back to top
Minggu, Agustus 30, 2026

Guru adalah Inspirasi

Lihat Lainnya

Arif Jamali Muis
Arif Jamali Muis
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Jumat, 28 Agustus 2026, pada pembukaan kegiatan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di BBGTK Jawa Barat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan satu gagasan yang sederhana, tetapi sangat mendasar yaitu guru harus mampu menginspirasi muridnya. Sebab dari inspirasilah murid bertumbuh, menemukan semangat belajar, dan perlahan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Pernyataan itu menarik karena selama ini kualitas guru lebih sering dibicarakan melalui kompetensi, kurikulum, metode pembelajaran, atau kemampuan memanfaatkan teknologi. Semua tentu penting. Namun pendidikan sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan guru menyampaikan materi dengan baik. Ada sesuatu yang lebih dalam, yaitu apakah kehadiran seorang guru mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan keinginan murid untuk terus berkembang. Guru yang baik bukan hanya membuat murid memahami pelajaran, tetapi membuat mereka ingin terus belajar.

Inspirasi dari Hal Sederhana

Inspirasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Seorang guru tidak harus memiliki prestasi luar biasa atau pengalaman spektakuler agar mampu menginspirasi. Justru cerita sederhana tentang kegagalan, pengalaman belajar, perjalanan, perjumpaan dengan seseorang, atau kejadian sehari-hari sering lebih dekat dengan kehidupan murid. Sebuah pengalaman yang diceritakan dengan jujur bisa membuat pelajaran terasa hidup. Murid mungkin lupa sebagian materi yang pernah disampaikan di kelas, tetapi mereka dapat mengingat cerita guru yang membuat mereka memandang kehidupan dengan cara berbeda. Dari sanalah pengetahuan memperoleh konteks dan pembelajaran menemukan maknanya. Inspirasi sering tumbuh bukan dari cerita yang hebat, tetapi dari pengalaman sederhana yang mampu menyentuh kesadaran murid.

Baca Juga:  Fatwa dan Sistem Zonasi COVID-19 yang Ambigu

Namun tentu guru hanya dapat berbagi apabila ia memiliki sesuatu untuk dibagikan. Karena itu, membaca menjadi bagian penting dari kehidupan seorang guru. Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memperluas cakrawala agar guru selalu memiliki perspektif baru yang dapat dibawa ke ruang kelas. Guru yang membaca buku, artikel, sastra, hasil penelitian, maupun perkembangan masyarakat akan memiliki lebih banyak bahan untuk menghubungkan pelajaran dengan kehidupan. Ia tidak mudah menjadi pengulang materi yang sama dari tahun ke tahun karena pengetahuannya terus bergerak. Guru yang berhenti membaca perlahan-lahan akan kehabisan cerita, sementara guru yang terus membaca selalu memiliki dunia baru untuk dibagikan kepada muridnya.

Guru Harus Terus Bertumbuh

Membaca saja tentu belum cukup. Guru juga perlu berkegiatan, berdiskusi, mengikuti komunitas, terlibat dalam kegiatan sosial, mengikuti pengembangan profesi, atau mencoba pengalaman baru. Aktivitas semacam itu memperkaya kehidupan guru sekaligus membuat pengetahuan tidak berhenti sebagai teori. Pengalaman akan memengaruhi cara guru berbicara, menjelaskan, merespons pertanyaan, bahkan cara ia memahami murid. Guru yang terus belajar dan berkegiatan biasanya hadir di kelas dengan energi yang berbeda karena ia tidak hanya membawa materi pelajaran, tetapi juga membawa kehidupan. Buku memperluas pikiran guru, sedangkan pengalaman memperkaya kehidupannya; keduanya membuat pembelajaran lebih bernyawa. Di sinilah guru sebagai inspirasi bertemu dengan guru sebagai pembelajar. Sulit meminta murid mencintai belajar apabila mereka tidak melihat gurunya memiliki rasa ingin tahu. Sulit meminta murid berani mencoba apabila guru sendiri berhenti mempelajari sesuatu yang baru. Pada zaman ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat, bahkan melalui kecerdasan artifisial, nilai seorang guru justru semakin terletak pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana manusia terus belajar, bertanya, mencoba, dan memperbaiki diri.

Baca Juga:  Seruan Boikot Produk Unilever, Bukti Umat Tak Solutif!

Kehidupan Guru adalah Pesan.

Murid tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan gurunya. Mereka memperhatikan bagaimana guru berbicara, menghargai pertanyaan, memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, serta bersikap ketika melakukan kesalahan. Tanpa disadari, murid terus membaca kehidupan gurunya. Sebelum mereka membaca buku yang kita rekomendasikan, sesungguhnya mereka telah lebih dahulu membaca pribadi yang berdiri di hadapan mereka setiap hari. Karena itu menjadi guru yang menginspirasi tidak berarti harus menjadi manusia yang selalu hebat dan sempurna. Guru juga dapat salah, lelah, gagal, dan mengalami kesulitan. Namun ketika murid melihat gurunya tetap mau belajar, bangkit, membaca, mengalami, dan memperbaiki diri, di situlah keteladanan memperoleh maknanya. Mungkin ukuran terdalam seorang guru bukan berapa banyak halaman buku yang berhasil dituntaskan atau berapa banyak materi yang selesai diajarkan. Ukurannya justru lebih sederhana sekaligus lebih dalam, apakah setelah bertemu dengannya, seorang murid menjadi lebih berani untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan masa depannya. Karena pada titik itulah guru benar-benar menjadi inspirasi.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru