back to top
Selasa, September 29, 2026

Sangkan Paraning Dumadi dalam Buku Harian Seorang Buruh

Lihat Lainnya

Suatu ketika saya pulang ke rumah dan menemukan sebuah buku harian tua milik ayah. Halamannya mulai menguning, tintanya sebagian memudar. Di sela-sela catatan tentang pekerjaan sebagai buruh pabrik, saya menemukan tulisan-tulisan yang dibuat sekitar tahun 2001–2003. Masa itu merupakan periode ketika ruang publik Indonesia, pasca Reformasi 1998, semakin terbuka bagi beragam corak gerakan dan pemikiran Islam yang datang dari berbagai belahan dunia.

Yang membuat saya takjub bukanlah kenyataan bahwa ayah mengetahui dinamika tersebut, melainkan bagaimana ia menyikapinya. Ayah bukan seorang akademisi. Pendidikan formalnya hanya sampai SMA, lalu sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai buruh pabrik. Namun, di tengah kesibukan bekerja, ia tetap menulis, membaca, dan merenungkan banyak hal tentang agama serta kehidupan.

Semakin lama saya membaca buku hariannya, semakin saya memahami mengapa ayah tidak mudah terbawa arus ketika banyak orang di sekitarnya sibuk mencari bentuk keberagamaan yang dianggap paling benar. Jawabannya ternyata tidak dimulai dari perdebatan fikih atau organisasi, melainkan dari sebuah falsafah Jawa yang ditulisnya di salah satu halaman.

“Sebuah filsafat Jawa yang mengingatkan kita akan arti kehidupan ini, mengapa Tuhan menciptakan kita dan ke mana arah tujuan hidup kita?” (Buku Harian Ayah) Ayah menuliskan satu istilah yang saat itu masih asing bagi saya:Sangkan Paraning Dumadi.

Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa (2003) menjelaskan bahwa salah satu orientasi penting dalam pandangan hidup orang Jawa adalah memahami asal-usul sekaligus tujuan keberadaan manusia. Kesadaran itulah yang dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi: memahami dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa kelak ia kembali.

Baca Juga:  Atomic Habits: Kunci Membangun Kebiasaan Baik Kurang dari 21 Hari

Saya mulai memahami mengapa ayah mengawali catatannya dengan pertanyaan, bukan jawaban. Bagi beliau, sebelum berbicara tentang benar dan salah, seseorang harus terlebih dahulu selesai dengan pertanyaan paling mendasar: siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana hidup ini akan bermuara.

Di sinilah saya merasa ayah membangun pondasi keberagamaannya. Ia tidak membangun keyakinan dari semangat mengikuti kelompok tertentu, tetapi dari kesadaran akan tujuan hidup. Ketika pondasi itu telah kokoh, berbagai ide, slogan, ataupun cara beragama yang datang silih berganti tidak mudah menggoyahkan cara pandangnya.

Di halaman berikutnya saya menemukan kalimat lain. “Hidup punya dua arah—antara kebatilan dan kebenaran. Kita akan memilih ke mana harus melangkah.” (Buku Harian Ayah) Sekilas kalimat itu terdengar sederhana. Namun setelah membaca keseluruhan catatannya, saya merasa ayah sedang mengingatkan bahwa setiap pilihan hidup selalu berangkat dari cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Ia kemudian menulis,“Dari sebuah filsafat Jawa yang berarti asal-usul kehidupan ini mengandung sebuah falsafah bahwa hidup harus mempunyai rasa sejati, kenyataan sejati, ilmu sejati, dan kebenaran sejati.” (Buku Harian Ayah)

Kalimat itu membawa saya pada satu kesadaran bahwa falsafah Jawa ternyata tidak sejauh yang saya bayangkan dari ajaran Islam. Dalam khazanah Islam dikenal pembahasan tentang al-mabda’ sebagai asal penciptaan manusia dan al-ma’ad sebagai tempat kembali. Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan (1992) menjelaskan bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan kepada Tuhan, tetapi juga kesadaran tentang posisi manusia sebagai makhluk yang berasal dari Allah, hidup mengemban amanah, lalu kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.

Baca Juga:  Spirit Nabi Muhammad Memanusiakan Manusia

Di titik itulah saya melihat adanya irisan antara Sangkan Paraning Dumadi dengan pandangan hidup Islam. Keduanya sama-sama mengajak manusia menyadari bahwa hidup bukan sekadar perjalanan menuju keberhasilan dunia, melainkan perjalanan pulang kepada Sang Pencipta.

Barangkali karena kesadaran itulah ayah tidak pernah merasa perlu sibuk mencari identitas keislaman yang baru. Ia lebih memilih memastikan bahwa apa yang diyakininya benar-benar tumbuh menjadi sikap hidup. Ketika banyak orang larut dalam perdebatan tentang simbol, ia justru berusaha menjaga akhlak dan kebermanfaatan.

Saya teringat pada Mark R. Woodward dalam Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan (1999) yang menunjukkan bahwa pengalaman keberagamaan masyarakat Jawa sering kali bertumpu pada usaha mempertemukan ajaran Islam dengan kebijaksanaan lokal, bukan mempertentangkannya. Tradisi menjadi ruang untuk merawat nilai, bukan menggantikan agama.

Pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari buku harian ayah justru sangat sederhana. Agama tidak selalu bertambah kokoh karena semakin banyak slogan yang kita hafal. Ia tumbuh ketika manusia mengenali asal-usul dirinya, memahami tujuan hidupnya, lalu menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ayah saya mungkin tidak pernah menjadi pembicara seminar atau menulis buku tentang filsafat. Ia hanya seorang buruh pabrik yang setiap hari pulang dengan pakaian berdebu. Namun dari buku hariannya saya belajar bahwa iman yang matang tidak selalu lahir dari banyaknya bacaan, melainkan dari kesediaan untuk terus bertanya: dari mana aku berasal, untuk apa aku hidup, dan kepada siapa aku akan kembali.

Baca Juga:  Warrior dan Praktik Diskriminasi

Mungkin, di situlah makna paling sederhana dari Sangkan Paraning Dumadi. Bukan sekadar mengenang asal-usul manusia, melainkan menjaga agar dalam perjalanan pulang menuju Tuhan kita tidak kehilangan kemanusiaan.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru