IBTimes.ID – Perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tidak hanya dituntut melahirkan lulusan unggul secara akademik. Di tengah kebutuhan regenerasi Persyarikatan, kaderisasi Muhammadiyah menjadi salah satu agenda strategis yang perlu terus diperkuat melalui lingkungan kampus.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) PTMA Sulawesi Selatan dan Persyarikatan Muhammadiyah Regional Indonesia Timur yang resmi dibuka di Balai Sidang Muktamar, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (25/9/2026). Kegiatan ini diikuti 91 peserta saat pembukaan, bahkan masih berpotensi bertambah karena peserta dari Papua masih dalam perjalanan.
Wakil Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Dr. Faiz Rafdhi menempatkan instruktur sebagai salah satu kunci dalam keberlanjutan kaderisasi Muhammadiyah. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari penguatan ideologi dan proses perkaderan yang berjalan secara baik.
“Dakwah Muhammadiyah tidak akan maju tanpa sumber daya manusia. SDM tidak akan kuat tanpa ideologi, dan perkaderan tidak akan berjalan baik tanpa instruktur yang andal,” ujarnya.
Instruktur Bukan Sekadar Pengisi Pelatihan
Faiz juga membedakan instruktur dengan fasilitator. Seorang instruktur tidak berhenti bekerja ketika kegiatan selesai. Ia memiliki tanggung jawab mengawal rencana tindak lanjut peserta hingga dapat dijalankan di daerah masing-masing.
“Kalau fasilitator selesai acara, selesai tugasnya. Instruktur tidak demikian. Bahkan rencana tindak lanjut peserta harus dikawal. Karena itu, tanggung jawab instruktur jauh lebih besar,” katanya.
Perspektif tersebut membuat kaderisasi Muhammadiyah tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia membutuhkan pendampingan, komitmen, dan kemampuan menghidupkan proses kaderisasi setelah pelatihan berakhir.
Ketua PWM Sulawesi Selatan Prof. Ambo Asse juga mengingatkan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas kader yang disiapkan sejak sekarang.
“Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah. Masa depan Muhammadiyah berada pada kader-kadernya. Karena itu, pelatihan dan perkaderan angkatan muda harus terus dilakukan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Ahmad Muttaqin melihat jaringan PTMA sebagai ruang besar bagi kaderisasi Muhammadiyah. Saat ini terdapat 165 PTMA dengan sekitar 20.000 dosen dan lebih dari 700.000 mahasiswa.
“Kampus tidak cukup hanya unggul di atas kertas. Kampus Muhammadiyah harus berkemajuan, bereputasi, bermartabat, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata,” ujarnya.
Dengan jaringan sebesar itu, kaderisasi Muhammadiyah memiliki ruang tumbuh yang luas. Namun, jumlah mahasiswa dan perguruan tinggi baru akan menjadi kekuatan kaderisasi jika ditopang instruktur yang mampu menggerakkan proses secara berkelanjutan.
“Pertanyaannya, dari potensi sebesar itu kita dapat menghasilkan berapa ribu kader? Para instruktur inilah yang akan menjadi salah satu leading sector dalam produksi kader kita,” katanya.
PINAS di Makassar menunjukkan bahwa kaderisasi Muhammadiyah bukan pekerjaan satu wilayah. Dari Sulawesi Selatan hingga Papua, instruktur dipersiapkan untuk menjaga nyala regenerasi Persyarikatan di tengah luasnya jaringan PTMA dan kawasan Indonesia Timur. (NS)


