PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Awal bulan adalah waktunya bagi keluarga saya untuk berbelanja kebutuhan untuk sebulan. Tidak seperti biasanya, belanja kali ini seakan menjadi pertaruhan iman. Sebenarnya, kami hanya ingin membeli sabun, shampo, pasta gigi, sabun cuci, kecap dan mungkin es krim. Sebagian produk, tidak perlu tertera logo halal MUI karena memang tidak untuk konsumsi perut. Namun belum lama ini, MUI “memasang label haram” pada beberapa produk yang ada dalam daftar belanja saya.

Media sosial sempat ramai karena pernyataan seorang pengurus MUI yang mengajak boikot produk Unilever yang memproduksi kebutuhan harian. Dalam konsep al-wala’ wal bara’ atau dapat diartikan sebagai loyalitas, memang sangatlah tepat yang beliau sampaikan. Lantaran dengan terang, perusahaan Unilever mengubah warna logo huruf U-nya dari biru menjadi warna-warni pelangi. Yang mana, membawa pesan bahwa mereka turut mendukung LGBT.

Sebuah Dilema

Saya termasuk sepakat pada niatannya untuk tidak termasuk mendukung kemungkaran (LGBT). Tapi dalam tataran teknis, saya termasuk yang bingung karena saya merasa cocok dengan beberapa produk ini. Pasta gigi herbalnya nyaman di mulut, shamponya adem di kepala, manisnya kecap dan tehnya pas di lidah saya. Istri saya pun cocok dengan sabun cuci piring, pakaian, dan kloset. Yang paling membuat saya galau adalah es krim yang dimakan anak saya. Betul-betul saya belum bisa mempercayai produk kualitas murahan lainnya yang tentu meragukan untuk kesehatan anak.

Ada sekitar lima belas dari 36 produk (saya cek di wikipedia) yang biasa keluarga kecil saya konsumsi, dicap haram oleh MUI. Kita seperti tidak punya pilihan lain. Karena memang yang kita butuhkan dan cocok, hanya produk itu. Tidak semua produk saya ambil dari pabrikan yang sama, semua itu hanya karena semata kecocokan dan ketersediaan di pasaran saja. Ketika kami harus ikut boikot, jangankan mencari produk yang cocok, sekadar mencari produk dari pabrikan lain pun bukanlah hal yang mudah.

Baca Juga  Ironi Ide-Ide Inersia di Dunia Pendidikan

Nah, ini yang sebenarnya perlu kita pikirkan jangka panjang. Jangan sampai orang Islam cuma jadi alat politik jalanan. Mari kita memikirkan hal yang lebih strategis. Gimana caranya kita menguasai sektor produksi, terutama pada hal yang menjadi kebutuhan sehari-hari.

Menciptakan Solusi Konkrit

Tentunya, ini menjadi solusi konkrit daripada sekadar gerakan boikot produk Unilever. Menciptakan solusi konkrit pastinya membutuhkan waktu yang panjang. Sama halnya Unilever yang mendukung LGBT, produk Islam yang kita ciptakan pun juga bisa kita gunakan keuntungannya untuk kepentingan umat. Kita bisa gunakan untuk santuni anak yatim, lansia kurang mampu, dan program sosial lainnya.

Jumlah umat Islam sebanyak ini cuma bisanya teriak boikot tapi tanpa solusi alternatif untuk memproduksi produk sendiri. Ini baru salah satu isu. Banyak sebenarnya isu-isu di mana umat Islam hanya jadi alat politik jalanan, tidak bermain dalam ranah strategis yang punya pengaruh besar.

Itu menunjukkan masih lemahnya kita hari ini. Sehingga menjadi wajib bagi kita perbaiki masa depan lewat generasi muda kita. Siapkanlah anak-anak kita untuk bisa memiliki produk Islam sendiri yang mutunya baik. Sehingga bisa bersaing sehat yang artinya laku keras tanpa embel-embel rasis. Meski afliasinya LGBT, tapi ya kita mau tidak mau dominan konsumsi produk Unilever.

Perbaikan jangka panjang ini ada di bidang pendidikan. Bagaimana kita siapkan generasi muda Islam. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkah pendidikan di lembaga-lembaga Islam diarahkan ke sana?

Menyiapkan Pendidikan yang Lebih Baik

Di sinilah perlunya lembaga pendidikan Islam untuk memasukkan dalam kurikulumnya yakni tentang peran strategis keumatan. Perlu bagi para guru menyisipkan pada muridnya agar tidak hanya sekadar belajar materi untuk bisa lulus ujian, namun memberikan bekal pemikiran kepada muridnya agar suatu hari nanti mampu menciptakan produk-produk yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dengan kualitas yang terbaik.

Baca Juga  Nostalgia 1998, Akankah Mahasiswa (Kembali) Menang?

Sisipan pada kurikulum itu bisa disesuaikan pada tingkat perkembangan anak. Siswa di tingkat sekolah dasar, bisa saja sering-sering diperdengarkan kisah tentang kejayaan Islam masa lalu. Bagaimana Islam mampu menjadi inspirasi bagi dunia. Dalam bidang ilmu kedokteran, Ibnu Sina yang menjadi pegangan dasar pendidikan dokter di Eropa.

Istilah-istilah astronomi dalam bahasa Arab yang sampai hari ini, banyak yang belum tergantikan. Dan banyak kisah lain yang mampu membangun jiwa bangga pada siswa bahwa Islam mampu menjadi trendsetter, bukan follower.

***

Siswa di tingkat siswa SMP, bisa mulai untuk ditanamkan jiwa kewirausahan. Siswa diberi tantangan untuk bisa memasarkan produk dengan diberi target dan dibekali trik pemasaran yang kreatif. Hal ini akan membuat siswa mulai berpikir inisiatif, membangun tanggung jawab, dan kemandirian diri. Jiwa wirausaha yang mulai terbentuk ini diharapkan akan mengarahkan mereka untuk tidak bergantung pada orang lain di masa depan.

Siswa di tingkat SMA sudah bisa diberi bekal yang dalam sesuai bidang minatnya. Untuk anak IPA, bisa diajak untuk membandingkan efektifitas beberapa produk kebersihan saat praktikum. Bahkan, bisa jadi, diajak untuk bereksperimen kecil-kecilan membuat sabun dari bahan sehari-hari.

Saya yakin, sebenarnya leluhur kita pun mewarisi ilmu untuk membuat pembersih rambut dari tumbuh-tumbuhan sekitar. Ilmu ini yang sebenarnya sangat dekat pula dalam kehidupan sehari-hari dan produktif.

Sedangkan untuk anak IPS, bisa diajak untuk mengadakan survei di masyarakat mengenai produk yang beredar itu yang seperti apa. Bisa ditinjau dari sisi ekonomi, kemasan menarik, rasa nyaman saat digunakan, atau mungkin hal lain yang mempengaruhi keterterimaan sebuah produk. Hal ini apabila bisa dikolaborasikan dengan anak IPA, tentunya mampu memberikan gambaran produk apa yang harus dikembangkan.

Baca Juga  Renungi dan syukuri

Untuk mahasiswa yang telah mampu berpikir strategis, bisa diajak untuk mulai diskusi yang sifatnya kompleks tentang kemandirian umat. Bagaimana urgensinya umat Islam memiliki produk sendiri. Dilihat pada sisi ekonomi, agar bisa menciptakan lapangan kerja. Dari sisi sosial, kita bisa melihat Unilever yang mendukung LGBT, kita pun bisa gunakan keuntungan dari produk kita untuk diarahkan pada sosial keumatan. Tentunya yang penting adalah dari pandangan izzah. Kemampuan menciptakan produk sendiri yang memiliki daya saing tentunya membuat umat Islam memiliki wibawa.

Spirit Surat an-Nahl ayat 125

Inilah langkah yang tepat untuk memperkenalkan nilai Islam sesuai Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125, “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan debatlah dengan cara yang lebih baik”.

Ayat tersebut memberikan makna bahwa umat Islam seharusnya berdakwah dengan cara memberikan inspirasi pencerahan, penyampaian yang santun, dan menciptakan karya yang mampu bersaing. Inilah penekanan pada kata debat dalam ayat ini yakni kita harusnya mengungguli umat lain dengan produk yang lebih baik.

Metode dakwah inilah yang telah terbukti mampu membawa Islam menjadi kiblat peradaban dunia beberapa abad lalu. Ilmu, teknologi, sastra, kebudayaan, filsafat, dan sebagainya datang dari negeri-negeri muslim. Karena saat itu, dunia tidak punya pilihan lain untuk tidak mengonsumsi produk-produk Islam memang yang terbaik. Nah, bisakah kita kembali pada masa itu?

Editor: Yahya FR

Share Artikel

contributor

Guru fisika dan staf kurikulum SMA ABBS Surakarta. Alumnus Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Peneliti Superkonduktor di Laboratorium MIPA Pusat Universitas Sebelas Maret

Tinggalkan Balasan