back to top
Jumat, Juli 10, 2026

Kedutaan Besar Belanda Puji Pendekatan Lingkungan Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam Membangun Perdamaian

Lihat Lainnya

IBTimes.ID Eco Bhinneka Muhammadiyah kembali mendapat pengakuan internasional. Program yang mengembangkan kolaborasi lintas iman melalui aksi pelestarian lingkungan itu memperoleh apresiasi dari Delegasi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.

Pendekatan yang dikembangkan Eco Bhinneka Muhammadiyah dinilai mampu membangun perdamaian secara nyata dengan mempertemukan masyarakat dari berbagai agama dalam aksi bersama, sekaligus memperkuat kebebasan beragama atau berkeyakinan (Freedom of Religion or Belief/FoRB).

Apresiasi tersebut disampaikan dalam dialog bertajuk Building Peace through Interfaith Collaboration yang difasilitasi Eco Bhinneka Muhammadiyah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (8/7).

Delegasi Belanda dipimpin Ambassador and Special Envoy for Freedom of Religion or Belief, HE Paul Bekkers. Ia didampingi Second Secretary for Political Affairs Zilla Boyer dan Senior Policy Advisor Edwin Arifin.

Dari Muhammadiyah hadir Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan, Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Fajri Hidayatullah, serta komunitas muda lintas iman yang selama ini menjadi bagian dari gerakan tersebut.

Lingkungan Menjadi Titik Temu Perdamaian

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menjelaskan bahwa dialog hanyalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Perdamaian, menurutnya, baru benar-benar terwujud ketika masyarakat dari berbagai latar belakang mampu bekerja sama menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi bersama.

Karena itu, isu lingkungan dipilih sebagai ruang kolaborasi yang melampaui sekat agama. Melalui pengelolaan sampah, konservasi lingkungan, pemberdayaan perempuan, hingga transisi energi, masyarakat dapat saling bekerja sama tanpa melihat perbedaan identitas.

Baca Juga:  Taman Daan Mogot Jakarta Jadi Markas Pelaku Homoseksual

Selama enam tahun terakhir, pendekatan tersebut terus berkembang di berbagai daerah. Salah satunya melalui pendampingan SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari yang mempertemukan siswa dari beragam agama untuk belajar menjaga lingkungan bersama.

Selain itu, Eco Bhinneka Muhammadiyah juga mengembangkan gerakan ekofeminisme, mempertemukan tokoh agama dan generasi muda lintas iman, serta menginisiasi program 1000 Cahaya untuk mendorong efisiensi energi di masjid, sekolah, pesantren, hingga cabang dan ranting Muhammadiyah.

Dalam kesempatan itu, Paul Bekkers menilai pengalaman Indonesia menjadi contoh penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang inklusif.

“Indonesia memiliki pengalaman yang sangat berharga. Ketika orang-orang dari berbagai agama bekerja bersama, mereka tidak hanya saling mengenal, tetapi juga membangun kepercayaan. Pengalaman seperti ini penting untuk terus diperkuat,” ujar Paul.

Ia menambahkan bahwa pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah menunjukkan dialog lintas iman akan jauh lebih bermakna ketika diwujudkan dalam aksi nyata yang melibatkan masyarakat, terutama generasi muda.

Sementara itu, Zilla Boyer menyebut praktik-praktik yang berkembang di Indonesia layak menjadi pembelajaran bagi berbagai negara yang tengah menghadapi tantangan menjaga keberagaman.

Dialog juga menghadirkan kesaksian Kristina Damayanti dari komunitas Sederek Eco Bhinneka Surakarta yang berasal dari Gereja Kristen Indonesia (GKI).

“Di Eco Bhinneka saya belajar bahwa merawat lingkungan bisa menjadi cara untuk saling mengenal dan bekerja sama meski berbeda agama,” ujar Damay.

Baca Juga:  Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulsel Ajak Pemuda Lintas Iman Lawan Krisis Sampah Plastik

Pandangan serupa disampaikan Ghifari Misbahudin yang menilai perubahan iklim justru dapat menjadi ruang memperkuat solidaritas lintas iman.

“Perubahan iklim tidak memilih korbannya. Karena itu, merawat bumi menjadi ruang bersama untuk saling mengenal, bekerja sama, dan membangun kepercayaan,” ujarnya.

Ketua HIDIMU Fajri Hidayatullah turut menegaskan bahwa penguatan kebebasan beragama juga harus memastikan kelompok difabel memperoleh kesempatan yang setara.

“Penguatan kebebasan beragama atau berkeyakinan tidak hanya tentang rumah ibadah, tetapi juga memastikan kelompok difabel dapat berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan,” ujar Fajri.

Pertemuan ditutup dengan penampilan Vocal Group GPIB Pancoran Rahmat Depok yang membawakan lagu-lagu bertema persaudaraan. Momentum tersebut menegaskan komitmen Muhammadiyah dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun masyarakat yang damai, inklusif, serta menjaga bumi sebagai rumah bersama melalui aksi nyata lintas iman. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru