back to top
Sabtu, Mei 30, 2026

Mendikdasmen Bawa Angin Segar untuk Pendidikan Papua Lewat Perbaikan Sekolah Berbasis Kearifan Lokal

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menjaga identitas budaya dan kelestarian lingkungan mulai menemukan bentuknya di Papua Barat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari sebagai model pendidikan berbasis konservasi yang mengintegrasikan pembelajaran modern dengan kearifan lokal masyarakat Papua.

Di tengah tantangan pemerataan pendidikan di wilayah timur Indonesia, kehadiran sekolah ini menawarkan pendekatan berbeda. Tidak hanya menyediakan akses pendidikan yang lebih baik, SMAMCO juga dibangun dengan semangat menjaga alam dan memperkuat karakter peserta didik melalui nilai-nilai budaya setempat.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembangunan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi prioritas pemerintah. Menurutnya, kesenjangan pendidikan harus dipersempit melalui berbagai kebijakan afirmatif, termasuk pembangunan satuan pendidikan baru dan revitalisasi sekolah.

“Kami berkomitmen untuk bagaimana kesenjangan pendidikan itu dapat kami atasi secara bertahap dengan prioritas pada daerah-daerah 3T. Sehingga karena itu, kalau ada usulan-usulan unit sekolah baru di Indonesia Timur atau daerah 3T yang lainnya, kami akan berikan prioritas untuk tahun 2026 ini,” ungkapnya.

Yang membuat SMAMCO menarik adalah kurikulum berbasis Deep Learning yang dipadukan dengan falsafah lokal Igya Ser Hanjop, sebuah nilai luhur masyarakat Pegunungan Arfak yang menekankan pentingnya menjaga hutan dan seluruh ekosistem sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Raih Penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Emas atas Dedikasi Pendidikan

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal yang Merangkul Keberagaman

Di balik pembangunan fisiknya, sekolah ini juga menghadirkan wajah pendidikan yang inklusif. Ketua PWM Papua Barat, Mulyadi Djaya, menyebut sekitar 60 hingga 70 persen peserta didik berasal dari anak-anak asli Papua dan sebagian berasal dari keluarga non-Muslim.

“Muhammadiyah di Papua tidak sedang menanam sekat perbedaan, melainkan sedang menenun sajadah kemanusiaan yang universal melalui jalur pendidikan,” tutur Mulyadi.

Kehadiran SMAMCO menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang sosial, budaya, dan agama sekaligus menjadi sarana membangun kesadaran lingkungan sejak dini.

Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan, sekolah ini diharapkan menjadi contoh bagaimana pendidikan di Indonesia Timur tidak hanya mengejar kualitas akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang berakar pada budaya lokal dan bertanggung jawab terhadap masa depan lingkungan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru