back to top
Rabu, September 30, 2026

Kyai Menteri Abdul Mu’ti: Pemimpin Harus Luas, Luwes, dan Adaptif

Lihat Lainnya

IBTimes.ID — Suasana pagi di Masjid Al Hijri terasa penuh semangat ketika Kyai Menteri Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. hadir memberikan Kuliah Subuh dalam rangkaian Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026, Rabu (30/9/2026).

Pemimpin harus Luas dan Luwes

Di hadapan para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengajak para pemimpin pendidikan untuk menjadi pribadi yang luas wawasan, luwes dalam bersikap, serta fleksibel menghadapi perubahan. Menurutnya, kepemimpinan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan jabatan, tetapi membutuhkan kemauan untuk terus belajar, membangun relasi, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Pemimpin yang fleksibel adalah pemimpin yang sukses. Pemimpin tidak boleh lemas, tetapi harus adaptif,” pesan Abdul Mu’ti.

Ia mengingatkan bahwa pemimpin sekolah tidak seharusnya hanya berada di ruang kerja atau berkutat dengan rutinitas administratif. Seorang pemimpin perlu memperluas jaringan, membangun relasi, bertemu banyak orang, serta belajar dari berbagai pengalaman.

Abdul Mu’ti mengutip pesan almarhum Prof. Dr. Malik Fadjar bahwa seorang pemimpin harus “luas dan luwes”. Luas berarti memiliki wawasan yang terbuka terhadap berbagai pengetahuan dan pengalaman. Sementara luwes berarti tidak kaku dalam menghadapi persoalan dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi.

“Luas wawasan, luwes dalam tindakan. Jangan kaku. Karena itu pemimpin harus fleksibel,” tuturnya.

Belajar dari Keberhasilan dan Kegagalan

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya budaya belajar bagi kepala sekolah dan madrasah. Belajar tidak hanya dilakukan melalui buku, tetapi juga melalui pengalaman, praktik baik, dan interaksi dengan orang lain.

Baca Juga:  Covid-19: Ujian Nalar dan Kesadaran

Menurutnya, pemimpin dapat mengamati praktik baik dari sekolah lain, kemudian melakukan inovasi melalui proses mengamati dan memodifikasi sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.

“Belajar tidak hanya dari orang yang sukses. Kita juga bisa belajar dari kegagalan,” ujarnya.

Ia berpesan agar kegagalan tidak selalu dipandang sebagai akhir. Dalam kepemimpinan pendidikan, kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan berikutnya.

Karena itu, Abdul Mu’ti mengingatkan agar seorang kepala sekolah yang menghadapi kegagalan tidak serta-merta kehilangan kesempatan untuk belajar. Evaluasi dan refleksi perlu dilakukan agar pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses menuju keberhasilan.

Pemimpin Harus Memiliki Visi

Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa kepemimpinan harus berangkat dari visi yang jelas. Visi bukan sekadar kalimat yang tertulis dalam dokumen sekolah, tetapi harus diterjemahkan menjadi tujuan, target, dan langkah nyata.

Sekolah dan madrasah Muhammadiyah, menurutnya, perlu memiliki ciri khas dan keunggulan yang membedakannya dari lembaga pendidikan lainnya. Keunggulan tersebut dibangun melalui kepemimpinan yang memiliki visi, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.

Ia juga mengajak para pemimpin pendidikan untuk melihat perubahan sebagai bagian dari perjalanan pendidikan. Setiap perubahan yang direncanakan dan dilakukan secara sungguh-sungguh dapat memberikan dampak terhadap kemajuan sekolah, bahkan berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan bangsa.

Tajdid dan Semangat Memajukan Pendidikan

Dalam perspektif Muhammadiyah, semangat pembaruan atau tajdid menjadi salah satu landasan penting dalam menghadapi perubahan. Abdul Mu’ti mengajak para pemimpin sekolah dan madrasah untuk terus membuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.

Baca Juga:  “Memanipulasi” Ajaran Agama

Sekolah/Madrasah Muhammadiyah yang unggul tidak hanya dibangun melalui sarana dan prasarana yang megah, tetapi terutama melalui kualitas kepemimpinan, budaya belajar, karakter, inovasi, serta kemampuan membaca tantangan masa depan.

“Sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus terus belajar dari berbagai macam tantangan,” pesannya.

Kekuatan Muhammadiyah: Kedermawanan

Menutup Kuliah Subuh, Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya menjaga karakter kedermawanan sebagai bagian dari identitas warga Muhammadiyah.

Ia menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki tradisi kedermawanan yang kuat. Semangat berbagi dan kepedulian sosial perlu terus dirawat, termasuk melalui kebiasaan berinfak dan mendukung gerakan filantropi Muhammadiyah melalui Lazismu.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keunggulan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik, tetapi juga dengan karakter, kepedulian, keteladanan, dan kontribusi sosial.

Kuliah Subuh bersama Kyai Menteri Abdul Mu’ti menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026. Dari Masjid Al Hijri, para pemimpin pendidikan Muhammadiyah diajak membawa pulang satu semangat menjadi pemimpin yang luas wawasannya, luwes sikapnya, fleksibel menghadapi perubahan, berani belajar dari kegagalan, dan konsisten mewujudkan visi pendidikan yang unggul.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru