back to top
Kamis, Mei 28, 2026

Sapi Kurban Mengamuk

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Fenomena sapi kurban yang tiba-tiba lepas kendali dan mengamuk telah menjadi sorotan publik selama perayaan Idul Adha 1447 H. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan kepanikan di kalangan warga, tetapi juga mengungkap celah dalam manajemen penanganan hewan kurban di tingkat masyarakat.

Dalam rentang waktu singkat pada 26–27 Mei 2026, beberapa kasus mencuat ke permukaan. Di Kota Tangerang, seekor sapi kurban lepas saat akan disembelih di Kelurahan Tanah Tinggi. Tali yang rapuh menyebabkan hewan tersebut berlarian liar hingga memerlukan intervensi tim Damkar untuk menangkapnya. Kasus serupa terjadi di Kelurahan Batu Ceper, di mana sapi tercebur ke selokan, memaksa petugas turun tangan evakuasi.

Di Tangerang Selatan, peristiwa di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat Timur, sempat mengganggu lalu lintas. Sapi berontak sekitar pukul 10.00 WIB, talinya terlepas, dan berlari ke jalan raya. Panitia kurban dari Masjid As Salam, Wirjan, menjelaskan bahwa hewan tersebut mendadak mengamuk. Polisi setempat akhirnya berhasil menangkapnya di dekat Asrama Putri UIN setelah satu jam lebih.

Kasus yang lebih dramatis terjadi di Desa Pasir Kulon, Banyumas. Seekor sapi kurban memasuki area hajatan warga, naik ke pelamin, dan merusak kursi serta meja. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini menunjukkan betapa tidak terkendalinya situasi ketika hewan stres.

Fenomena Sapi Kurban Mengamuk ini bukan sekadar kejadian sporadis. Setiap tahun, selama Idul Adha, media sosial dan pemberitaan lokal kerap diwarnai video serupa. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai kesejahteraan hewan, keselamatan publik, serta kesiapan masyarakat dalam mengelola ibadah kurban yang semakin masif.

Baca Juga:  Majelis Taklim Wajib Daftar, Berikut Tanggapan Sekjend MUI

Menurut data yang beredar, pada Idul Adha 2025 sebanyak 627.130 ekor sapi dikurbankan, menyumbang 65 persen dari total penyembelihan sapi nasional sepanjang tahun. Angka ini menunjukkan skala ekonomi dan sosial yang besar. Namun, di balik semangat keagamaan, terdapat risiko nyata baik bagi manusia maupun hewan.

Dikutip dari Kompas.id (27/05), Profesor Supratikno, pakar anatomi dan dosen di Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, serta peneliti di Halal Science Center IPB, memberikan penjelasan ilmiah yang penting.

”Sapi adalah hewan yang memiliki modalitas sensorik. Mereka memiliki cara khusus untuk mengolah informasi dari lingkungannya,” ujar Supratikno. Menurutnya, sapi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, suara keras, aroma darah, dan gerakan mendadak. Sebagai hewan sosial, isolasi atau pemisahan dari kelompok dapat memicu stres berat.

Supratikno menambahkan jika penanganan dalam penyembelihan sapi harus dilakukan secara baik dan tidak ceroboh.

“Kalau mau menangani sapi, kalau takut jangan berani-berani dan kalau berani jangan takut-takut supaya hormon stres manusia tidak terdeteksi oleh sapi.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa penanganan yang tidak tepat justru memperburuk situasi.

Sapi Kurban Mengamuk sering kali dipicu oleh kombinasi faktor: tali yang tidak kuat, lokasi penyembelihan yang ramai, paparan aroma dan suara dari proses pemotongan hewan lain, serta minimnya pengetahuan panitia tentang perilaku hewan. Di banyak kasus, warga justru berkerumun untuk menyaksikan atau ikut mengejar, yang malah meningkatkan tingkat stres hewan dan risiko kecelakaan.

Baca Juga:  LPPI UMY dan IBTimes Adakan Madrasah Literasi

Dari perspektif kebijakan publik, fenomena ini menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat terkait penyelenggaraan kurban di tingkat masyarakat. Pemerintah daerah, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, seharusnya meningkatkan sosialisasi dan pelatihan bagi panitia kurban. Standar kandang sementara, jalur evakuasi, serta protokol penanganan hewan lepas perlu distandarisasi.

Aspek ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Harga sapi kurban yang terus meningkat membuat banyak keluarga dan masjid mengumpulkan dana secara kolektif. Namun, investasi besar ini bisa sia-sia jika hewan mengalami stres berlebih yang berpotensi memengaruhi kualitas daging dan kesehatan konsumen. Selain itu, insiden Sapi Kurban Mengamuk berisiko menimbulkan kerugian material bagi warga sekitar, seperti kerusakan properti atau gangguan lalu lintas.

Di sisi lain, ada juga sisi kemanusiaan. Banyak warga membangun ikatan emosional dengan hewan yang mereka rawat selama berbulan-bulan. Antropomorfisme — kecenderungan menganggap hewan memiliki emosi seperti manusia, sering muncul, terutama ketika video sapi “menangis” viral. Supratikno menegaskan bahwa air mata pada sapi lebih bersifat fisiologis daripada emosional.

“Emosi yang sapi rasakan lebih ke arah naluri bertahan hidup,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa sapi memang hewan sentien yang bisa merasakan sakit dan ketakutan, tetapi tidak sama dengan emosi manusia. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak salah menginterpretasikan perilaku hewan.

Kasus tragis seperti tenggelamnya panitia kurban di Palembang dan dua bocah di Pemalang saat mencuci jeroan menambah daftar keprihatinan. Ini mengingatkan bahwa keselamatan manusia juga harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah kurban.

Baca Juga:  Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar” ala Mendikbud

Sapi Kurban Mengamuk seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih, melainkan juga tentang ihsan, berbuat baik terhadap sesama dan makhluk hidup. Supratikno merekomendasikan beberapa langkah praktis: menggunakan pisau yang sangat tajam untuk mempercepat proses, menutup area penyembelihan agar hewan lain tidak melihat, menghindari keramaian berlebih, serta memastikan penanganan dilakukan oleh orang yang berpengalaman dan tenang.

Dari perspektif kebijakan publik yang lebih luas, pemerintah dapat mendorong sertifikasi panitia kurban, penyediaan fasilitas Rumah Potong Hewan (RPH) temporer di tingkat kecamatan, dan kampanye edukasi masif menjelang Idul Adha. Kerja sama antara Kementerian Agama, Kementerian Pertanian, serta perguruan tinggi seperti IPB University perlu diperkuat untuk menghasilkan pedoman berbasis sains.

Pada akhirnya, fenomena Sapi Kurban Mengamuk mencerminkan tantangan modern dalam menjalankan tradisi keagamaan di tengah kepadatan penduduk dan perubahan sosial. Dengan pendekatan yang lebih profesional, berbasis pengetahuan ilmiah, dan penuh empati terhadap kesejahteraan hewan, perayaan Idul Adha dapat menjadi lebih aman, tertib, dan bermakna bagi seluruh lapisan masyarakat.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru