back to top
Minggu, Juni 7, 2026

Kritik Pembatasan Perempuan dalam Novelet ‘Bawuk’ Karya Umar Kayam

Lihat Lainnya

Novisya Nur Hikmah
Novisya Nur Hikmah
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Apakah menjadi perempuan yang berdaulat harus selalu tunduk terhadap standarisasi lingkungan, ataukah justru lahir dari sebuah keberanian dalam memilih jalan memutar yang penuh dengan konsekuensi demi sebuah prinsip hidup?

Generasi saat ini sangat akrab mengenai isu women’s agency, bodily autonomy, bahkan terdapat banyak perdebatan tentang kedaulatan perempuan di media sosial. Ruang tengah rumah Nyonya Suryo dalam novelet Bawuk karya Umar Kayam menjadi representasi bagi isu-isu tersebut. Novelet itu mengisahkan sebuah malam pasca-Oktober 1965, sedang berlangsung sebuah interogasi keluarga di atas meja marmer bundar. Di satu sisi meja terdapat keluarga priyayi Suryo yang mewakili simbol kemapanan, yakni diisi oleh orang-orang dengan latar belakang militer dan akademisi. Sedangkan di sisi lain terdapat tokoh yang bernama Bawuk yang digambarkan sebagai anak bungsu dengan memilih nasib menjadi pelarian politik bersama sang suami, Hassan.

Interogasi malam itu sekilas hanya tampak sebagai urusan politik dan ideologi negara. Lebih dari itu, jika kita memandangnya melalui kacamata feminisme eksistensial, segala kejadian yang menimpa Bawuk merupakan wujud bagaimana masyarakat patriarki dalam mengadili, mendomestikasi, dan meragukan kapasitas berpikir perempuan ketika dirinya keluar dari jalur aman.

Umar Kayam menolak pernyataan bahwa seorang perempuan hanya sekadar “ikut-ikutan suami” di saat pusaran konflik 1965. Ketika para kakak mendesak Bawuk untuk menerima perlindungan di balik status keluarganya sebagai priyayi dan mengharuskannya berhenti mengejar Hassan, Bawuk tetap teguh pada pendiriannya untuk terus mencari Hassan. Keluarga Bawuk pun berasumsi bahwa pendiriannya tersebut berdasarkan pada ketundukan buta seorang istri pada suaminya. Tetapi Bawuk mendobrak asumsi tersebut dengan membuat pernyataan bahwa dirinya bukan bagian dari PKI. Bahkan Bawuk sering mengkritik Hassan sebagai “pemimpin gila” yang tidak menamatkan sekolah dan dipenuhi ilusi revolusi.

Baca Juga:  Buya Syafii: Koma–Titik adalah Penentu Bangunan Peradaban

Hal tersebut menunjukkan prinsip feminisme modern atas tindakan Bawuk yang berdasarkan critical thinking. Dia memilih untuk tetap masuk ke dalam dunia pelarian Hassan bukan karena tunduk pada doktrin politik suaminya, melainkan ia memilih secara sadar untuk setia pada komitmen hidup yang sudah diputuskan. Bawuk memiliki kedaulatan penuh atas langkahnya, lengkap dengan kesiapan mental dalam menanggung segala konsekuensinya.

Benturan Kelas dan Stigma Sosial

Pemberontakan yang dilakukan Bawuk pun menggambarkan kritik sosiologis terhadap standar perempuan kelas menengah. Para kakaknya yang perempuan menampilkan potret perempuan priyayi yang ideal masa itu. Mereka menikah dengan laki-laki berpangkat untuk mengamankan status sosial serta ekonomi. Sistem ini menuntut para perempuan untuk patuh pada konformitas demi kenyamanan hidup.

Bukannya mencari kenyamanan, Bawuk menolak kenyamanan kelas tersebut. Baginya dunia priyayi yang comfortable itu adalah ketika dirinya dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Pilihan tersebut sangat beririsan dengan kegelisahan anak muda saat ini yang sering kali dipaksa hidup di bawah standar kesuksesan normatif lingkungan. Di tengah desakan struktur sosial yang menuntutnya selalu mengambil jalur aman, Bawuk memilih jalur memutar yang memiliki konsekuensi tinggi demi mempertahankan integritas personal.

Safe Space Tanpa Penghakiman

Novelet Bawuk tetap memiliki aspek humanis dengan figur Nyonya Suryo, yaitu ibunya Bawuk. Ketika keluarganya sibuk mencecar Bawuk dengan logika salah-benar dan hukum nasional, Nyonya Suryo bertindak murni atas dasar solidaritas perempuan. Nyonya Suryo menjadi penyedia safe space yang sejati. Ia mengetahui bahwa tubuh anaknya mengering dan tampak kelelahan, ia pun tahu bahwa para cucunya membutuhkan ruang hidup yang normal untuk sekolah. Tanpa penghakiman, sang ibu pun mengambil alih tanggung jawab untuk merawat anak-anak Bawuk. Sang ibu mungkin tidak sepakat dengan keputusan yang diambil Bawuk, tetapi dia tetap memberi hormat atas segala hak eksistensial Bawuk sebagai manusia utuh.

Baca Juga:  Burdah: Puisi Favorit Rasulullah Saw

Pada akhirnya, membaca ulang novelet Bawuk di era modern tidak hanya sekadar perkara mengenang tragedi masa lalu. Tokoh Bawuk adalah sebuah intervensi kultural yang mengingatkan kita bahwa kedaulatan perempuan tidak hanya diuji di medan perang, melainkan di ruang-ruang sederhana seperti dalam keluarga. Bawuk mengajarkan untuk menjadi perempuan yang berdaulat dengan berani dalam menentukan pilihan sendiri, mengenali konsekuensi secara jernih, dan menolak didefinisikan oleh ketakutan orang lain.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru