Fed seharusnya tidak terlalu banyak memengaruhi.
”Kalau ada krisis kepemimpinan maka ceritanya akan berbeda. Jadi, bisa kita lihat sekarang banyak mata uang melemah,” ucapnya.
(Assalimi)


