Dalam kehidupan sehari-hari, di Indonesia ada istilah yang terdengar lucu, tetapi sebenarnya menyimpan kritik yang cukup serius, “manajemen tukang bakso.” Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan pola pengelolaan yang serba dilakukan sendiri oleh satu orang. Ia merencanakan, menjalankan, mengawasi, memutuskan, menyimpan data, mengatur uang, bahkan mengevaluasi hasil kerjanya sendiri.
Dalam usaha kecil, pola seperti ini mungkin masih dapat dimaklumi. Seorang tukang bakso memang wajar mengatur belanja bahan, memasak, melayani pembeli, menerima uang, dan menghitung keuntungan sendiri. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika pola semacam ini diterapkan dalam lembaga besar, apalagi lembaga pendidikan.
Sekolah bukan gerobak bakso, itu yang harus kita pahami baik-baik. Sekolah adalah organisasi sosial yang kompleks. Di dalamnya ada kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, siswa, orang tua, komite sekolah, yayasan atau dinas, kurikulum, keuangan, sarana prasarana, budaya belajar, hingga sistem evaluasi mutu. Semua unsur itu tidak mungkin dikelola secara sehat jika hanya bertumpu pada satu figur.
Ketika sekolah dikelola dengan gaya “semua harus lewat saya”, maka yang tampak di permukaan mungkin adalah ketegasan. Tetapi di balik itu, yang tumbuh sering kali justru ketergantungan, ketakutan mengambil inisiatif, dan lemahnya sistem.
Tranformasi Manajemen
Dalam kacamata manajemen modern, organisasi yang baik tidak boleh hanya bergantung pada orang kuat. Organisasi yang sehat harus bertumpu pada sistem yang jelas. Ada pembagian tugas, ada prosedur, ada dokumentasi, ada mekanisme pengawasan, dan ada ruang evaluasi. Kepala sekolah tentu tetap penting sebagai pemimpin. Namun, pemimpin yang baik bukanlah orang yang mengerjakan semua hal sendirian. Pemimpin yang baik adalah orang yang mampu membuat orang lain bekerja dengan arah yang jelas, tanggung jawab yang terukur, dan kepercayaan yang memadai.
Masalah utama dari “manajemen tukang bakso” dalam sekolah adalah sentralisasi yang berlebihan. Semua keputusan, bahkan yang kecil sekalipun, harus menunggu arahan pimpinan. Guru tidak berani mengambil inisiatif karena takut salah. Staf administrasi bekerja hanya berdasarkan instruksi mendadak. Wakil kepala sekolah hanya menjadi simbol jabatan, bukan penggerak bidang. Akibatnya, sekolah menjadi lambat, kaku, dan mudah macet ketika pimpinan tidak hadir. Sekolah seperti ini mungkin tampak tertib, tetapi sebenarnya rapuh.
Selain itu, pola manajemen yang terlalu personal sering melemahkan akuntabilitas. Banyak keputusan hanya disampaikan secara lisan, kebijakan berjalan berdasarkan kebiasaan, bukan aturan tertulis bahkan tugas diberikan tanpa alur koordinasi yang jelas. Ketika terjadi masalah, semua orang bingung mencari dasar keputusan.
Siapa yang memberi instruksi? Siapa yang bertanggung jawab? Apa bukti pelaksanaannya? Di sinilah bahaya manajemen informal dalam lembaga pendidikan. Sekolah membutuhkan dokumentasi, tidak hanya mengandalkan memori manusia yang terbatas. Sekolah membutuhkan sistem, bukan kepercayaan personal.
Dampak lain yang tidak kalah serius adalah melemahnya profesionalitas guru dan staf. Jika semua hal dikendalikan dari atas, guru tidak tumbuh sebagai pendidik yang mandiri dan reflektif. Mereka hanya menjadi pelaksana perintah. Padahal, sekolah modern membutuhkan guru yang mampu membaca kebutuhan siswa, merancang pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, dan berkolaborasi dengan sesama guru. Jika ruang berpikir guru terus dipersempit, maka sekolah kehilangan salah satu sumber kekuatan terbesarnya: kapasitas kolektif para pendidik.
Berjalan Dengan Sistem Bukan Perintah
Dalam konteks pendidikan, “manajemen tukang bakso” juga menjadi sangat berbahaya karena dapat mengganggu kualitas layanan kepada siswa. Sekolah yang tidak memiliki sistem akan kesulitan melacak perkembangan siswa, menangani masalah kedisiplinan, mengelola kegiatan pembelajaran, dan merespons kebutuhan orang tua.
Semua bergantung pada siapa yang sedang memegang informasi. Jika orang itu sibuk, lupa, pindah, atau tidak hadir, maka pelayanan ikut terganggu. Ini jelas tidak adil bagi siswa, karena mereka berhak mendapatkan layanan pendidikan yang konsisten dan terencana.
Namun, kritik terhadap model ini tidak berarti kita meremehkan kerja keras pemimpin sekolah. Banyak kepala sekolah bekerja sangat keras karena merasa tidak ada orang lain yang bisa diandalkan. Ada yang terpaksa mengurus semuanya karena sumber daya terbatas. Ada pula yang terbiasa turun langsung karena ingin memastikan sekolah berjalan baik. Niat seperti ini mungkin baik. Tetapi niat baik tidak selalu menghasilkan sistem yang baik. Justru, jika seorang pemimpin terlalu lama menanggung semuanya sendiri, ia sedang membangun organisasi yang lemah di bawah bayang-bayang dirinya.
Akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kepala sekolah rajin atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sekolah tetap berjalan baik ketika kepala sekolah tidak ada? Jika jawabannya tidak, berarti sekolah belum memiliki sistem yang kuat. Sekolah itu masih bergantung pada figur, bukan pada tata kelola. Dan organisasi yang terlalu bergantung pada figur akan selalu menghadapi risiko besar ketika figur itu berubah, pindah, pensiun, atau kehilangan kendali.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Sekolah perlu berani beralih dari manajemen personal menuju manajemen sistemik. Pembagian tugas harus diperjelas. Wakil kepala sekolah dan koordinator bidang perlu diberi kewenangan yang nyata. SOP harus dibuat bukan sebagai dokumen fiksi, tetapi sebagai “jimat” panduan kerja. Keputusan penting perlu dicatat. Rapat harus menghasilkan tindak lanjut yang jelas. Data siswa, data guru, data kegiatan, dan data evaluasi harus dikelola dengan rapi. Dengan begitu, sekolah tidak hanya berjalan karena ada orang yang kuat, tetapi karena ada sistem yang bekerja.
Di sisi lain, bawahan juga tidak boleh hanya mengeluh. Guru dan staf dapat memulai perubahan dari hal kecil: membuat dokumentasi kerja, menyusun format laporan, mencatat hasil rapat, membangun koordinasi antartim, dan memberi masukan dengan bahasa yang konstruktif. Kritik terhadap sistem tidak harus selalu dilakukan dengan cara frontal. Kadang, perubahan justru dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten.
Refleksi Tata Kelola Sekolah
Pada akhirnya, “manajemen tukang bakso” adalah cermin bagi banyak lembaga pendidikan. Istilah ini terdengar ringan bagai lelucon yang mencipta tawa, tetapi, apakah sekolah dikelola sebagai organisasi modern atau masih sebagai urusan pribadi segelintir orang? Jika sekolah ingin maju, jawabannya jelas, Sekolah tidak boleh dikelola seperti gerobak milik sendiri. Sekolah harus dikelola sebagai lembaga publik yang membutuhkan akuntabilitas, kolaborasi, transparansi, dan keberlanjutan.
Sebab pendidikan terlalu penting untuk diserahkan pada pola kerja yang serba spontan, serba lisan, dan serba tergantung pada satu orang. Sekolah bukan tempat untuk mempertahankan ego manajerial. Sekolah adalah tempat membangun masa depan. Dan masa depan tidak bisa dikelola dengan cara yang membuat semua orang hanya menunggu satu orang mengaduk kuah.
(Nashuha)


