back to top
Senin, September 14, 2026

Yang Membuat Manusia Tetap Bersabar

Lihat Lainnya

Imaduddin Fadhlurrahman
Imaduddin Fadhlurrahman
Seorang mahasiswa dan santri yang berlokasi di Jogjakarta

Sudah beberapa hari daerah tempat saya tinggal mengalami kelangkaan bensin. Banyak yang mengeluh soal antrean yang menjalar di hampir semua SPBU. Saya mengira kejadian itu hanya berlangsung satu dua hari sebagaimana kejadian yang kerap terjadi. Ternyata lebih dari perkiraan.

Pasokan bahan bakar yang kian menipis di kendaraan mau tidak mau membuat saya harus rela turut masuk ke dalam kerumunan antrean panjang itu. Saya memilih mengantre pada dini hari. Selain tidak panas, harapannya antrean tidak terlalu panjang.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul tiga dini hari. Jalanan masih lengang tak bertuan. Untuk sesaat ada semacam optimisme yang muncul jika antrean bensin pasti pendek. Pasti hanya segelintir orang yang rela bangun sepagi itu hanya untuk mengisi bensin. Awalnya saya berpikir demikian.

Perasaan itu tidak bertahan lama. Kira-kira satu belokan sebelum SPBU, dari kejauhan mulai terlihat titik-titik cahaya lampu motor yang saling menumpuk. Ah, sepertinya firasat saya meleset. Di tengah keterbatasan, sepertinya manusia lebih dari mampu keluar dari kebiasaan.

Mau tidak mau saya tetap masuk ke dalam kerumunan itu. Tidak ada banyak pilihan. Bensin di motor tinggal sebatang. Mungkin bisa saja berharap pada ojek online. Tapi berat rasanya harus merogoh kantong di luar rencana dalam keadaan seperti sekarang.

Di sela-sela menunggu antrean, saya berbincang dengan salah satu pengendara yang bersebelahan. Melihat dari perawakannya, ia seperti sudah terjaga sejak lama. Darinya saya tahu kalau antre bensin bisa memakan waktu paling cepat satu setengah hingga dua jam. Itu pun kalau sedang beruntung.

Baca Juga:  Layar dan Kenyataan: Standar Hubungan di Media Sosial

Pengendara itu mengobrol sambil tertawa receh, seolah sedang membicarakan kejadian biasa saja. Padahal sorot matanya tampak terlihat letih dan kantuk, sama seperti yang saya alami. Yang saya tidak mengerti, mengapa ia bisa begitu lepas bercerita.

Asyik berbincang, saya baru tahu bahwa antrean yang saya masuki ternyata jalur Pertalite. Pengendara itu bilang kalau ingin Pertamax, saya harus pergi menuju ke bagian antrean yang lain.

Selama ini motor yang saya gunakan memang menggunakan Pertamax. Maka dengan terpaksa, keluarlah saya dari barisan menuju antrean baru. Di sini saya kembali memulai dari awal lagi.

Untungnya, kondisi masih sangat pagi sehingga udara yang sejuk cukup mampu meredam emosi yang bahkan belum sempat benar-benar muncul. Keadaan itu juga sedikit terbantu oleh antrean Pertamax yang bergeser lebih cepat daripada antrean sebelumnya. Lima menit sekali motor maju beberapa langkah.

Tidak banyak memang. Tapi, setidaknya tetap bergerak.

Hampir sejaman lebih berada dalam barisan, tiba-tiba petugas SPBU datang untuk memberi tahu bahwa antrean harus dihentikan sementara. Mereka hendak beristirahat beberapa saat. Mungkin sekalian menunaikan salat subuh dan sedikit meluruskan punggung. Antrean akan dilanjutkan kembali pukul enam pagi.

Di titik itu, sejujurnya kesabaran saya mulai habis.

Bayangkan saja, saya telah bangun sejak pukul tiga. Lalu menempuh perjalanan dalam keadaan menahan kantuk. Sudah salah masuk antrean dan harus memulai kembali di antrean yang baru. Giliran sudah mengantre lama, malah harus berhenti.

Baca Juga:  Hifdz al-'Aql: Menangkal Brain Rot di Era Digital

Jika diharuskan menggerutu saat itu juga, saya sudah cukup siap dengan bekal yang ada.

Tetap kepada siapa saya harus meluapkan kemarahan yang dirasakan? Petugas juga manusia biasa. Mereka juga butuh istirahat. Dan seandainya saya marah sekalipun, itu tidak akan mengubah keadaan. Antrean tidak akan bergerak lebih cepat.

Saya jadi membayangkan jika Rasulullah SAW. hidup di zaman ini. Entah nasihat seperti apa yang akan diberikan kepada generasi sekarang. Mungkin masalah yang kita hadapi belum sebanding dengan yang dialami baginda Nabi.

Saya teringat bagaimana Rasulullah SAW menghadapi penolakan dan perlakuan menyakitkan dari penduduk Thaif. Dalam keadaan begitu berat, ketika malaikat menawarkan bantuan untuk membinasakan mereka, Rasulullah tidak memilih membalas dengan kemarahan. Beliau justru berharap kelak akan lahir orang-orang yang menyembah Allah SWT dari keturunan mereka.

Saya kemudian merenungi sesuatu. Sebenarnya kesabaran yang kita pahami selama ini mungkin belum sepenuhnya utuh.

Kita sering mengira sabar itu tidak mengeluh. Tidak membalas ketika disakiti. Tetapi keteladanan Rasulullah di Thaif menunjukkan bahwa sabar itu jauh lebih luas cara memaknainya.

Sabar adalah kemampuan untuk tidak membiarkan keadaan yang menyakitkan mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Mungkin dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, itulah yang saya hadapi ketika itu.

Antrean yang tiba-tiba dihentikan jelas berada di luar kendali saya. Saya tidak bisa memaksa petugas untuk terus bekerja hanya karena ingin segera mendapatkan giliran. Saya juga tidak bisa membuat antrean bergerak lebih cepat hanya dengan menggerutu.

Baca Juga:  Pandemi saat Ramadhan: Sindiran Allah Kepada Hambanya

Ada hal-hal yang memang harus diterima sebagaimana adanya. Dan, di situlah mungkin kesabaran diuji. Bukan ketika semuanya berjalan lancar sesuai keinginan, tetapi ketika sesuatu yang sudah kita rencanakan tiba-tiba berjalan di luar kendali.

Saya lalu menatap lamat-lamat antrean yang ada. Motor-motor masih rapi berbaris. Orang-orang masih mencoba sabar menunggu. Sebagian mungkin sama lelah dan mengantuknya, dan beberapa yang lain sudah mulai terlihat kesal. Tetapi untuk sesaat saya mencoba memandangnya dengan cara berbeda.

Bahwa, kami semua sedang menunggu. Hanya itu. Tidak ada yang benar-benar bisa mempercepat gilirannya sendiri.

Antrean bensin jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabat. Bagai bumi dan langit. Tetapi mungkin pengalaman sehari-hari tetap mampu memberikan pelajaran berarti jika kita mau untuk sejenak memetik hikmahnya.

Saya belajar bahwa sabar bukan sekadar kemampuan untuk menunggu. Sabar juga memiliki makna tentang menerima kenyataan. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita percepat hanya karena kita ingin segera sampai.

Dan, mungkin yang membuat manusia tetap bersabar bukan karena ia tidak memiliki alasan untuk marah. Melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua keadaan harus dibalas dengan kemarahan.

Hari itu, saya belajar sabar dari sebuah antrean.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru