Suatu ketika saya kehilangan kunci motor. Waktu itu, saya cukup terburu-buru datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Saya sengaja datang lebih awal agar terhindar dari antrean panjang, dan sempat merasa puas karena kursi ruang tunggu masih lengang. Saya duduk santai di antara pengunjung yang tiba lebih dulu.
Sambil menunggu giliran dipanggil, saya ikut melakukan apa yang dilakukan hampir semua orang di ruangan itu, yakni menggenggam gawai. Ketika mulai merogoh saku celana untuk mengambil gawai, saat itu saya tersadar kunci motor yang biasa ada di sana raib.
Meski panik, saya berupaya tetap tenang sambil mencari keberadaan kunci motor yang belum kunjung ketemu. Saku celana di segala sisi sudah diperiksa, ransel saya bongkar, lobi saya susuri kembali, hingga satpam saya tanyai. Tak ada sedikit pun tanda-tanda keberadaan kunci motor.
Kunci itu akhirnya ditemukan di pos penjaga pintu keluar. Rupanya saya kelupaan mencabutnya dari motor karena mungkin saat itu terlalu tergesa-gesa. Saya pun kembali duduk di antara pengunjung yang lain. Sambil memperhatikan pemandangan sekitar, saya mulai menggerutu kepada diri sendiri karena bisa lupa mencabut kunci motor. Niat datang lebih awal malah berujung pada waktu yang habis untuk mencari kunci motor sendiri.
Rasa kesal itu tak berlangsung lama. Entah pada menit ke berapa, saya sudah kembali menatap layar sambil sesekali memperhatikan orang-orang di ruang tunggu. Untuk sesaat saya lupa bahwa tadi saya nyaris putus asa.
Betapa tidak mengenakannya merasakan lupa, pikir saya waktu itu. Namun, belakangan saya sadar bahwa lupa juga yang membuat kekesalan itu mereda. Tentu keduanya tidak persis sama. Lupa menaruh kunci dan memudarnya rasa kesal adalah dua peristiwa yang berbeda. Namun, keduanya lahir dari satu sumber, yaitu ingatan yang tidak menyimpan segalanya dengan lama. Pantas saja manusia sering disebut sebagai tempatnya salah dan lupa. Quraish Shihab pun mengurai kata al-Insân dari beberapa akar sekaligus, yang bukan hanya berarti harmonis dan lemah lembut, tetapi juga pelupa.
Pada saat itu saya mulai berpikir, bagaimana jika kita tidak dianugerahi kemampuan untuk lupa. Kita terus mengingat seluruh kejadian secara presisi dengan sempurna. Kita mengingat detail kecil kesalahan yang ada, kita mengingat rasa sakit dari kehilangan, kita mengingat pedihnya kegagalan. Setiap peristiwa tersimpan utuh, lengkap dengan tanggal, intonasi, dan raut wajah.
Barangkali jika lupa tidak ada, kalimat merendahkan atau ejekan pada zaman sekolah belasan tahun lalu masih hinggap di kepala hingga saat ini. Bagi orang yang mengucapkan, kalimat itu mungkin telah lama lenyap dalam pikirannya dan ia justru akan terkejut jika diingatkan. Bagi kita yang tidak pernah lupa, kalimat itu tetap sama tajamnya seperti saat pertama kali dilontarkan.
Saya pikir jika kita menjadi orang sejenis itu, maka kita akan sulit menjadi pemaaf. Bukan karena keras hati, melainkan karena maaf mensyaratkan sesuatu yang tidak lagi kita miliki, yaitu luka yang memudar. Kita memaafkan bukan dengan menghapus peristiwanya, tetapi karena rasa sakitnya perlahan kehilangan daya. Tanpa itu, tidak ada rekonsiliasi, tidak ada pernikahan yang bertahan puluhan tahun, tidak ada persahabatan yang selamat dari pertengkaran hebat.
Dalam agama pun sebenarnya merekam pengertian itu dengan tepat. Salah satu nama Allah dalam asmaul husna adalah al-‘Afuw yang bermakna makna menghapus dan mengikis jejak sampai tidak berbekas. Doa yang sering dipanjatkan pada malam-malam terakhir Ramadan pun demikian: Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku, Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.
Maaf pada doa itu bukan menyimpan catatan lalu bersabar terhadapnya, melainkan meniadakan bekasnya. Ingatan yang sempurna memang ada dalam keyakinan itu, tetapi ia milik Yang Maha Mengetahui, dan bahkan pada-Nya yang ditonjolkan bukan kesempurnaan menyimpan, melainkan kemurahan menghapus. Maka lupa bukan kerusakan pada sistem ingatan manusia. Ia syarat agar hidup bersama bisa dilanjutkan.
Di sinilah kita dapat mengambil jeda dan mencoba merenung. Banyak hal yang selama ini kita sebut sebagai keterbatasan manusia sebenarnya bukan kekurangan, melainkan syarat. Dan kekeliruan terbesar kita di era modern ini adalah menilai manusia dengan ukuran yang sejak awal memang bukan ukuran manusia.
Hal serupa terjadi ketika kita membicarakan mengenai kecerdasan buatan, seolah kita menempatkan manusia dan mesin pada satu garis perlombaan yang sama. Seakan keduanya sedang mengerjakan pekerjaan yang identik dengan kecepatan yang berbeda. Di sinilah letak persoalannya. Sebab yang keliru bukan soal pihak mana yang menang, melainkan pertanyaannya itu sendiri, seperti menanyakan berat warna biru. Sejak awal sudah tidak masuk akal.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah mengapa kita begitu gigih mengukur diri dengan ukuran yang keliru?
Sebab perasaan merasa lambat itu tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia hadir dari sistem kerja yang menilai manusia dari keluaran per satuan waktu, dan dari kebiasaan yang selalu mengedepankan proses yang instan. Lambat pun dinilai sebagai ukuran kegagalan. Norma kecepatan selalu dianggap punya penerima manfaat.
Padahal ketika kita mulai bekerja dengan takaran yang sama dengan standar yang dilakukan oleh mesin, yakni kecepatan dan efisensi, maka hal itu hanya akan membuat kita menuntut lebih banyak terhadap diri sendiri. Pada titik ini, hidup bukan lagi mengejar makna melainkan mengejar kecepatan.
Islam sendiri tidak pernah menempatkan kecepatan sebagai puncak kebaikan tertinggi. Ada nasihat masyhur yang menyatakan bahwa sikap tergesa-gesa seringkali datangnya dari setan, sedangkan kehati-hatian datangnya dari Yang Maha Pengasih. Al-Quran memang menyebut manusia salah satunya dengan sifat tergesa-gesa, tetapi bukan sebagai pujian, melainkan sebagai kecenderungan yang perlu disadari.
Sulit memang rasanya membayangkan peringatan semacam itu punya tempat di sebuah kebudayaan yang menjadikan kecepatan sebagai ukuran tunggal keberhasilan seseorang. Seakan dunia mendesak kita untuk terus tergesa-gesa memperoleh semuanya.
Pola yang sama sebenarya berlaku di luar soal ingatan. Tubuh yang lelah tampak seperti cacat rancangan, sebab mesin tidak perlu tidur. Namun, karena tubuh merasa lelah, istirahat menjadi bermakna dan pekerjaan memiliki batas yang menandai kapan harus selesai. Pikiran yang bisa keliru pun sama. Sistem yang tidak pernah salah tidak punya alasan untuk meninjau ulang dirinya, dan kemungkinan untuk berubah pikiran hanya terbuka bagi yang bisa salah sejak awal.
Saya tentu tidak sedang meromantisasi keterbatasan. Apa yang saya alami di rumah sakit membuktikan bahwa lupa memang merugikan. Dampaknya tentu bukan hanya sekadar kehilangan kunci. Kita melupakan janji, melupakan sejarah, dan yang paling buruk, kita dapat melupakan mereka yang menjadi korban.
Ada ingatan yang tetap harus dirawat dan jika perlu harus dijaga mati-matian karena ada pihak yang berkepentingan agar ia hilang. Kecepatan pun sama, ia kerap menyelamatkan. Lewat diagnosis yang datang lebih dulu atau peringatan bencana yang tiba beberapa menit lebih awal. Yang saya tolak bukan kecepatan, melainkan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran nilai.
Sebab ada pekerjaan yang tidak bisa dipercepat tanpa merusaknya. Memahami orang lain butuh waktu. Mengubah pikiran butuh waktu. Menjadi manusia pun butuh waktu. Ini bukan soal kelambanan yang menunggu. Terkadang ini memang proses yang harus dilalui.
Semakin sempurna mesin mengingat, semakin berharga kemampuan kita untuk lupa. Di sanalah maaf masih mungkin, dan karena itu hidup bersama masih terus mungkin. Ada hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh mesin, bukan karena ia belum cukup canggih, melainkan karena untuk melakukannya ia harus lebih dahulu bisa terluka dan bisa lupa seperti kita. Kita memang makhluk pelupa, dan justru karena itulah kita disebut manusia.
Editor: Ikrima


