IBTimes.ID – Nama Gubernur Bank Indonesia (BI) kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk mengisi kursi tertinggi di Bank Indonesia. Usulan ini disampaikan lewat surat presiden yang diserahkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026). Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, kini melangkah selangkah lebih dekat menuju posisi definitif.
Bagi banyak pengamat, pilihan ini bukan kejutan, melainkan konfirmasi atas dugaan yang sudah lama beredar di kalangan pelaku pasar. Prasetyo menegaskan bahwa Presiden hanya mengajukan satu nama untuk posisi Gubernur BI definitif.
”Jadi, namanya tunggal, ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti, yang sekarang menjabat sebagai pejabat sementara gubernur,” ujar Prestyo.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada nama lain yang bersaing untuk posisi tersebut. Selanjutnya, DPR akan menindaklanjuti usulan itu sesuai mekanisme yang berlaku, termasuk melalui uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Fauzi Amro sempat menjelaskan bahwa komisinya akan menjalankan fungsi konstitusional terkait persetujuan calon yang diusulkan Presiden. Setelah menerima penugasan dari Badan Musyawarah DPR, Komisi XI akan menggelar uji kelayakan secara terbuka. Hasil uji tersebut kemudian dibawa ke Rapat Paripurna untuk memperoleh persetujuan akhir sebelum Presiden melantik Gubernur BI definitif.
Berdasarkan pola yang terjadi pada periode sebelumnya, rangkaian proses ini biasanya berlangsung cukup singkat. Mulai dari penerimaan nama calon oleh DPR, uji kelayakan di Komisi XI, hingga pengambilan keputusan di rapat paripurna, waktu yang dibutuhkan umumnya hanya sekitar satu sampai dua minggu.
Kecepatan proses ini penting agar tidak muncul kekosongan kepemimpinan yang bisa mengganggu stabilitas kebijakan moneter. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI menjadi latar belakang munculnya proses pemilihan ini. Perry mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden pada 25 Juli 2026.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa terpilihnya Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI sejalan dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, pola yang lazim terjadi ketika seorang Gubernur BI mengundurkan diri adalah pengangkatan sosok petahana atau incumbent untuk menggantikannya. Pola inilah yang kembali terulang dengan pencalonan Destry sebagai pengganti Perry Warjiyo.
Dalam kajian ekonomi moneter, ekspektasi pasar terhadap bank sentral bukan sekadar isu spekulatif. Konsep ini berakar pada teori ekspektasi rasional yang dikembangkan Robert Lucas dan John Muth. Teori tersebut menyatakan bahwa pelaku pasar membentuk perkiraan masa depan dengan memanfaatkan seluruh informasi yang tersedia, termasuk rekam jejak pejabat bank sentral dan pola pengangkatan sebelumnya. Ketika kenyataan sesuai dengan perkiraan itu, pasar cenderung merespons secara positif dan minim gejolak.
Selain teori ekspektasi rasional, ada pula konsep kredibilitas bank sentral yang dikembangkan Kenneth Rogoff dan Finn Kydland bersama Edward Prescott. Konsep ini menekankan bahwa kepercayaan pasar terhadap bank sentral sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan dan kejelasan arah kepemimpinan. Sosok Gubernur BI yang berasal dari internal institusi dinilai membawa kontinuitas kebijakan, sehingga risiko ketidakpastian dapat ditekan. Inilah sebabnya pasar keuangan cenderung menyambut baik calon yang sudah dikenal rekam jejaknya.
Respons pasar atas kepastian calon Gubernur BI ini juga tecermin dari pergerakan nilai tukar rupiah. Mengutip data pasar uang Bloomberg, rupiah pada perdagangan Senin (10/8/2026) siang berada di level Rp17.755 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menguat 0,79 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Penguatan ini menjadi indikasi awal bahwa pelaku pasar menilai proses pergantian kepemimpinan bank sentral akan berjalan mulus.
Fenomena ini sejalan dengan teori signaling dalam ekonomi moneter, yang menyebutkan bahwa setiap keputusan atau pengumuman resmi dari otoritas dapat menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk menyesuaikan ekspektasi mereka. Pengumuman calon tunggal Gubernur BI berfungsi sebagai sinyal kepastian.
Ketika sinyal tersebut dianggap kredibel dan sesuai prediksi, investor cenderung merespons dengan menambah kepercayaan terhadap aset domestik. Menurut Ibrahim, pengalaman panjang Destry di jajaran pimpinan tertinggi BI membuat pasar keuangan menilai dirinya memiliki kapabilitas paling siap untuk menjaga kelancaran transisi kepemimpinan.
Ekspektasi pasar terhadap Gubernur BI tidak berhenti pada urusan simbolik. Dalam banyak kasus, ekspektasi ini turut memengaruhi keputusan investasi, arus modal asing, hingga stabilitas nilai tukar. Ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin bank sentral biasanya memicu kehati-hatian pelaku pasar, sementara kepastian cenderung mendorong optimisme.
Teori ekonomi moneter modern juga menyoroti pentingnya independensi bank sentral dalam membentuk ekspektasi pasar yang sehat. Sosok Gubernur BI yang dianggap independen dan konsisten dalam menjaga stabilitas harga umumnya lebih dipercaya pasar dibandingkan sosok yang dianggap rentan terhadap tekanan politik jangka pendek. Faktor inilah yang turut menjelaskan mengapa pengangkatan figur internal seperti Destry dipandang sebagai pilihan yang meminimalkan risiko ketidakpastian kebijakan.
Ke depan, proses uji kelayakan di Komisi XI DPR akan menjadi tahap penting yang menentukan arah persepsi pasar terhadap kepemimpinan Gubernur BI berikutnya. Jika proses tersebut berjalan lancar dan hasilnya sesuai ekspektasi, kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia berpotensi semakin menguat. Sebaliknya, hambatan politik dalam proses ini bisa menjadi sumber ketidakpastian baru bagi pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global.
Secara makro, stabilitas kursi Gubernur BI adalah jangkar bagi kebijakan moneter di tengah inflasi yang fluktuatif dan tantangan geopolitik. Pelaku pasar membutuhkan kepastian bahwa Bank Indonesia akan tetap teguh pada mandatnya: menjaga stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi. Destry, dengan rekam jejaknya, dipandang mampu melanjutkan visi tersebut tanpa harus melakukan perombakan drastis yang berpotensi mengejutkan pasar.
Pentingnya kontinuitas kebijakan tidak bisa diremehkan. Ketika seorang gubernur baru membawa paradigma berbeda, sering kali terjadi rebalancing portofolio besar-besaran oleh investor asing, yang memberikan tekanan pada mata uang. Dengan Destry yang merupakan bagian dari rezim kebijakan saat ini, risiko “kejutan kebijakan” menjadi sangat minim. Ini adalah sentimen positif yang sangat krusial bagi manajer investasi global.
Peran Bank Indonesia dalam mengoordinasikan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal pemerintah akan terus diuji. Presiden Prabowo yang memiliki agenda pembangunan ambisius tentu membutuhkan mitra di bank sentral yang tidak hanya independen, tetapi juga mampu memahami narasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pilihan Presiden untuk mengajukan calon tunggal juga mencerminkan sinyal kuat mengenai kestabilan politik domestik. Bagi investor, ketidakpastian politik adalah musuh utama. Kedewasaan politik yang ditunjukkan dalam proses transisi ini adalah aset berharga bagi reputasi Indonesia.
Meski pasar merespons positif, tantangan bagi Gubernur BI terpilih tetap nyata. Dinamika harga komoditas global, fluktuasi kebijakan suku bunga negara maju, hingga transisi energi menuntut kepemimpinan yang adaptif. Destry tidak hanya harus menjaga stabilitas moneter, tetapi juga proaktif dalam menavigasi ekonomi Indonesia melewati badai eksternal.
Kepemimpinan di bank sentral memerlukan perpaduan antara keahlian teknis, komunikasi efektif, serta ketangguhan menghadapi tekanan. Destry telah menunjukkan kemampuannya selama menjabat sebagai pejabat sementara. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana ia akan membentuk warisannya sendiri.
Pengusulan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI adalah langkah strategis untuk menjaga momentum ekonomi Indonesia. Pasar telah memberikan lampu hijau, dan kini bola berada di tangan parlemen. Jika transisi ini berjalan mulus sesuai ekspektasi, Indonesia akan berada di posisi kuat menghadapi ketidakpastian global. Stabilitas adalah fondasi, dan Gubernur BI yang kredibel adalah pilar dari fondasi tersebut.
(Assalimi)


