back to top
Jumat, September 18, 2026

Ketika Rasio Saja Tidak Cukup: Belajar Menjalani Hidup dari Mulla Sadra

Lihat Lainnya

Husna Ni'matul Ulya
Husna Ni'matul Ulya
Dosen UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dan Mahasiswa Doktor Universitas Gadjah Mada

Ada masa dalam kehidupan ketika kita sudah merasa menggunakan seluruh kemampuan untuk mengambil sebuah keputusan. Kita berpikir, menghitung kemungkinan, mempertimbangkan untung-rugi, meminta pendapat orang lain, bahkan berusaha memilih jalan yang paling masuk akal. Tetapi setelah semuanya dilakukan, mengapa hati masih belum juga tenang? Pertanyaan sederhana itu membawa kita pada satu hal yang sering terlupakan: manusia ternyata tidak hanya terdiri dari pikiran.

Kita memang membutuhkan rasio untuk menjalani kehidupan. Tanpa pertimbangan akal, kita akan mudah mengambil keputusan secara gegabah. Tetapi ada banyak hal dalam hidup yang tidak selesai hanya dengan logika. Ada perasaan yang sulit dijelaskan, intuisi yang muncul tanpa perhitungan panjang, pengalaman batin, suara hati, dan pada akhirnya kesadaran bahwa manusia memiliki hubungan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri: Tuhan.

Dalam konteks inilah pemikiran Mulla Sadra menarik untuk direnungkan.

Mulla Sadra, filsuf Muslim yang hidup pada abad ke-17, dikenal sebagai pemikir yang berusaha mempertemukan filsafat, pengalaman spiritual atau ‘irfan, dan wahyu. Baginya, perjalanan manusia menuju pengetahuan dan kesempurnaan bukan hanya persoalan mengetahui sesuatu dengan akal, tetapi juga persoalan bagaimana pengetahuan tersebut mengubah keberadaan manusia.

Ketika Rasio Tidak Lagi Cukup

Kita hidup dalam zaman yang sangat percaya pada kemampuan manusia untuk menghitung dan mengendalikan sesuatu. Hampir semua hal ingin kita ukur. Keberhasilan diukur dengan angka, pekerjaan dengan target, pendidikan dengan nilai, bisnis dengan keuntungan, bahkan kehidupan di media sosial dengan jumlah pengikut dan tanda suka.

Tidak ada yang salah dengan angka dan perhitungan. Persoalannya muncul ketika semua itu menjadi satu-satunya ukuran. Seseorang bisa saja memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan yang cukup, pendidikan tinggi, dan kehidupan sosial yang terlihat menyenangkan, tetapi tetap merasakan kekosongan. Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya sederhana tetapi memiliki ketenangan yang sulit dijelaskan hanya dengan ukuran material.

Baca Juga:  Menghadirkan Nilai Agama di Ruang Publik

Mungkin karena manusia tidak hanya membutuhkan jawaban atas pertanyaan “bagaimana saya mendapatkan sesuatu?”, tetapi juga “untuk apa saya mendapatkannya?”

Pertanyaan kedua membawa kita ke wilayah yang lebih dalam. Di sana rasio tetap diperlukan, tetapi ia tidak lagi berjalan sendirian.

Berhenti Sejenak untuk Menemukan Arah

Mulla Sadra menggambarkan perjalanan manusia melalui konsep al-asfār al-arba’ah, empat perjalanan spiritual. Secara sederhana, perjalanan tersebut menggambarkan perjalanan dari makhluk menuju Tuhan, perjalanan dalam Tuhan bersama Tuhan, perjalanan kembali dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan, dan berada di tengah makhluk bersama Tuhan.

Konsep ini tentu sangat kompleks jika dibahas dalam keseluruhan bangunan filsafat Mulla Sadra. Tetapi jika dibaca sebagai sebuah refleksi kehidupan, ada satu pesan yang menarik: manusia membutuhkan perjalanan ke dalam dirinya sendiri sebelum kembali menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih matang.

Kita barangkali membutuhkan apa yang dalam tradisi spiritual Islam dikenal sebagai uzlah, mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Bukan berarti meninggalkan dunia untuk selamanya. Bukan pula berarti tidak peduli dengan persoalan sosial.

Kadang kita hanya perlu berhenti.

Mematikan suara yang terlalu ramai dari luar agar dapat mendengar apa yang sedang terjadi di dalam diri. Berhenti sejenak dari keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan. Bertanya kepada diri sendiri: selama ini saya sebenarnya sedang mengejar apa?

Dalam kesunyian semacam itu, seseorang mungkin mulai menyadari bahwa tidak semua yang dikejar memang perlu dimiliki. Tidak semua pertengkaran harus dimenangkan. Tidak semua penilaian orang lain harus dijawab. Dan yang lebih penting, kita mulai menyadari posisi diri kita di hadapan Tuhan.

Baca Juga:  SMAMCO Manokwari dan Konservasi di Tanah Papua

Kembali ke Dunia dengan Kesadaran Baru

Namun, perjalanan spiritual tidak berhenti pada kesunyian. Ini yang menurut saya menarik dari konsep empat perjalanan Mulla Sadra. Setelah perjalanan menuju Tuhan, ada perjalanan kembali kepada makhluk. Artinya, manusia tidak diminta selamanya berada dalam ruang spiritual yang terpisah dari kehidupan.

Ia harus kembali.

Kembali kepada keluarga. Kembali kepada pekerjaan. Kembali kepada masyarakat. Kembali berhadapan dengan orang-orang yang berbeda karakter, kepentingan, dan pandangan. Kembali menghadapi persoalan yang mungkin sebelumnya membuat kita gelisah. Bedanya, kita kembali dengan membawa sesuatu dari perjalanan batin tersebut.

Orang yang mulai menemukan Tuhan dalam dirinya semestinya tidak menjadi semakin jauh dari manusia. Justru kedekatannya kepada Tuhan seharusnya terlihat dalam cara ia memperlakukan manusia.

Ketika diberi kekuasaan, ia belajar menahan diri dari kesewenang-wenangan. Ketika memiliki harta, ia tidak merasa bahwa semuanya hanya miliknya. Ketika berbeda pendapat, ia tidak buru-buru merendahkan orang lain. Ketika disakiti, ia belajar bahwa membalas bukan satu-satunya pilihan. Dengan demikian, spiritualitas tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ia menjadi kompas dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah hati memiliki peran penting. Bukan berarti kita meninggalkan rasio dan kemudian mengikuti setiap perasaan yang muncul. Hati pun harus dididik. Ia perlu dibimbing oleh wahyu, akal, pengalaman, dan latihan spiritual. Sebab tidak semua yang kita rasakan otomatis merupakan kebenaran.

Menuju Jiwa yang Tenang

Pada akhirnya, mungkin yang paling kita cari dalam perjalanan hidup adalah ketenangan.

Baca Juga:  Transcendent God, Rational World: Menyegarkan Teologi Maturidi di Era Modern

Al-Qur’an menggunakan istilah nafs al-muṭma’innah, jiwa yang tenang:

“Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma’innah. Irji’ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah.”

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS al-Fajr: 27–28).

Ayat ini tidak sedang menawarkan resep sederhana agar manusia bebas dari masalah. Dalam tafsir para ulama, nafs al-muṭma’innah berkaitan dengan jiwa orang beriman yang memperoleh ketenangan karena keyakinannya kepada Allah dan kepulangannya kepada-Nya.

Karena itu, ketenangan tidak selalu berarti hidup tanpa persoalan. Kita tetap bisa menangis ketika kehilangan. Tetap kecewa ketika dikhianati. Tetap takut ketika menghadapi ketidakpastian. Tetap lelah ketika kehidupan terasa berat. Tetapi ada sesuatu yang perlahan berubah: kita tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi semuanya.

Barangkali inilah salah satu hal yang dapat kita renungkan dari perjalanan Mulla Sadra. Manusia tidak harus memilih antara akal dan hati. Kita membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan ilmu, tetapi juga kebijaksanaan. Kita membutuhkan usaha, tetapi juga penyerahan diri. Kita membutuhkan kehidupan dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan.

Kita berangkat dari kehidupan, masuk ke dalam diri, mencari Tuhan, lalu kembali lagi kepada kehidupan. Bukan untuk melarikan diri dari dunia, melainkan agar mampu hidup di dalamnya tanpa kehilangan arah.

Sebab mungkin kedewasaan spiritual bukan ketika seseorang sudah tidak memiliki masalah, tetapi ketika di tengah berbagai persoalan ia memiliki kompas batin yang membuatnya tetap tahu ke mana harus kembali.

Dan pada akhirnya, seperti pesan sederhana dalam ayat itu: perjalanan kita mungkin sangat panjang, tetapi kita tahu pada siapa perjalanan tersebut akan berujung.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru