Apa sebenarnya arti “bekerja kepada Allah”? Tentu bukan berarti Allah membutuhkan tenaga kita. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Yang dimaksud adalah bekerja karena Allah, dengan cara yang Allah ridai, dan untuk tujuan yang baik. Dalam Islam, bekerja bukan hanya aktivitas untuk mendapatkan uang saja. Pekerjaan bisa menjadi ibadah, bahkan menjadi jalan seseorang menjaga kehormatan dirinya, memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang lain, dan mendapatkan keberkahan hidup.
Etos Kerja dan Semangat Memberi dalam Islam
Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kemuliaan bekerja. Rasulullah SAW bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang berasal dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud AS juga makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari) Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia untuk malas. Justru, usaha mencari rezeki melalui pekerjaan yang halal merupakan sesuatu yang mulia.
Menjadi guru, petani, pedagang, karyawan, nelayan, tukang, pengusaha, penulis, maupun profesi lainnya, selama halal dan dilakukan dengan cara yang benar, bisa menjadi jalan ibadah. Karena itu, jangan merasa rendah hanya karena pekerjaan kita sederhana. Yang membuat sebuah pekerjaan mulia bukan hanya jabatan atau besarnya penghasilan, tetapi kehalalan pekerjaan, manfaatnya, dan niat orang yang menjalankannya.Rasulullah SAW juga bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta. Barangsiapa menjaga diri dari meminta-minta, Allah akan menjaganya. Dan barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1427). “Tangan di atas” menggambarkan orang yang memberi, sedangkan “tangan di bawah” menggambarkan orang yang menerima. Pesannya sederhana, jadilah orang yang berusaha memiliki kemampuan untuk memberi, bukan terus-menerus bergantung kepada orang lain.
Tapi, hadis ini tentu bukan untuk merendahkan orang yang sedang miskin atau benar-benar membutuhkan pertolongan. Ada keadaan ketika seseorang memang tidak mampu bekerja dan membutuhkan bantuan. Dalam kondisi seperti itu, membantu mereka justru merupakan amal mulia.
Jangan Gengsi Bekerja: Islam Mengajarkan Kemandirian
Yang ditekankan adalah jangan menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan ketika seseorang sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk berusaha. Kadang masalah seseorang juga bukan tidak ada pekerjaan, tapi gengsi terhadap pekerjaan. Ada yang ingin bekerja, tapi hanya mau pekerjaan yang terlihat keren. Ada yang malu bekerja dengan tangan. Ada pula yang merasa pekerjaan tertentu tidak sesuai dengan gelar atau status sosialnya.
Padahal Rasulullah SAW justru memuji orang yang mendapatkan makanan dari hasil kerja tangannya. Islam mengajarkan kita untuk membangun kemandirian, bukan hanya mengejar gengsi. Jika pekerjaan itu halal, tidak merugikan orang lain, dan dilakukan dengan cara yang baik, maka tidak ada alasan untuk meremehkannya. Seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh. Petani yang mencangkul sawah. Pedagang yang jujur. Pekerja yang mengangkat barang untuk menafkahi keluarganya.
Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana bisa menjadi sangat mulia ketika dilakukan dengan niat yang benar. Tapi ada batasnya, jangan meminta-minta jika masih mampu berusaha Rasulullah SAW memberikan peringatan keras:
لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ، وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Seseorang akan terus-menerus meminta-minta hingga ia menghadap Allah, sementara di wajahnya tidak tersisa sepotong dagingpun.” (HR. Muslim no. 1040).
Hadis ini menggambarkan betapa buruknya kebiasaan meminta-minta tanpa kebutuhan yang dibenarkan. Pesannya bukan bahwa setiap orang yang meminta bantuan adalah orang tercela. Orang yang benar-benar membutuhkan tentu boleh dibantu dan tidak layak dihina.
Tapi bagi orang yang masih memiliki kemampuan, berusaha adalah pilihan yang lebih terhormat. Lebih baik sedikit tapi hasil keringat sendiri, daripada banyak tetapi membuat kita kehilangan kemandirian. Ada satu hal penting yang sering dilupakan, mencari nafkah bukan hanya urusan dunia saja. Seorang suami yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bisa mendapatkan pahala jika diniatkan karena Allah.
Dunia di Tangan, Allah di Tujuan
Seorang ayah yang bekerja keras agar anaknya bisa makan dan belajar juga sedang melakukan sesuatu yang mulia. Bahkan pekerjaan yang melelahkan dapat memiliki nilai ibadah ketika tujuannya benar dan caranya halal. Di sinilah pentingnya niat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka pekerjaan yang sama bisa memiliki nilai yang berbeda karena niat yang berbeda. Dua orang sama-sama mengajar. Yang satu hanya mengejar gaji, sedangkan yang lain berniat mencari rezeki halal, mendidik generasi, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalankan amanah. Secara lahiriah pekerjaannya sama, tapi nilai di sisi Allah bisa berbeda.
Bekerja kepada Allah bukan berarti meninggalkan dunia. Ada kesalahpahaman bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia harus meninggalkan urusan dunia. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan. Kita tetap bekerja, berdagang, bertani, mengajar, membangun usaha, dan mencari rezeki. Tapi semua itu dilakukan dalam koridor halal dan tidak melupakan Allah.
Bekerja kepada Allah berarti menjadikan pekerjaan sebagai jalan menuju Allah. Bekerja dengan jujur karena Allah. Mencari nafkah karena Allah. Menafkahi keluarga karena Allah. Menghindari pekerjaan haram karena Allah. Tidak menipu karena Allah. Tidak mengambil hak orang lain karena Allah. Dan ketika mendapatkan rezeki, kita tidak lupa bahwa semua itu pada akhirnya berasal dari Allah.
Untuk Siapa Kita Bekerja?
Yang dicari bukan sekadar gaji, tetapi keberkahan. Ukuran keberhasilan seorang pekerja bukan hanya berapa rupiah yang masuk ke rekeningnya. Ada orang yang penghasilannya besar, tapi hidupnya tidak tenang. Ada pula orang yang penghasilannya sederhana, tapi keluarganya bahagia, kebutuhannya tercukupi, dan hartanya membawa manfaat.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Berapa gajiku?” Tapi tanyakan juga, “Apakah pekerjaanku halal?”, “Apakah caraku bekerja jujur?”, “Apakah pekerjaanku bermanfaat?”, “Apakah rezeki ini membawa keberkahan?” Dan yang paling penting “Untuk siapa sebenarnya aku bekerja?”
Jika jawabannya adalah “untuk mencari rida Allah”, maka pekerjaan yang tampak biasa pun dapat berubah menjadi ibadah yang luar biasa. Sebab bekerja bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu dari dunia. Bekerja adalah cara kita menjaga kehormatan, menunaikan tanggung jawab, memberi manfaat, dan menjemput rezeki yang Allah titipkan melalui usaha.
Maka, mari bekerja dengan tangan sendiri, menjaga diri dari meminta-minta tanpa kebutuhan, membantu ketika mampu, dan meluruskan niat. Sebab boleh jadi pekerjaan yang hari ini terasa melelahkan, justru menjadi salah satu jalan yang mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah.
Editor: Anas


